suatu sore di sebuah warung kopi…

2013-05-25 09.19.35Sore ini seorang teman tak henti hentinya menderingkan ringtone handphone saya, dan track nya “fed up” dari house of pain yang semua saya jadikan ringtone karena menurut saya keren pun kian menyebalkan, karena menyeruak berkali-kali, dan di sertai nama teman saya yang muncul pada layar dan tak lelah-lelahnya menghubungi berkali-kali, dan berkali-kali pula saya harus menutupnya handphone saya dengan bantal karena sungguh bising bunyi handphone yang saya pun malas untuk mengangkat benda berisik keluaran perusahaan korea itu.

Sampai pada saatnya saya harus mengaku kalah, ketika handphone itu benar2 tak berhenti berdering, dan saya harus terpaksa mengangkat panggilan itu dan mendengarkan celotehan curahan hati teman saya itu, dan itu bukan yang sekali, berkali-kali dia bicara soal curhat masalah pekerjaan dia yang menyebalkan lah, orderan sepi, bos marah, dan gaji yang tak seberapa sampai info lowongan kerja dan hal-hal lain yang buat saya bising tujuh keliling.

Dan seperti biasa pula obrolan telepon itu harus berakhir di sebuah warung kopi di jalan setiabudi, tempat kami biasa memuntahkan kebisingan dan ketidakadilan hidup, di temani segelas minuman berenergi yang di tambahi susu, yang di banding dengan harganya, minuman itu sangatlah cepat habis, walau dalam satu tegukkan, sungguh tidak sebanding, mau di apakan, mau tak pesan juga tak enak.

Dan keluhan pun bermulai, teman saya ini selalu bersikap skeptis dengan info-info yang di dapatnya “apaan, mosok si J sekarang udah enak, udah jadi pegawai negeri, padahal gak ada pembukaan gimana lah tuh, padal dulu jaman kuliah aja jarang masuk, ujian nyontek melulu…mana lah mau maju negeri ini kalau pegawai negerinya model si J kaya gitu…”

Ah rasa skeptis dia tentang beberapa hal terpaksa mendorong saya untuk ikutan skeptis, “ah kita ini rakyat kecil, si J itu bapaknya mantan kepala staff di dinas itu, gimana mungkin anaknya gak kecipratan rezeki nomplok”, “nah lalu celakanya akibat ketidakmampuan mereka mengelola sistem dan tanggung jawab itu, yang di jadikan korban ya model kita-kita ini, korban ketidakbecusan birokrasi, udah deh, ngapain iri sama si J!”

Yah, di penghujung siang kami selalu berceloteh tentang hal-hal yang menurut kami merupakan hal-hal ajaib dan fantastis, walau bukan fantastis versi reality show fact or fake, fantastis versi kami adalah ketika logika berlawanan dengan realita, ketika nilai-nilai dan norma yang di ajarkan kepada kami sewaktu masa kecil kini menjadi sebuah kontradiksi, seperti contohnya berkali-kali saya dan teman saya mengeluhkan upah minimum yang sangat menjengkelkan di Pontianak, apa gunanya bekerja sampai remuk badan tetapi di bayar dengan upah anak ingusan, inilah kejamnya pengusaha-pengusaha kelas kakap di Pontianak.

Dan logika menurut saya selalu saja kontradiktif, entah mengapa dan itulah bahan kita untuk mengerutu di warung kopi yang penuhi belukar rumah dan mobil ini, dan kami sering berjam-jam mengobrol soal teman-teman kami sendiri, mereka yang pernah melalui masa-masa perguruan tinggi dengan kami, dan saya sudah cukup mengenal siapa mereka, yah contohnya Si J itu pegawai negeri, dan si K itu karyawan swasta, si J itu kerjanya Cuma pamer seragam pegawainya di facebook, dan tertawa-tawa di kantornya, sedikit bekerja karena memang pekerjaanya gak ada yang kasih target, dan mau tidur saat kerja pun gak ada yang bisa mecat dia, tapi dia selalu dapat gaji full tunjangan makan siang dapat, tunjangan jemput pacar dapat, sampai tunjangan tidur siang pun masuk deras ke rekeningnya, tidak heran pegawai negeri selalu di incar ratusan ribu pengangguran di negeri ini.

Lalu di mana kontradiksinya?, yah di sisi lain seperti saat kami mengenal si K, yang semasa kuliah anak yang sangat rajin, tak berhenti-berhentinya belajar, walau terkadang saya sering tersenyum geli melihat profesinya sekarang tak lebih hanya jadi bawahan, yang selalu makan motivasi atasanya, kerja siang malam hanya untuk di bilang “tidak makan gaji buta”, dan kerja harus melebihi ekspektasi target hanya untuk mendapat upah yang manusiawi, di bayar dengan upah minimum regional, yang menurut saya sangat pahit, dan pekerjaan yang itupun di dapat K setelah ratusan kali melamar ke sana sini, ikut test di sana-sini dan mungkin sudah menghadapi muka para interviewer dari berbagai perusahaan, belum lagi cemoohan keluarga dan teman-teman yang sudah mapan duluan, yah itulah kalau kata mapan justru membuat seseorang gampang menghujatkan ketidakberuntungan kepada orang lain, bahkan temanya sendiri

Bagaimanapun J dan K sama-sama teman kami, saya cukup mengenal mereka, tetapi entah nasib selalu mendikotomikan antara keberuntungan dan ketidak beruntungan, stigma dan ekpektasi, mungkin masih banyak J dan K yang lain yang selalu kami obrolkan, atau bahkan saya sendiri yang di pecat gara-gara tidak bisa memenuhi target dari bos saya. Membuat bunga-bunga obrolan kami semakin mekar dan seru.

Yah inilah resiko ketika kami harus hidup di mana seorang pegawai negeri dikatakan sebagai standarisasi kehidupan layak dan symbol kemapanan, sama seperti profesi lainya yah sebut saja polisi, guru, perawat, karyawan BUMN atau karyawan bank, dan lulusan sarjana seperti kami ini harus menghadapi sebuah fase dilematis di mana di hadapkan dengan momok “tak berguna” ketika kami bukan di antara mereka yang berprofesi seperti itu, padahal untuk mendapatkan pekerjaan saja seorang sarjana yang benar-benar tanpa bantuan siapapun, itu harus menghadapi masa-masa sulit, penolakan di sana-sini, pengajuan surat bebas kejahatan dan segala macam tetek bengek dengan ujung-ujungnya tak mendapatkan hasil apapun selain lelah.

dan mungkin saya pernah merasakanya, karena sangat sulit mencari pekerjaan dengan upah layak, untuk menyambangi tittle kami yang berat itu, akhirnya kami rela mengambil beberapa pekerjaan dengan upah yang memprihatinkan, murah dan dengan tidak sebanding dengan pekerjaan yang di berikan, sungguh dilematika yang ironis, ketika malah ujung-ujungnya tak ada lagi prestise ijasah kami, ketika kami di sandingkan dengan dengan rekam satu tim yang notabene mempunyai tingkat pendidikan lebih rendah, belum lagi cibiran mereka yang lebih sukses dari kami dengan  bayaran yang lebih tinggi.

Ah sudahlah ini sudah sore, temenku ini pun sudah ingin balik absen lagi, dan sayapun harus menyelesaikan beberapa design pesanan untuk di cetak besok, jalani saja bisnis masing-masing, aku benar-benar sudah bosan mengeluh!

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: