idealisme, bukan egoisme! bedakan!

2012-12-05-10-57-34

“Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik”

**** 

Terkadang sulit memahami sebuah pola pikir sesorang yang cenderung kontradiktif dengan latar belakangnya sendiri, kalau saja seorang punk rocker sekelas Milo Aukerman, Greg Graffin atau Dexter Holland  tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik, mungkin saya dulu sewaktu masih duduk di bangku perkuliahan merupakan mahasiswa yang masih mengikuti para hipster tua dan maniak organisasi yang katanya idealis itu untuk memperlambat tahun kelulusan saya.

Membaca sebuah issue di publikasi media lokal kemarin,saya sebagai seorang alumni perguruan tinggi tersebut sempat mengingatkan saya jauh pada saat saya baru mengenakan almamater dan di mana kita di kenalkan dengan lingkup politik di sebuah universitas, dan mau tidak mau dan kalau boleh di bilang terpaksa, ya saya jalani, ya,sebagai anak bau kencur saat itu saya pernah menjalani hari-hari sebagai aktivis di mana para senior yang sangat rajinya mengkaderisasi kami si bau kencur, dan mengkoordinir di setiap aksi-aksi,

Bukanya tidak begitu peduli, memang dasarnya saya yang tidak tertarik, tentunya saya melakukanya dengan setengah mata dan senyuman kecut, berkumpul dengan aktivis senior penyuka lagu-lagu top fourty dengan segala macam penampilanya yang lebih mirip seorang penyanyi genre melayu berpadu dengan atribut bluesy yang berkiblat ke eranya axl rose yang seram-seramkan, sangat tidak membuat saya betah,

Idealisme memang wajar berbunga di sana-sini dalam sebuah retorika kampus, saya setuju dan sangat memahami itu, berpegang kepada nilai-nilai demokratis, penyampaian aspirasi memang hal lumrah, akan tetapi  kalau sampai mengesampingkan esensinya sendiri tentang posisi kita di suatu perguruan tinggi itu untuk apa, tentunya tidaklah akan lahir Milo, Greg atau Dexter holland yang lainya di atas muka bumi Indonesia itu, bahkan idealisme tanpa akal sehat itu sama saja bunuh diri dan siap-siap saja jadi bahan tertawaan di warung kopi dan elusan dada miris seorang anak jalanan yang notabene tidak bisa menyentuh bangku perkuliahan karena kekurangan dana,

Mungkin harus ada takaran ideal untuk menjadi seseorang yang kritis, untuk menjalankan idealisme anda tidak perlu menjadi egois, karena pemikiran yang di dasari egoisme cenderung keluar batas kewajaran, karena setiap statement anda, seprovokatif apapun walau memiliki kekuatan realitas yang mutlak tetap terdengar sangat dungu, hal ini yang justru membuat sebuah sisi oposisi mudah untuk memutarbalikan keadaan, dan audiens dapat menilai itu.

Sepertinya bukan barang kemarin sore kalau kita mengetahui seberapa banyak mereka yang tak sanggup menuju dan mengenyam bangku perkuliahan, tak sedikit dari sebagian dari rekan-rekan yang mengorbankan barang-barang berharga hanya sekedar ingin mempunyai gelar, walau kelak berguna atau tidak gelar mereka yang penting perubahan pola pikir merupakan keutamaan, sebuah kebanggaan bagi mereka yang jauh-jauh merantau hanya untuk membanggakan orangtua mereka. Akan tetapi sebagian dari mereka mengorbankan egoisme fasik berlabel idealisme, ini bukanlah hal yang bijak, sama seperti  fundies fasis yang mengecam konsernya lady gaga, niat baik dengan cara yang salah merupakan hal konyol dan omong kosong.

Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dimana bangsa kita masih membutuhkan sebanyak mungkin kaderisasi yang edukatif, sebanyak mungkin yang bisa di produksi, berbahan bakar sebuah harapan dan cita-cita di situlah peran mesin diesel yang memutar gerigi-gerigi yang tak lelah-lelahnya memproduksi kaum intelektualis yang akan menggerakkan perekonomian, memberikan lapangan pekerjaan atau sekedar figuran kehidupan semu di kehidupan kalian semua.

Boleh saja kalau mau muak dengan sistem dan merupakan hal legal kalau ingin bersuara banyak, akan tetapi bersikaplah dewasa, karena umur kalian tidak bisa di bilang anak-anak lagi, bukan seseorang manja yang kalau tidak di beri permen akan mogok makan, ingat, idealisme tidak harus memaksakan egoisme, kalau memang tidak mau repot atau di repoti dengan persoalan akademisi, mending hijrah saja, silahkan masukan CV kalian ke leasing atau perusahaan sawit yang lebih butuh tenaga instan, tetapi kalau mau turun jauh mengkritisi, lakukan dengan hormat, lakukan sebagai seorang dewasa intelektual yang punya harga diri

Meskipun saya bukan seorang aktivis, dan dulu saya lebih sering menuliskan ketidaksukaan saya dalam bentuk zine yang tersebar, sebuah propaganda satir yang berbahasa sarkasme yang tercopy hingga ratusan buah, mulai dari kampus, sekolah hingga distro-distro dan warung kopi,  yang mengungkapkan sebuah makna amarah dalam diam, kesalnya saya dengan ulah pekerja tata-usaha sampai objektifitas dosen dalam memberi nilai, kita boleh marah asal tidak merugikan orang lain, apalagi justru membuat kita terlihat lebih dungu dari status kita sebenarnya, bukan itu hakekat dari sebuah perjuangan, bahkan sampai sekarang saya masih senang menuliskan apa yang saya lihat, karena bagi saya Nyala lilin itu redup, tetapi cukup untuk menerangi ruangan di kala gulita, dari pada membakar rumah sendiri hanya untuk menerangi seluruh desa.

========================================================

Iklan
Tinggalkan komentar

5 Komentar

  1. Serius tulisannya:p

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: