kemanusiaan yang kurang adil dan kurang beradab

“A young nigga got it bad cause I’m brown / And not the other color so police think they have the authority to kill a minority Fuck that shit, cause I ain’t the one for a punk motherfucker with a badge and a gun to be beatin on / and thrown in jail We can go toe to toe in the middle of a cell Fuckin with me cause I’m a teenager with a little bit of gold and a pager” (NWA – ice cube / Dr Dre)

 

UnfairSebuah track klassiknya NWA sebelum mereka bubar, yang bercerita tentang kehidupan jalanan mereka dan kaum minoritas kulit hitam yang selalu di perlakukan tidak adil oleh polisi di amerika, di mana kaum kulit hitam selalu di identikan dengan kriminal, drugs, penjarahan sampai pencurian mobil, sehingga perlakuan rasial dan sewenang – wenang aparat hukum di jalanan kepada mereka sampai, penangkapan gypsy dan hippies yang tanpa alasan, hukuman yang sangat tidak adil bahkan penembakan, pemukulan dan penangkapan yang tidak semestinya hampir selalu dirasakan kaum minoritas di jalanan.

pasca bubarnya NWA track yang sama terakhir kali saya simak adalah ketika ice cube manggung di family values, ada sebuah kejadian menarik di mana track “fuck da police”  di lantunkan dan di setiap reff di sambut koor penonton “fuck da police” berulang ulang, bagi yang punya rekaman lifenya pasti mengetahui adegan polisi dengan pakaian ala sherrif yang berjaga di bibir panggung memandangi kecut ice cube di panggung dengan background penontong yang jelas – jelas berteriak “fuk da police…fuk da police” sebuah kontradiksi yang manis mengingat amerika akhirnya mendapati karma yang akut, di mana seorang dari kaum yang termarjinalkan justru menjadi presiden mereka, Barry.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia sendiri..? ,teringat beberapa waktu lalu saya  sempat ber whats up ria dengan seorang teman, yang dulunya mantan rekan kerja saya di bank swasta mikro yang pelit, sebuah obrolan tersier keluh kesah masyarakat kecil dan mungkin kami ini termasuk kaum yang termarjinalkan sistem, sistem apa aja, bisa ekonomi, hukum dan sosial. Dan obrolan kami pun bermuara pada polemik penegakkan hukum yang absurd di lingkungan kita.

Terus terang kita tidak bisa mendikotomikan antara baik dan tidak baik , salah dan tidak salah. Masalahnya aturan aturan hukum mempunyai ketentuan baku yang telah tercatat, dan para penegak hukum menyebutnya KUHP atau apapun itu, dan semua ketentuan di bukukan dengan rapi, tetapi nyeleneh. Dan kami pun memuntahkan semua kemuakkan kami, karena kami tidak tau lagi harus menjadi apa untuk dapat merubah mental negeri yang kami sayangi ini, karena menghadapi system yang dari dasarnya sudah tidak punya integritas yang justru menyudutkan wibawa para pelaku pelaku di bidang penegakan keadilan itu sendiri

Dari kesimpulan perbincangan berjam-jam kami yang cukup membuat jari pegal, sambil ngemil kacang kulit dan nonton live matchnya barca vs muenchen (meskipun saya bukan pendukung ke 2 kubu), kami menyimpulkan bahwa penegakkan hukum itu di kasta-kan antara, waras dan tidak waras, sadar dan tidak sadar, dan tentunya kaya atau miskin, di mana hukuman memang di peruntukan bagi mereka yang bersalah dan berasal dari kaum mayoritas, dan tidak punya perspektif yang jelas, menurut kami dan so pasti sudah di dukung secara empiris melalui fakta, bahwa hukuman itu hanya untuk, pencuri sandal, orang nyarger hape sembarangan, ngambil buah tanpa izin gara – gara lapar dan bahkan orang yang gak tau apa – apapun bisa saja tiba – tiba masuk penjara! Ya tidak tau apa – apa, tidak pernah melakukan kejahatan pun bisa saja di penjara sewaktu – waktu, dan kerennya bahkan yang jelas – jelas melakukan kesalahan malah bisa saja tidak dapat hukuman sama sekali hanya harena punya alasan yang jelas, pembelaan dan alibi yang di buat – buat masuk akal, atau bahkan hanya sekedar meminta maaf…alahmak, !

Bagaimana kita mau hidup tenang, kalau justru ancaman justru datang dari aparat – aparat penegak hukum itu sendiri, di satu sisi, kita tidak memungkiri bahwa memang kita butuh mereka, di tengah ketidak amanan negeri ini, tetapi di sisi lainya tidak di pungkiri pula jika perlakuan mereka itu menyebalkan, sangat tidak mengherankan melihat mereka juga yang mempertontonkan sisi egoisme mereka, dan lalu menyalahkan media yang membesar – besarkan, arogansi memuakkan tingkat dewa yang seolah – olah memposisikan mereka sebagai kasta tertinggi di negeri ini,

kesalnya masih saja umpatan dari mereka yang memposisikan seolah merekalah yang paling faham soal hukum, “tau apa kalian soal hukum..?” kata mereka, dan lupa akan hasil pajak rakyat jelata yang kalian makan, yang sudah mereka pakai buat beli mobil dan bayar kreditan rumah, yang membuat mereka bisa sok mapan dengan mertua – mertua mereka, yang membuat mereka merasa keren dan berwibawa untuk memajang foto mereka dengan seragam kebanggaan mereka di facebook, yang pada akhirnya mereka bisa saja memenjarakan kami rakyat jelata ini sewaktu – waktu tanpa kami melakukan kesalahan, atau terpaksa melakukan kesalahan sepele, atau bisa jadi mereka memaksa kami mengakui kesalahan yang tidak sama sekali kami lakukan, memukuli kami, membentak – bentak kami, yang membuat saya harus menghela nafas panjang dan sedikit menyesali kehidupan sembari berkata, “tuhan, mereka itu sebenarnya tau tidak sih mana yang salah, dan mana sih yang benar, oh..orang ini salah, dan oh, orang ini tidak bersalah”. Jujur apa mereka tau hal itu?! Tidak kan!

Gak usah deh jauh – jauh ngomongin soal koruptor,dan memang vonis hukuman mati buat mereka yang masih di tangguhkan, terlalu besar untuk membandingkan ketidakadilan pandangan hukum antara publik jelata dengan kaum elit, tentu saja karena pendukungan fakta masih di kedepankan ketimbang logika dan nurani, belum lagi faktor backing yang kuat, uang dan tentunya, when you pay more, the case is close, makin membuat miris, jadi ke mana lagi lah kita sebagai masyarakat awam harus berteriak meminta tolong, mengemis keadilan yang wajar dan setara, dan perlakuan yang manusiawi dari aparat penegak keadilan yang justru berlaku tidak adil, ah, yang bisa kami lakukan hanya berdoa…berdoa…dan  berdoa itu saja, setidaknya kami masih punya tuhan itu saja.

Kita rakyat kecil hanya ingin melihat masyarakat di perlakukan adil di depan hukum, kalau aparat itu sering memukuli rakyat kecil, pukuli juga dong pemalak bersafari itu, berani gak sih mereka, pukuli juga Bandar narkoba besar, atau artis – artis berkelakuan bejat, kalau aparat menghukum bertahun – tahun seorang nenek yang tidak sengaja mencuri buah karena lapar, maka saya hanya ingin mengharapkan mereka publik figur  besar yang sering di ekspos di media mendapatkan perlakuan yang sama, bukanya malah mendapatkan grasi,atau pemotongan hukuman, mendapat perlakuan mewah, bukan penjara sekelas hotel mewah, di manakan sumpah serapah para penegak hukum di negeri ini untuk yang memperlakukan manusia itu sama saja. Masak kami harus mengemis keadilan dengan TOA dan berteriak – teriak, kan kalian tidak buta, dan masih bisa cukup berfikiran waras untuk memilah milah mana yang benar dan mana yang salah.

KUHP itu ketentuan baku, ibarat kitab suci, jangan jadikan tolak ukur mentah yang ada di sana untuk menjatuhkan hukuman, nuranilah yang menjawab itu, pertanyaanya, masih adakah nurani..? lalu kalau nurani sudah tidak ada, kami harus berteriak kepada siapa untuk mengemis keadilan..? ah entahlah. Dan kopi malam ini pun telah dingin dan berharap esok pagi mentari terbit dengan cerahnya, the justice is blind doesn’t mean they have blind at all with the process, the law doesn’t will be stand up if they brain never have good relation with they heart, to be honest and be much listener, open up your eyes widely and close the book!.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. Melihat keadaan hukum di negara kita dan aparat penegaknya membuat saya berharap–sangat berharap–semoga saya tidak usah bersentuhan dengan hukum.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: