Di antara cinta, perjuangan dan barang bekas

“Ahhhh tidaaakk ini sudah februari? Tolong bangunkan saya,! Ooh, Time, could you walk more slowly,? You cannot turn back,! Little bit calm maybe…….. ”

 *******

Ada kalanya pikiran benar-benar ada dalam titik krusial yang kritis, sehingga sangat malas untuk membuat postingan, walau sebenarnya saya tidak begitu sibuk-sibuk amat,mungkin bawaan badan yang kurang begitu sehat seolah kepala ini tertimpa puluhan ton buah semangka, it so hard, dan akhirnya Microsoft word di laptop saya pun di paksa menganggur, efeknya konten-konten di blog pun saya tersierkan, tanpa postingan dan luput membaca postingan menarik blogpage lainya yang biasa saya simak

Ah, awal tahun yang absurd, Terbiasa dengan retorika tak luput sejenak waktu untuk beromantika, mungkin siang hari ini saya mendapatkan sebuah moment yang tepat dan sedikit membuat saya sedikit intens, hmmmmm seberapa intens, mungkn terakhir kali saya melihat kisah cinta hebat dari seorang wanita untuk si pria dalam the perfect storm tapi lupakan film keren yang endingnya menyedihkan ini, saya tak ingin bahas itu.

sepulang dari aktivitas siang ini sembari menutup gerbang rumah, terlihat dua orang pengumpul barang bekas (sebenarnya tidaklah terlalu etis kalau menyebutnya pemulung, toh itu juga profesi selama menghasilkan duit) menghampiri saya yang sedang menutup pintu, ya, dua orang atau tepatnya sepasang, mereka jelas terlihat suami istri, lengkap dengan topi caping khas pak tani yang terlihat kumal dan tidak baik bentuknya, si wanitanya membawa karung penuh barang bekas yang di jinjing, dan suaminya membawa gerobak, sedikit lebih punya beban berat ketimbang sang istri,

si wanita atau tepatnya si ibu menghampiri saya dan bertanya ke pada saya “ibunya mana dik?” dan saya menjawabnya “belum pulang bu” sambil tersenyum, lalu si ibu tersebut bertanya lagi, “lah kamu gak kerja lagi?”, dan sayapun menjawab “tidak lagi bu, kontraknya sudah habis, maklum kalau kerja swasta itu sekarang susah, jadi fokus ke usaha orangtua saya aja dulu, sama-sama dapat duit juga” dan ibu –ibu itu sambil membenarkan topinya menjawab, “ooh ya udah, salam saja ya sama ibu kamu” dan suaminya ikut menjawab “mari dik” dan saya juga memberi sinyal sampai jumpa dan merekapun berlalu berdua, berjalan beriringan. Sebuah moment simple tapi sedikit menyentuh hati.

Saya berfikir sejenak,walau dengan penampilah yang relatif kumuh, keringat dan membawa benda-benda tak lazim ibu itu sebenarnya cantik, saya bisa melihat garis senyumnya, bentuk tubuhnya yang boleh di bilang lebih proporsional ketimbang seorang pemungut barang bekas kebanyakan, mungkin saja kalau si ibu menggunakan gaun dan di lengkapi dengan dandanan plus make up akan menjadi lain kelihatanya, saya yakin si ibu lebih menawan daripada istri pejabat ang bangga-banggain makan gaji hasil duit pajak itu, atau seribu kali lebih humanis ketimbang senyum tengiknya seorang Angelina Sondakh yang ngebet ngaku tak punya blackberry.

Sebuah skena monumentalis yang tersirat dan itu sangan bernuansa romansa muncul di pemikiran saya , sepasang suami istri paruh baya bersama-sama bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, memunguti barang bekas di komplek sederhana kami, dari rumah ke rumah tanpa rasa segan dan malu, tak peduli siang panas, dan keringat bercucuran, belum lagi pandangan sinis terkadang orang-orang komplek yang selalu menstigmakan pemulung itu dengan “pencuri terselubung” yang menganggap mereka itu lebih mirip sampah atau pengemis ketimbang manusia dengan bersikap sinis bahkan mengusir mereka. tapi sepasang pemulung tetap dengan gagahnya menyusuri komplek, rumah demi rumah walau apapun hal yang mereka dapat “berdua”, oh what a sweetest thing that I ever see that.

 Ya, bagi saya mereka adalah pasangan paling romantis dari semua hal yang pernah saya  temui, si ibu yang dengan gagahnya bersedia dengan suka rela atau dengan penuh cintanya mendampingi suaminya walau suaminya hanya seorang pemungut barang bekas dan seorang suami yang mendapat cinta istrinya secara penuh dan mencoba memberikan kekuatan terbaiknya demi untuk bisa menjadi sosok yang berharga di depan mata istrinya, dan mereka pun bersama-sama mengarungi hidup mereka yang keras, menepikan stigma demi kelangsungan hidup. tidakkah itu hebat?

Saya selalu berfikir, berapa banyak seorang wanita yang dengan ikhlasnya mau menerima seorang pria apa adanya, dan rela bersama-sama berkorban untuk kehidupan bersama, mau di ajak susah, tapi tentulah mereka tidak pernah bercita-cita untuk selamanya di hidupi dengan kesusahan, dan sebagai seorang pria, bapak itu, maupun saya atau siapapun tentulah ingin memberikan yang terbaik untuk pasangannya, seberapa keras atau bahaya sekalipun seorang pria akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sosok yang di cintainya, yang mau mendampingi dan di ajak mengarungi hidup yang berat, penuh cibiran, bahkan hinaan,.

tapi kalau kita mau membuka mata, seberapa banyak seseorang yang justru hidup di kehidupan semu, matrealistis dan penuh kebohongan, berapa banyak masyarakat kita yang terdoktrinasi dengan budaya-budaya konsumtif, mereka bahkan yang bergaji tinggi dan berdandan parlente tapi jak jemu-jemunya memproklamirkan kebosanan dengan kehidupanya, seorang istri yang menikahi suaminya karena hartanya, dan harta korupsi, suap menyuap, untuk memberikan berlian kepada istrinya, dan itu fakta, semakin tinggi derajat dan standart hidup seseorang, jutru sangat jauh dari nilai-nilai sosial dan tentunya “cinta”.

sepasang pemungut barang bekas yang saya temui tempo hari justru dapat memberikan pelajaran bahwa cinta dan kehidupan itu tidaklah melulu di translasikan dalam proyeksi harta benda dan jabatan, senyum sang ibu di balik peluh, sungguh saya dapat mensiratkan bahwa dia teramat ikhlas dengan keadaan suaminya dan kehidupanya, dan sebagai suami saya harusnya mengangkat topi setinggi-tingginya, karena ada seorang wanita hebat di sisi anda, yang mau berada di samping anda seberat apapun langkah kalian, teruslah berjalan ibu-bapak pemungut barang bekas yang saya temui tempo hari, saya yakin kerja keras kalian akan terbayar suatu saat kelak, dan terima kasih sudah memberikan saya sebuah kliping kecil monumental yang berharga mengenai kehidupan, perjuangan dan tentunya “cinta”.

Iklan
Tinggalkan komentar

9 Komentar

  1. Perfect storm, nice film 🙂

    Balas
  2. 'Ne

     /  Februari 6, 2013

    wah pasangan yang luar biasa yah.. dan tentunya seorang istri yang hebat.. membaca tulisan ini aku yakin mereka berbahagia seperti apapun kondisinya..

    Balas
  3. pelajaran yg berharga…dan lagi males pun bisa nulis panjang gini yah beda ma aku yg bener2 gak posting apapun heheh

    Balas
  4. nice story…salam menulis

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: