Catatan kecil di sebuah restoran cepat saji

folder (4)

instagram

“Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana……”

******

Di penghujung tahun  lalu sepulang dari warung kopi, seorang teman mengajak untuk mengisi perut, tak biasa kali ini dia memilih salah satu restoran cepat saji yang buka, berlogo seorang kakek tua, ya memang tak ada pilihan lagi lagian mana ada warung lamongan atau nasi goreng cap chai kesukaan kami yang buka di tengah malam buta gini, yang tersisa hanya santapan yang biasa kami sebut “junk” dan biasa kami santap pula di tengah malam begini ketika tak ada lagi pilihan.

Sembari mengantri dan memesan paket dengan senyuman manis yang di paksa atau mungkin menahan kantuk, karyawati yang meladeni kami seolah setengah tersenyum kecut dan tak kuasa untuk berlarut dalam kesibukan mereka, mondar-mandir melayani pengunjung. toh karena tugas, mereka tetap membuat diri sendiri telihat bahagia. Dan kami para antrian dengan muka di tekuk pula karena memang sudah lapar dan antrian pun sudah cukup panjang, seolah – olah kita semua di sini adalah aktor yang memerankan masing – masing peran yaitu sama “pura-pura tersenyum”.

Tapi itu bukan perihal yang membuat saya memendam sedikit keheranan, ini memang berwujud restoran cepat saji, akan tetapi di depan saya, di samping saya tertempel poster ukuran jumbo seorang penyanyi, dan di sisi lainya terpampang foto band yang entah siapa mereka, belum lagi televisi di dinding itu terus-terusan memutar video dengan penyanyi yang sama, yang hanya bergoyang-goyang saja dan sangat membosankan, di meja kasir lagi, kok bisa ada beberapa kaset di pajang sedemikian banyaknya dan pastinya yang jelas saya tidak pernah berharap untuk dapat mendengarkan lagu-lagu ciptaan mereka.

Lalu selanjutnya saya berfikir, sebenarnya ini merupakan restoran cepat saji atau toko kaset, lalu sejak kapan restoran cepat saji menjadikan dirinya sendiri sebuah industri rekaman yang kemudian di jual bersama ayam goreng dan kentang goreng yang menjadi produk andalan mereka..? lalu apa sebenarnya yang mau mereka jual..? penyanyi, band ibukota atau makanan..? atau menjual sebuah retorika non-politik yang selama ini kita kenal dengan istilah “budaya pop”.

Selanjutnya obrolan-obrolan berlanjut di sebuah meja makan kecil di tempat yang sama, meja untuk empat orang, meskipun kami Cuma bertiga, dan meskipun ini dini hari tetapi tempat ini tetap saja penuh, di samping kami segerombolan anak abg tanggung seolah entah apa yang mereka rayakan,lalu di sudut sana dua orang sepasang ya lagi-lagi remaja duduk berdua, entah apa yang ada di pikiran mereka, jam segini, berdua..ah masa bodoh, yang jelas malam ini kami di kelilingi anak remaja yang menjadikan tempat ini jadi seolah tanah suci mereka dalam aktualisasi diri, bisa jadi misi “retorika non politis” yang di jual tempat ini akhirnya mengenai target sasaranya, dan….berhasil.

Lalu perihal kaset dan album-album tadi yang di pajang dan di jual di sini beserta ayam goreng dan menu lainya, kenapa sih tidak ada satu dari artis yang di jual itu merupakan band favourit saya?, entah keterpaksaan ide untuk membangun sebuah kultur baru ataukah pengaruh kurtur baru untuk terpaksa di jual untuk memaksa khalayak untuk membelinya, atau dari pihak artis sendiri yang sengaja menawarkan diri ke pihak franchising untuk rela di jual untuk lebih mendistribusikan lagu-lagu mereka ke khalayak, dan berharap mereka menjadi terkenal, kaya raya karena sukses menjual karya mereka di restoran cepat saji

Mungkin dulu Philip Kotler tak pernah menduga, bahwa ide isengnya perihal marketing mix, yang kemudian ajaranya menjadi “membumi” lalu di jadikan patokan umum pelaku bisnis konvesional, dan ujung-ujungnya dunia menciptakan budaya mereka sendiri yang di sebut industrialisasi dan kapitalisasi, lalu bukan lagi menjadikan konsumen itu raja akan tetapi malah berbalik menjadikan mereka korban dari berbagai macam teorika kehidupan yang di ciptakan pelaku-pelaku bisnis konvensional tersebut.

Lalu terlintas di otak kami jikalau semisal ada band punk rock, atau metal yang di jual franchise dalam bentuk keluaran cd indie yang biasa mereka sebarkan di gigs – gigs…..apa jadinya, walau sepertinya saat ini metal dan punk bisa juga di katakan budaya mainstream di kalangan anak muda, akan tetapi tetap ada konteks yang membedakan budaya-budaya dalam sebuah genre antara budaya satu dan lainya, dan bersyukurlah belum ada produk francise yang meng endorsement band-band sedemikian..hoo…hoo

Dulu saya masih teringat respon skena-skena yang berpandangan miring dengan bergabungnya Burgerkill atau Superman Is dead dalam industri rekaman major, bahkan tak sedikit rekan-rekan seperjuangan mencap band-band tersebut dengan istilah pengkhianat, walau memang butuh waktu bagi mereka untuk mengembalikan stigma bahwa baik major ataupun independent bukalah patokan untuk sebuah musik metal dan pop punk untuk harus kehilangan identitasnya, setidaknya mereka sudah membuktikan itu.

Lalu kalau boleh saja band metal berteman dengan budaya mainstream, dan selanjutnya mungkin saja menandatangani kontrak major dengan embel-embel lainya, mungkin saja suatu saat saya bisa melihat poster dying fectus, forgotten, straight answer atau rosemary di pajang bersanding dengan menu ayam goreng di restoran franchise, dan mungkin poster konsernya the black dahlia murder atau anti-flag bakalan terpampang besar bersama paket hemat ayam goreng di sini…wah.

Ya masalahnya toh ikon-ikon non populis kini sudah mewabah, tongkrongan metalhead dan punk rockers sudah ngikut berkiblat ke arah-arah hedonis, mereka memenuhi tempat-tempat konsumtif, gak jarang remaja sekarang memasang atribut cadas hanya karena ngikut fashion dan hanya untuk di bilang keren, ujung-ujungnya, bukan barang yang yang absurd lagi kalau menjumpai remaja dengan outfit semacam, seringai, thirteen,  jeruji dan embel-embel bawah tanah lainya, nangkring di mall-mall bahkan di restoran cepat saji, ya seperti malam ini anak-anak yang bergerombol di seberang meja saya dengan teman-temanya memang bergaya seperti itu, entah karena ingin menunjukan jati diri “kecadasan” mereka, atau karena apalah, memang saya tak begitu peduli.

Akan tetapi menyandingkan ikon-ikon hardcore tersebut di sebuah tempat yang terang-terangan mengendorsement budaya pop mainstream ya sepertinya sama saja memajang stigma “equality” dan menyama-nyamakan band-band yang tergambar di baju remaja-remaja itu dengan band-band yang terpajang di meja kasir sana. Dan kita sama-sama terlarut di tempat yang sama.

Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana, di dinding restoran ini, atau di meja kasir, setidaknya apa yang saya suka masih bisa di bilang “perawan” dan tidak tersentuh budaya populis, karena merupakan hal yang tidak mengasyikkan lagi ketika musik  yang saya sukai atau band favourit saya harus berbagi pasar dengan band-band yang ingin di bilang keren itu, yang mencari pasarnya dengan menjual karya mereka sepaket dengan makanan cepat saji, dan berharap muda-mudi menyukai dan mengagumi mereka walaupun mereka memproduksi musik dan gaya hidup yang sangat buruk, karena restoran cepat saji itu ya hanya restoran, penyedia makanan instan untuk di makan, bukan tempat untuk jualan kaset atau promosi rekaman.

========================================================

Iklan
Tinggalkan komentar

11 Komentar

  1. wow menarik sekali tulisan ini mas suryo, setahu larass sih kenapa para penyanyi dan band itu ada di KFC?? karena mereka sendiri juga bingung mas mau menjual kemana CD lagu mereka karena sekarang pembajak semakin marak yah dan setahu larass juga ada beberapa perusahaan musik yg bangkrut karena mereka tidak tahu mau menjual apa, jadi dengan cara seperti itu mungkin yah CD lagu itu bisa terjual dan mendapatkan uang….soal kapitalisme itu mgkg tergantung pemikiran masing2 yah, oke mgkg bisa dikatakan iya tapi mau bagaimana lagi, itu kan gunanya adanya marketing yg bisa mencari celah bagaimana produk nya bisa laku terjual dipasaran, dgn cara “menitipkan” ke KFC itulah padahal utk masuk ke KFC sendiri butuh biaya besar juga kok mas….hehe just my opinion, semoga tidak salah kata yah hehehe

    Balas
    • yang namanya opini gak ada yang salah neng laras, semuanya fine-fine aja..namanya juga catatan kecil, selama ada penjual, dan ada yang mau membeli ya itu namanya bisnis…gak ada yang salah lah 😀

      Balas
  2. 'Ne

     /  Januari 3, 2013

    memang belum pernah lihat sih, CD band-band yang ditawarkan dari aliran metal.. kebanyakan yang ngepop dan band-band baru deh kayaknya..

    Btw, Burgerkill Desember kemarin main di Purwokerto lho, kebetulan band ‘partner’ saya main juga.

    Tahu Dying Fectus, Forgotten juga dari si partner hehe.. dia bahkan punya CD aslinya Dying Fectus yang ditawar sampai ratusan ribu..

    *eh kok ngomongin si partner sih hehe, maaf

    Balas
    • hehe ya jangan sampai lah, entar jadi gak asik lagi dong, karena yang biasanya di jual sama pihak-pihak komersil itu cepat sekali rotasinya, bentaran trus ilang, gak punya karya yang melengket di hati pendengarnya

      oh ya main di purwokerto, mereka pernah sekali main ke pontianak, memang saya sendiri sih gak terlalu menggemari metal, cuma terkadang memperhatikan skena-skena mereka aja

      emang band partnernya apa..? kok manggung sama burgerkill..?

      Balas
  3. iya ya. ngerjain musik seolah jadi lebih kecil nilainya dibanding menggoreng ayam dan kentang. 😳 ya bayangin aja kalo jadi penyanyi/bandnya, dibilangin, “kalian harus buat yang terbaik, karena album kalian akan dijual di K*C lho!” 😕

    Balas
  4. tiba-tiba saya ingat penyanyi solo yang pernah menawarkan kaset dan CD nya demikian: “tersedia di KF*”

    Balas
  5. metamocca

     /  Januari 5, 2013

    Terlihat aneh jadinya ya, ketika seseorang mencari albumnya di toko kaset ga dapet, malah harus nyari di restoran.

    😦

    Balas
    • agak aneh sih memang, padal dulu semasa saya kecil restoran itu hadiahnya mainan, lha kok sekarang hadiahnya jadi “kaset” weee, makanya anak sekarang dewasa sebelum waktunya

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: