suara media massa bukan suara rakyat

uprock83 – doc

Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa   ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu”

******

Saya termasuk salah satu yang cukup update dengan tulisan-tulisanya Herry Sutresna,  baik berupa blog maupun media lain, mengingat saya juga penggemar hip hop 90an dan beliau mengetahui banyak skena hip hop era 80an di mana di era itu saya masih balita. Walau tidak semua referensi beliau cocok dengan kuping dan passion saya tentunya, well, kesempatan baik membaca sebuah tajuk dari newsletternya mas Herry – Uprock83, “suara rakyat bukan suara tuhan”, sebuah opini yang membuat saya juga ingin berpendapat, yeah saya mengamini tulisan mas Herry sendiri, saya kasih point 100 untuk artikel ini, setidaknya ini menghapus dosa – dosa beliau dengan beberapa artikelnya yang menyebalkan,

Mengutip pendapatnya Christipher R Weingarter yang berpendapat twitter merupakan perwakilan mayoritas yang bukanlah parameter musik yang layak dengar dan mengesampingkan siapa itu Jay Z dan Kanye west dalam artikel beliau yang notabene saya kurang mengenal musik mereka selain dari tajuk billboard dan media seperti Yahoo dan MTV, maka tidaklah salah ketika saya berpendapat jika media massa (tv, radio, majalah- majalah trendsetter dan musik dan lainya) merupakan salah satu biang kerok lahirnya mainstream yang di sebut industri musik, dengan menggenalisir selera musik secara umum dan mempromosikan trending fashion-fashionnya secara berlebih-lebihan, bertubi – tubi sehingga secara tidak langsung mendoktrinasi audiens untuk menjadi bagian dalam kesatuan trend yang tumpang tindih dan kurang jelas, bahkan sangat buruk.

Memang ada baiknya ketika media di jadikan sebagai objek ajaib yang menyuguhkan berbagai macam hal – hal edukatif sampai informasi terkini dan pengetahuan, tetapi peran komersialisasi media di dunia showbiz dan entertaintment justru menjadikan bom nuklir yang mengkontaminasi, seribu kali lebih parah dari reaktor nuklir di chernolbyl, yang tak hanya melahirkan mutant – mutant hidup dalam fisik yang normal, dan kita masih saja sampai di cekoki oleh hal – hal mainstream tersier seperti acara gossip, pencarian talent bakat, reality show sampai acara musik lipsync yang membuat dahi berkerut dan tak henti – hentinya saya terkadang mengumpat, “apa sih mutunya acara kaya gini,…tontonan apa ini..?”

Tidak habis berpikir saya, Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu yang di penuhi oleh artis – artis berpengetahuan pas – pasan yang tak lelah – lelahnya berdendang lagu cinta – cintaan, dan bersinergi dengan mainstream yang memfatwakan bahwa masa bercinta itu adalah masanya anak muda lalu puas – puaslah bercinta, ouw, whats on earth cunt shit folks!

Keping – keping domino pun terus berjatuhan hingga akhirnya saya bakal kebosanan sendiri ketika mendengar radio, lagu yang sama, jenis yang sama dan entah bagaimana rasanya menikmati lagu yang mendayu – dayu yang konon di gemari oleh ABG itu, dan saya cukup merasa bersyukur bukan lagu seperti inilah yang di dendangkan pejuang – pejuang kemerdekaan dulu, apa jadinya jika band – band semodel d,massive, sm*sh atau kangen band apalah itu sudah ngetop di jaman penjajahan, dan saya tidak cukup yakin Negara kita bisa menjadi merdeka.

Lalu kepingan domino berlanjut menghantam mentalitas pemuda, pemuda itu seharusnya menjadi pioneer pergerakan dan indikator tonggak pembangunan, bukan manusia yang dijadikan apatis dengan konsumsi yang menjadi formula pemikiran serba praktis, gak mau hidup susah tapi gak mau susah – susah, cukup berharap jadi selebritis hanya dengan ikutan talent show,atau upload video di youtube dan casting selebritis berisi pepesan kosong mimpi selebrita yang mendisplaykan kepopuleran dan uang yang jatuh dari langit dalam waktu satu malam, tak sedikit kisah yang berakhir dengan gilanya sang selebritis gak jadi itu dengan amblasnya uang puluhan juta, dan saya hanya bisa geleng – geleng dan berkata, yah memang mimpi, tapi itu mimpi buruk…selamat..hahaha!

Apa yang di beritakan media bukan presentasi kondisional dari seluruh audiens yang ada, bahkan mungkin tidak setengahnya bahkan seperempatnya, mungkin pendengar radio tidak seluruhnya menyukai band-band melayu jaman sekarang, karena ya hanya radio itu yang punya statement kalau lagu seperti itu merupakan lagunya anak muda jaman sekarang,…wow! Seolah tidak punya pilihan media – media seperti ini yang mensetting pola pikir audiens, mungkin separuh pendengar radio sangat menanti track – track dari metallica, the beatles, the cure atau bahkan John Denver, yang justru track seperti itu sangat jarang di era semua volume mendendangkan, “baby-baby”,” you know me so well” atau tracknya tetangga saya sekarang yang dengan pedenya memutar keras – keras “Seringkali kau merendahkan ku. Melihat dengan sebelah matamu. Aku bukan siapa-siapa. Selalu saja kau” dan sekarang saya harus men-turn up kan amazing gracenya dropkick murphys yang jadi penawar kontaminasi polusi suara akibat musik tetangga saya itu

Dan akhirnya blok-blok domino yang berjatuhan pun menuju reruntuhan paling akhir, yaitu filter diri sendiri, karena kita merupakan end user dari sasaran komersialisasi tersebut, kita tahu itu buruk dan kita juga bukan mutant hasil dari reaksi kimia berlebihan efek ledakan nuklir – nuklir dari selongsong senjata atomik yang saya sebut “media”, siapapun boleh mengkritisi dan siapapun boleh tidak sepakat, asal kita juga lebih tahu efek yang di hasilkan, dan harusnya kita juga yang faham betul bahwa media hanya media saja, sebuah objek bisnis yang berpegang pada prinsip ekonomi umum, mereka mencari untung sebanyak banyaknya dengan menjual hal – hal murahan yang kemudian memetamorfosekannya trend dan mempropagandakan bahwa itulah yang sedang jadi standart di kehidupan kita, lalu sampailah kepada kita yang akan ikut dengan arus tersebut atau tidak, cukup katakan “tidak suka” kalau memang tidak suka, karena suara mereka bukan merupakan mutlak suara kita. so…? To be infected or be filtered..?

========================================================

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

21 Komentar

  1. Ah siapa bilang suara media massa suara rakyat. Suara media massa bisa dibeli. Bahkan, kadang suara media massa yang menyetir suara rakyat. 😀

    Balas
  2. 'Ne

     /  November 10, 2012

    suka dengan tulisan ini 😀

    Balas
  3. Pencarian jatidiri dihadang kuatnya benteng kapitalisasi menjadikan generasi muda limbung tak tentu arah, diperparah dengan kehilangan figur yang bisa jadi teladan menyebabkan apapun yang “kata orang” disebut trend maka “trend” itulah yang jadi figur teladan. Tulisan yang inspiratif dengan kalimat yang mengalir enak dibaca. Makasih Sob.

    Balas
    • masih mending kalau figur teladanya itu orang yang inspiratif dan edukatif, kalau sekedar mengidolakan “lifestyle” ala media dengan aktor-aktor ala lifestyle dan showbiz, bisa hamsiong waaaa, gak heran anak sekarang hobi pose di mobil sambil pake kacemata item dan di pajang di facebook atau twitter…haha

      Balas
  4. membanding-bandingkan kehidupan yang lalu dengan kondisi yang sekarang, keterlibatan media lah penyebabnya. Yah kita yg hidup di masa lalu, nggak mesti menyalahkan gaya hidup masa kini.
    Bicara media, saya masih bersikap suara media adalah masih suara rakyat. Alasannya, dengan media masyarakat telah melek di segala lini meskipun belum sepenuhnya. Dengan media, orang mulai melek politik, teknologi, ekonomi, nasionalime, budaya dan lain sebagainya. Meskipun media itu sendiri punya kepentingan terselebung dalam penyampaian informasinya, tetapi manfaatnya lebih banyak ketimbang mudharatnya.
    Nice post dan terus semangat ngeblog bang 🙂

    Balas
    • sepertinyanya di sini saya enggak membahas masalah-masalah ekonomi, sosial dan politik atau teknologi deh, cuma hanya pada sisi yang menggeneralisir peran media terhadap mental dan lifestyle secara keseluruhan, soalnya media itu yang mengenalkan budaya hedonisme, track musik yang gak layak dengar, reality show dsb, yang sampai sekarang gak lelah-lelahnya membombardir ruang audio visual dengan k-pop nya, musisi sekali pakai, sampai penyanyi kelas lipsync dan mungkin beberapa acara gak mutu yang tidak mempresentasikan kehidupan bermasyarakat umum sama sekali…itu aja,

      btw peace up udah nyenggol di sini…thanks

      Balas
  5. baru sadar setelah membaca tuilisan ini anda ternyata seorang hipster 🙂 tulisanya berat nice hehe

    Balas
  6. haha gpp mas, soalnya kayak serasa baca-baca di jakartabeat, ya kurang lebih begitulah hehe 🙂

    oya salam kenal masbro..

    Balas
  7. berat…
    Ya tapi memang begitulah keadaanya. Dibelahan dunia lain pun media menjadi alat pembentuk opini/ budaya/ lifestyle masyarakat.
    Yang bisa di lakukan oleh kita sebagai warga ya harus selektif dengan perkembangan media seperti sekarang seharusnya justru membuat kita makin pintar dan kritis.

    hehehe komen ajah sih.

    Balas
  8. Bima

     /  Januari 29, 2013

    Nice artikel…
    cuman menurut ane, artikel bang Ucok semuanya emang “menyebalkan” cuman tergantung dari sudut pandang siapa dulu. Artikel Suara rakyat bukan suara tuhan itu juga sebenernya kan menyebalkan kalo buat yang pro sama standarisasi hiburan kaya dahsyat atau inbox atau apa tuh deh namanya.

    kalo buat ane sih, tulisan beliau selalu menarik, meski kita gak suka ama cara pandangnya, tapi selalu thought-provoking, dan menginspirasi. gitu aje.

    Balas
    • gak semuanya menyebalkan, memang cara pandang orang itu benar2 beda, dia memang orang yang berfikiran “out the box” bahkan menurut saya malah “diluar minoritas”, artikel saya ini ibarat pointer dari artikelnya dia, dari satu artikel bisa di jabarkan ke mana-mana, dan artikel ini sama sekali gak ngebahas artikelnya si ucok lho, thanks for commin y-all

      Balas
  9. Wah, Green day dalam album American idiot kok ndak masuk yo? padahal temanya anti-war dan anti-bush itu 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: