aku hanya sebuah kursi kayu tua..

———————————————-

Terasa masih olehku sapuan kuas oleh pak pengrajinku dulu, aku dulu bernyanyi – nyanyi riang saat kuas – kuas itu di sapukan ke tubuhku, Lagi – lagi aku cukup bangga, karena aku tau bahwa aku di pesan oleh pihak sekolah, betapa senangnya aku, karena aku merasa aku adalah sepotong kayu yang sangat berguna

———————————————-


Aku hanya sebuah kursi kayu tua, yang telah di makan rayap. Tergeletak begitu saja, di gudang gelap di sebuah sekolah, di biarkan kosong dan lembab, temanku di gudang ini hanya bendera sekolah usang, tiang bendera yang telah rapuh, lemari lemari karatan, dan beberapa papan tulis kayu yang sudah tidak di gunakan lagi. Yah di sinilah aku menghabiskan masa tuaku, dengan mereka – mereka yang juga sudah tidak di pakai lagi jasanya, padahal mereka dulunya adalah teman – teman yang telah membesarkan nama sekolah ini dengan jasa – jasanya, telah banyak membantu mengajarkan anak – anak manusia yang belajar di sekolah ini, untuk dapat memahami banyak pelajaran berharga.

Aku dulunya cukup bangga, ketika aku di buat puluhan tahun silam, oleh seorang tukang kayu, aku masih teringat rasanya menjadi satu kayu yang utuh, kemudian di potong – potong sedemikian rupa, di buat elok, di polesi cat yang bagus. Terasa masih olehku sapuan kuas oleh pak pengrajinku dulu, aku dulu bernyanyi – nyanyi riang saat kuas – kuas itu di sapukan ke tubuhku, Lagi – lagi aku cukup bangga, karena aku tau bahwa aku di pesan oleh pihak sekolah, betapa senangnya aku, karena aku merasa aku adalah sepotong kayu yang sangat berguna untuk di jadikan sebuah kursi di sekolah, dan aku membayangkan aku akan menjadi tempat duduk buat anak – anak bangsa ini yang akan belajar menuntut ilmu, menemani mereka di jam sekolah, ah, aku senang sekali…aku terlalu senang dengan harapan itu sehingga aku terus bernyanyi bersama teman – temanku yang juga sedang di cat tubuhnya.

Dan kami pun akhirnya di angkut ke sekolah, kami bersama – sama berpamitan dengan bapak pengrajin kami, dan kami terus benyanyi – nyanyi sepanjang perjalanan di atas bak mobil terbuka yang berjalan melaju di jalan raya. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah sekolah bernama SLTPN Harapan Bangsa, dan sama seperti pemikiranku sebelumya, terus terpikir olehku kami akan menjadi salah satu benda yang berguna untuk mencetak mereka – mereka yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Sesampainya di sekolah itu, kami diangkut ke dalam lokal atau ruangan yang masih baru, yang akhirnya kedepanya aku mengetahui bahwa ini adalah kelas bagi murid baru atau murid kelas 1 sekolah menengah di sekolah ini.

Beruntung, aku di letakkan tepat di tengah di urutan paling depan di kelas, dan beberapa temanku banyak yang iri denganku, karena mereka ada yang di letakkan di belakang atau di pojok kelas, dan aku hanya tersenyum kecut dengan mereka, mereka iri karena biasanya anak yang duduk di bangku terdepan adalah anak yang pintar, dan kami sangat tidak sabar menunggu hari sekolah di mulai, ah, seperti apa ya anak yang akan duduk di atasku ini untuk yang pertama kalinya, apakah anak yang pintar, atau justru anak yang paling bandel.

Dan pada akhirnya pun hari yang di tunggu tiba, saat itu masih pagi, dan aku baru saja terbangun, suara riuh di luar kelas, mereka berebutan antri untuk melihat daftar nama di depan kelas, beberapa dari mereka masih membawa orang tuanya, tetapi kelas belum juga di buka, mereka masih mondar mandir di lorong depan kelas, dan akhirnya tepat jam 07.30 ruangan kelas pun terbuka, beberapa anak menyerbu bangku favouritnya masing – masing, ada yang memilih duduk di pojok, ada yang sengaja memilih di belakang, tetapi belum ada anak yang duduk di atasku, huh! Aku sempat menggerutu, memangnya tidak ada apa anak yang suka posisiku duduk!, akan tetapi belum selesai aku menggerutu, seorang anak perempuan, dengan rambut sebahu yang dating dengan temanya akhirnya berkata “kita duduk di depan aja ya… semua bangku sudah penuh”. Dia duduk di atasku, dan temanya duduk di sampingnya, ya mereka sebangku. Dan akhirnya aku pun tersenyum, sampai akhirnya aku mengetahui nama anak yang duduk di atasku ini namanya “Putri”.

Hari berganti, terus menerus, aku cukup senang dengan Putri duduk di atasku, Putri anaknya pintar, walau terkadang masih suka manja, dan tidak pernah pindah tempat duduk, dan kemudian tahun pun berganti, telah banyak anak – anak lain yang duduk di atasku, ada anak laki – laki maupun perempuan, ada yang nakal, ada yang pendiam, ah, betapa senangnya aku, ketika mereka bisa berprestasi, tetapi tidak heran juga ada anak yang pernah tidak naik kelas duduk di atasku, tetapi aku tidak lah kecewa, namanya juga anak – anak , biasalah mungkin mereka masih labil, dan masih mau bermain atau mungkin mereka agak kurang pintar, tetapi semua itu merupakan kesan yang mendalam bagi ku, betapa senangnya ketika menetahui atau mendengar selentingan kabar bahwa anak  yang dulu duduk di atasku kini menjadi guru, atau insinyur, ada yang sering di muat di majalah – majalah baik sebagai model ataupun tokoh, juga narasumber, tetapi tak jarang aku mendengar anak yang pernah duduk di atasku ini menjadi pelaku kriminal, wah kalau seperti aku juga kecewa, karena aku di sini harusnya membantu mereka menjadi apa yang mereka cita – citakan bukan sesuatu yang di benci orang awam.

Masih banyak kisahku di kelas itu, kisah – kisah edukasi sebuah ruang kelas, di mana melihat mereka tertawa, di marahi gurunya ada yang tidur di meja, diinjak, ah semuanya sudah aku rasakan, setiap hari merupakan hari baru dan setiap hari baru membawa sebuah kesan, sebuah harapan baru, anak – anak ini dan semua tawa mereka, candaan nakal mereka, coret coret di tubuhku masih membekas, ada coretan tipe x, pulpen dan pinsil dan semua coretan iseng anak-anak ini, kenangan manis buatku sampai sekarang masih ada, ya, aku adalah sebuah kursi di sebuah kelas dan siapa saja yang ada di sana, sampai akhirnya kurang lebih tiga puluh tahun berlalu dari pertama kali aku di bawa ke sekolah itu, dan pihak sekolah berencana meremajakan semua alat – alat belajar di sini, mengganti kami – kami yang telah reyot ini dengan kursi dan meja yang  lebih baik, dan kami harus rela untuk di pensiunkan, menjadi barang tak berharga yang terlupakan, tak berfungsi dan di makan rayap.

Kalau saja aku punya mata mungkin air mataku tak akan dapat terbendung ketika kami harus diangkut oleh anak – anak itu dalam sebuah kerja bakti di sekolahan, ya, aku yang dulu jadi tempat duduk anak – anak belajar dan mengantarkan mereka menuju cita – cita mereka harus rela di pensiunkan, serasa tidak rela aku berpisah dengan kelas – kelas ini, dengan meja – meja ini, terutama dengan anak – anak yang senang untuk belajar , aku serasa masih ingin melihat mereka bercanda, “tolonglah setahun lagi saja atau mungkin sebulan saja” kalau aku bisa berteriak memohon, aku masih berat, kelas ini merupakan hidupku, dan teman temanku pun sama, mereka sangat teramat berat berpisah karena telah mendiami kelas – kelas itu puluhan tahun.

Dan akhirnya aku hanya tergeletak di gudang ini, tua reyot  rapuh dan gelap, tanpa ada candaan anak – anak, tidak ada suara guru yang mengomel, hanya ada tikus2 dan kecoa, dan aku harus menerima takdir ini. Gelap, tetapi setidaknya aku bisa menceritakan kisahku yang heroik, sebagai tempat duduk anak – anak manis yang ingin menuntut ilmu, mengiringi waktu berjalan, dan segala macam kisah di sebuah kelas, aku senang sudah bisa mengantarkan mereka menuju mimpi-mimpi yang nyata sekarang, setidaknya aku pernah berguna, dan setidaknya apa yang kami harapkan berpuluh tahun lalu sudah tercapai, dan mungkin waktunya aku beristirahat, dan berharap anak – anak yang belajar di kelas itu juga dapat mewujudkan mimpi mimpinya kelak.

Mcft mortishen – oktober 2012 “sebuah personifikasi”

========================================================

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

4 Komentar

  1. 'Ne

     /  November 10, 2012

    asyik ya membuat tulisan semacam ini.. 😀

    Balas
    • yah mungkin hal-hal sepele di sekitar kamu punya kisah heroisnya masing – masing, cobalah dengar bahsanya lalu kamu ungkapkan…(wah ngomong apa saya…hehe)

      Balas
      • 'Ne

         /  November 10, 2012

        iya saya biasa juga suka menulis sebagai mereka (benda mati), pernah saya menulis sebagai kamar saya namanya Menara Hijau dan dia bercerita banyak haha..

        entah ya suka aja ketika menganggap mereka juga punya jiwa.. 😀

      • mereka sebenarnya memang punya jiwa, dan kitalah yang menjadi penterjemahnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: