i d e n t i t a s

jangan pusingkan apa yang saya tulis ini, hanya sekedar kutak katik basi yang terlalu sia-sia untuk di pikirkan, pikirkan saja bagaimana cara kalian mencari tambahan biaya untuk hidup kalian pasca pemerintah dan jurus maboknya “menaikkan harga BBM”

boombox300-d8f3a058e33bdfdd7f5b61647b4bb8c02a31c1b8Ketika rock n roll telah di daulat menjadi aktualisasi identitas – identitas kelompok sebagai budaya adobsi, mungkin di saat yang sama kita merasa dahaga kita tentang pencarian jati diri kita ter-aspirasikan, seolah mengalami orgasme yang paling puncak, karena memang pandangan ekspresi bisa di muntahkan dengan menjadi apa yang tidak banyak kita dapat dalam remeh-temeh lingkungan keluarga kita, bahkan di eranya the beatles masih mendendangkan twist and shout, di mana di jaman itu, sebuah sistem otoritarian di negeri ini memaksa mencari jati diri selain nasionalisme merupakan barang haram.

kita, bahkan saya sendiri termasuk seseorang yang tidaklah puas hanya dengan representasi kehidupan sekitar, dan berujung dengan mengadopsi mentah-mentah sebuah subkultur yang bahkan nenek moyang majapahit kita dahulu belumlah pasti mengenalnya, kita terus-terusan bangga dengan semua labelisasi western mulai dari musik ,fashion, cara bergaul, gaya bahasa, olahraga hingga urusan seksual. Yeah, sepertinya sebagian besar dari kita memang terlahir di belahan dunia yang salah, dan menuntut haknya untuk kembali dalam hidup dengan kehidupan yang berbeda jauh.

Berapa sih sebagian dari kita yang lebih bangga menggunakan lee cooper ,all stars atau vans hanya karena melihat seorang Billie Joe armstrong atau tim armstrong ? dan saya termasuk salah satu dari mereka yang memenuhi playlist saya dengan track karatan era the  joey ramones masih bergaya mullet dengan anthologynya, terkadang memenuhi wild west ala john denver sampai nge hip dari eranya mob depp, violence-j sampai jamanya mike shinoda battle dengan the executioners, dan saya masih merasa bangga kalau identitas identitas itu lebih terjabarkan ketimbang mereka yang mendengarkan padi, goliath atau dewa, atau mungkin kotak

Belum cukup, tambahi akting western kita, bagaimana dengan tambahan booze, x-addict atau bagi saya cukup sebotol coca cola dengan headphone dengan dentuman playlist dengan pasang muka mirip pengidap schizofenia atau autis yang entah apa yang dilakukan asik sendiri dengan diri sendiri, lengkap dengan gingham ala everlast ala 90an menjelajah tiap sudut kota entah itu di bilang norak atau keren, bodoh amat, yang penting nge-hip even were not a fuckin hipster, dan itulah cara kita mempresentasikan kehidupan kita, entah punk rock lah, skate lah, entah hip hoperlah entah, mods lah, skin, pornstar, anak dugem, k-shit popersucks atau apalah namanya, seolah kata “whats up dude” atau “y-all mamen” lebih keren ketimbang istilah “permisi….”.

Budaya asing cepat bersinergi sampai bersimbiosis sangat padu dan lekat ibarat bantal dan guling di atau odol sama sikat gigi rumah kita, menginjeksi semua yang sudah bosan dengan kemuakan realita copet pasar tengah, goyangan inul jupe atau dewi persik, gossip infotaintment, reality show sampai rusuhnya pssi atau penuhnya ruangan pendaftaran pns daerah, sehingga identitas yang masuk merupakan berkah bagi mereka yang haus akan sebuah tatanan budaya yang mengharuskan mereka mempunyai identitas lebih dominan daripada orang kebanyakan, lalulah perlahan melalui sinematografinya XX1 atau musik yang ada di playlist yang kamu dengar merubah tatanan tersebut perlahan.

Bahkan kita masih berhalusinasi bahwa jalanan yang kita jalani mau becek atau di supermarket sekalipun seolah berasa sedang road tripped di sekitaran Bronx atau Detroit, dan konyolnya lagi masih saja terkadang headphone yang sama nempel di kuping entah track apa yang sedang berputar, sebatang rokok di tangan kiri dan menggenggam berger mek-D di sisi lainya, bisa di bayangkan mas-mas pekerja parkir menggeleng keheranan, yeah bagi saya itu normal saja, setidaknya kita masih bisa bertanggung jawab denga attitude kita sehingga melebar tebalkan marjin antara  sebuah attitude yang punya makna atau sekedar menjadi seorang poser.

Kita dan hidup kita yang ke barat – baratan menghiasi setiap langkah, mulai dari pasar pagi, sekolah, kampus, kantor, sampai shopping mall, labil dan tak punya jati diri, tapi bangga dengan kebodohan masing-masing, biarlah waktu berjalan seiring kita menua dengan identitas-identitas kita.

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: