when were still young

Masa masa itu mungkin sangatlah indah bagi kita, di mana seolah dunia memang ada di pihak kita, dan kitalah seorang pemenang, kita hidup tanpa identitas diri yang pasti dan sebagian dari mereka berbisik dalam hati, dengan  bangganya “ini idealisme bung…!”

Waw betapa hebatnya kita, dan kita sangat keren,.. bahkan terlalu keren buat para lawan jenis, hey para wanita..! hey pria,..! its me, yang kalian lihat adalah rockstar baru bertabur bintang bukankah kami adalah pilihan kalian semua, sesuatu yang kalian idam idamkan dalam mimpi mimpi kita yang mempesona.

Sebagian dari kami hidup untuk berjuang, ya…! Berjuang demi terwujudnya sebuah mimpi, simpel dan menggebu gebu yaitu “merubah dunia”, sebagian dari kami sibuk dengan teori teori dari buku buku yang mereka baca, dan sebagian yang ini berani berdiri tegak dan berkata bahwa kamilah yang lebih pintar, karena kami adalah generasi genius yang menerapkan logika menjadi bahan bakar semangat dan motivasi yang meledak ledak.

Ya..! kami adalah generasi terbaik yang telah di lahirkan zaman, karena itu pula sebagian dari kami gemar mencemooh, mencemooh apa saja, bahkan mencemooh generasi generasi sebelumnya, dan tentunya sebagian dari kami gemar melakukan kesalahan kesalahan yang sama, dan bangga dengannya. Berulang kali dan hal hal yang sama seperti itu seolah menjadi bius kenikmatan sebagian dari kami, dan tiap kenikmatan tersebut bertambah berkali lipat, berkali kali lagi ketika kami selalu melakukan kesalahan yang sama

Dan sebagian dari kami terpecah belah, saling memusuhi, saling mementingkan kelompoknya di banding dengan kelompok yang lain, beradu fisik, berpikir kami yang lebih benar, kami yang lebih hebat, menghormati kebebasan adalah  hal yang tabu, karena kami terlalu sibuk dengan ego kami yang mulai terbentuk.

Aku tak dapat menyangkal ketika ada di antara kami yang menuhankan diskotik, menjadikan mall ata bioskop menjadi tempat ibadah bagi agama mereka, menjadikan rockstar atau disc jockey sebagai nabi yang membawa kenikmatan dan pelampiasan emosi – emosi terpendam mereka, foya foya merupakan ajaran agama mereka, konsumtif adalah sedekah mereka, dan mereka cukup senang dengan semua itu, dan mereka dengan bangganya berkata life is all about freedom, and its just for one time, so….lets do it all!!

Tapi sebagian dari mereka, benar benar berkarya, membimbing sebagian lainya yang lalai, meng edukasikan ilmu, dan memberikan sedikit angin perubahan bagi lingkungan yang kecil, men, dayalakan lilin di tengah kegelapan, dan memberikan harapan bagi mereka yang penuh harap kemada mereka

Dan akhirnya ketika kami mulai menua, kami harus belajar mengalah, belajar untuk menjadi bijaksana, belajar memikul dan mempunyai tanggung jawab, karena kami bukan lagi seorang yang bermimpi menjadi pemimpin, karena kami telah menjadi pemimpin pemimpin itu, minimal memimpin diri kami sendiri, memimpin diri kami sendiri agar tidak terjerumus ke lembah yang sama, dan membimbing generasi baru yang akhirnya memperolok olok kami

Ah andai saja aku bisa kembali ke masa itu, it will be sweet,

Sebodoh apapun kami waktu itu, senakal apapun kita, aku hanya bisa tersenyum mengenangnya, ini akan menjadi kisah termanis ketika kita telah senja

Photograph   suryo ardi a.k.a mcftmrtshn (mortishen.deviantart.comtools Canon Powershoot Digital Pocket Camera, Photoshop Cs3 Scene with  iin “mumu”, erru, aftermay Year  2007

 

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: