call me happyness

When all is said and done, the one sole condition that makes spiritual happiness and preserves it is the absence of doubt (Mark Twain)
 

mcfat mortishen – mortishen.deviantart.com

 ——————————

yeah aku hanya duduk menanti waktu berjalan, butir – butir asa telah berguguran, tetapi ketika sejuk datang, dan sang kabut membisikkan nyanyian malam, dan buaian senja kemarin membawaku ke sebuah sebuah ruang, sebuah ruangan kecil, dan di sana ada anak kecil yang membawakanku secangkir coklat panas dan kita pun dapat tertawa, di mana ini aku sebut dengan “bahagia”

Sebenarnya cukup sederhana jika berbicara tentang kebahagiaan. Aku bahagia, dan dia tidak, mereka bahagia dan saya tidak bahagia, dan saya terus berputar – putar sendiri di anekdot yang itu –  itu saja, lalu seperti bagaimanakah standarisi kebahagiaan kamu?, bisa jadi kamu merasa bahagia ketika kamu bisa memberikan seseorang setangkai mawar di sebuah malam dan kamu di sambut dengan senyuman manis sang pujaan hati, dan kamu bisa merasa bahagia, atau seorang ibu dengan air mata di pipinya sambil tersenyum manis menyaksikan anak kesayanganya wisuda, atau kamu baru saja di terima kerja di tempat kerja yang sudah kamu cita – citakan?

Sulit bagi saya untuk mendeskripsikan makna bahagia di tengah justru saya harus bingung, saya ini bahagia atau tidak? So kalau bahagia itu tentang bagaimana kita bisa tertawa lepas dengan hilangnya berbagai macam beban – beban, setidaknya menurut saya bukan berarti kita tidak memiliki beban sama sekali untuk harus bahagia, karena memang bukankah kita masing – masing memang terbebani dengan masing – masing pola hidup yang beraneka ragam, dan kita masih bisa merasakan satu kata “bahagia”, dan kita harus bisa bangga karena menyadari bahwa betapa hebatnya kita, karena bagi saya bisa “berbahagia” saja sudah sangat mengagumkan

Terkadang manusia memaknai bahagia ketika semua yang diinginkanya telah tercapai, mendapatkan apa yang diinginkan tetapi tidak dalam kasus teman saya, sebut saja Rama, yang akhirnya di terima menjadi seorang pegawai BUMN, tetapi keseharianya di rundung rasa sepi, karena dia di tugaskan jauh dari rumah dan teman – teman sepermainanya, jauh hingga melintas pulau dan provinsi, sehingga beberapa kali seorang Rama yang saya justru harusnya belajar banyak dengan dia karena standarisasi kesuksesanya menurut pola fikir manusia awam tentunya, harus menelfon saya dan berkata bahwa dia kesepian. So saya berkesimpulan jika apa yang kita inginkan belum tentu buat kita bahagia

——————————————————-

laughing Meet me in the crowd People people Throw your love around Love me…(shinny happy people – R.e.m)

——————————————————-

Berbeda dengan seorang teman lagi, sebut saja Fendy, yang bisaa hidup dengan menjadi dirinya sendiri, tidak hanya dari segi berpenampilan, boots dia, piercing dan tattoo, dan pakaian hasil sablonanya sendiri, yang mencoba menjalani kehidupan hanya dengan menjahit dan mensablon, dan membeli sebotol bir untuk merayakan malam dengan canda tawa bersama teman – teman, dan saya dapat melihat bagaimana anak ini benar – benar bisa menikmati bahagianya hidup, dengan menjadi dirinya sendiri

Standart kebahagiaan kita bukan mutlak sama dengan standart bahagia orang lain, apa yang mereka pandang bukan sebuah inspirasi besar atau hal – hal sederhana yang terlupakan justru bisa membuat kita lebih bahagia, lalu di mana peran uang, apakah uang masih bisa di kambing hitamkan dalam teori bahagia, bisa jadi! tergantung bagaimana kita bisa mendapatkan dan memanfaatkan uang tersebut, tetapi ada pula statement, tidaklah selamanya uang dapat membeli kebahagiaan, karena tidak selamanya hidup dalam sangkar emas itu merupakan kehidupan yang menyenangkan

Mengenai uang, mungkin kebanyakan orang mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkanya, baik mengorbankan keluarga, waktu, bahkan dirinya sendiri, lalu apakah dengan mengorbankan semua yang buat kita bahagia itu justru bisa mendatangkan kebahagiaan yang lebih? Tentu tidak pendapat saya, kebahagiaan itu datang bisa karena pengorbanan, tetapi bukan dalam pengorbanan, karena jika kita berbahagia dalam keadaan “berkorban”bagi saya itu bukan mutlak “bahagia” akan tetapi saya sebut itu “sejenak melupakan kesusahan” kita, dan kita tidak bisa berbahagia dalam keadaan seperti itu.

Jadi apa yang orang lain maksud bahagia, belum pasti menjamin kebahagiaan kita, apa yang menjadi standarisasi kehidupan orang lain tidak pula bisa di jadikan tolak ukur bagaimana kita harus hidup, karena setiap orang mendeskripsikan kata “bahagia” dalam bahasanya masing – masing, seperti kemajemukan yang universal, bahasa – bahasa bahagia itu berlau dalam kehidupan bersama yang beriringan ini. Yah belajarlah bahagia menurut deskripsi masing masing, karena bahagianya orang lain belum tentu buat kita bahagia.

Stay on on your happyness

========================================================

Iklan
Tinggalkan komentar

6 Komentar

  1. Nah. Ini. Dulu saya mikirnya yang penting saya punya duit. Kalau punya duit saya bisa membeli barang2 yang bisa membuat saya bahagia, seperti buku, gadget, baju, dll deh. Tapi, sekarang ketika sudah bekerja pandangan saya berubah. Yang bikin bahagia gak melulu soal duit. Tapi, bekerja sesuai dengan passion saya. Begitulah. 😐

    Balas
    • lunaticmonster

       /  Oktober 14, 2012

      life is only one and for one time so if youre not feel fun that the mean “you have no life”
      sama saya juga perfikiran seperti itu, sekitar 2 tahuna n bekerja di perusahaan swasta yang job desknya enggak sesuai dengan siapa kita juga terkadang berfikir juga, buat apa aku ngelakuin semua ini tapi bawaanya setiap harinya di rundung stress, duitnya emang dapat, tetapi membeli kehidupan kita yang cuma sekali jitu yang terkadang sulit, makanya bahagianya bagi mereka yang bisa hidup dengan cara mereka baik dengan skillnya ataupun yang bisa menghasilkan duit, tetapi hidupnya tetap bahagia, tapi yang namanya pola pikir selalu aja beda beda, seenggaknya inilah yang saya pikirkan… hehe regard,

      Balas
  2. Ely Meyer

     /  Oktober 15, 2012

    bahagia khan bisa diciptakan sendiri ya 🙂

    Balas
  3. Yep! Setuju. Paramater bahagianya orang memang berbeda-beda.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: