Joke itu namanya Politik

“Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi…….”

**** 

mortishen.deviantart.com

Kalau saya boleh bercerita tentang salah tawaran terkonyol kepada saya, tentunya adalah tawaran untuk berpolitik,  tidak ada yang salah ketika seorang yang saya kenal sebagai salah satu elitokrat di tempat saya, yang dulunya berprofesi sebagai ajudan pejabat dan akhirnya dia sendiri yang ikut-ikutan jadi pejabat, dan beliau menyarankan saya untuk mengikuti jejaknya untuk menjadi salah satu kader di partai yang di usungnya, minimal menjadi seorang staff saja, dan beliau banyak memberikan iming-iming feedback yang banyak, proyek-proyek yang menguntungkan yang bisa menjadi sumber pemasukan, sampai ajakan menjadi salah satu kader yang di calonkan, wah segampang itukah…?

Saya akui berpindah – pindah kerja dan sulit mendapat pekerjaan tetap itu memang bukan hal yang bagus, tetapi berpolitik? Ini, lucu, tentunya saya hanya tersenyum manis dan tak lupa berterima kasih dengan tawaran surgawinya, tetapi ya tertawa terbahak-bahak di dalam hati, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya hanya ingin bilang, politik itu bukan masalah berapa dan apa yang bisa kita dapat, atau apa yang telah kita berikan untuk partai, tapi sebuah tanggung jawab mewakili sebuah aspirasi komunal dan massal, modal pinter ngomong saja bukanlah indikasi kita bisa berpolitik, dan maaf saja saya ini bukan artis atau selebritis, yang doyan berpolitik itu biasanya selebritis bukan..? jadi kelak ketika semisal saya jadi pejabat saya tidak cukup bisa ber akting untuk sok baik, sok ngaku-ngaku tidak bersalah, sok mengkritik atau sok tebar pesona untuk pejabat-pejabat lainya…swear saya tidak bisa berakting.

Sebagian orang menjadikan politik sebagai profesi hidupnya, dan melupakan hakekat tanggung jawab yang berada di belakangnya, wajar sekali mengingat semakin bergengsi profesi seseorang, mereka akan sangat mendekati perilaku hedonis, dan konsumtif, perubahan paradigma dan bahkan amnesia. Gampang memang membayangkan apa yang akan di terima oleh politisi, anggota parlemen dan sebagainya, tapi apa mudah mendengarkan keluhan – keluhan subjek- subjek yang ingin kehidupanya lebih baik? Apa saja prestasi seorang politisi selain hanya menjadi beban Negara karena gaji mereka itu bayarnya dari pajak.

Sebuah anekdot yang sering kita dengar sudah cukup menjabarkan sebuah deskripsi tentang politik itu, “kalau dalam kehidupan nyata kita hanya bisa terbunuh satu kali, tapi di politik, kita bisa di bunuh berkali – kali”, saya rasa semua politisi yang selama masih bisa baca tulis dan tidak mengidap gangguan kejiwaan akut paham benar kata – kata itu, terjun ke politik itu harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk “di bunuh” berkali, kali, jadi wajar dong kalau seorang politisi di fitnah, di caci maki. Terus anehnya kalau sudah mengatahui itu merupakan konsekuensinya, tapi kenapa tidak sedikit para politisi itu yang sewot mencak mencak, sampai kebakaran bokong karena di todong dengan tuduhan (bahasa media-nya diduga..atau apalah) melakukan korupsi atau tindakan asusila, inilah makna bahwa tidak semua politisi itu mengetahui betapa besarnya resiko menjadi politisi, karena sudah disumpal sama feedback finansial di sana – sini yang seperti saya sebut di atas tadi.

Lalu apa setiap politik atau politisi, selalu di fasilitasi oleh Partai yang ada, nah ini yang saya kurang suka, kenapa harus ada blok – blok partai? Bukanya justru dengan adanya blok-blok tersebut justru membuat kita terpecah belah? Bisa jadi kita tidak lagi mengenal keseragaman, ketika demokrasi itu sendiri melahirkan idealisme yang berbeda – beda, dan akhirnya jatuhnya kita akan di bedakan asal muasal, keturunan, kasta, suku budaya bahkan agama, demokrasi yang salah melahirkan egosentris kelompok yang mendorong timbulnya fanatisme, karena tiap – tiap partai yang ada selalu mewakili segmen tertentu…hell yeah!

saya tidak peduli seberapa bagus visi dan misi partai – partai itu, kepercayaan khalayak ramai tidak bisa terintegrasi di satu kesatuan politik seperti itu, masyarakat itu bukan komoditi, bukan pula konsumen politik, tapi subjek yang harus di puaskan setiap dahaga kehidupanya, yang selama ini termarjinalkan, atau di perlakukan tidak adil, kesulitan birokrasi dan yang lainya. Dan sangatlah tidak etis jika kalian mengkotak-kotakkan idealisme sekelompok politisi untuk menjadi kesatuan yang satu sama lain saling serang, di saat kita seharusnya duduk manis sama-sama dan berdiskusi.

Saya tidak menyebut semua politisi itu kotor, tetapi tidak bisa juga di katakan mereka tidak punya dosa, selama memang tujuan mereka berpolitik hanya sebagai profesi saja, dan sepertinya saya juga sangat yakin bahwa tidak semua masyarakat mengenal dengan baik siapa wakil – wakilnya, selain senyum ceria di kalender – kalender di pasar pasar atau warung kopi, banner gede anti badai di jalanan yang bikin norak kota kita, dan bunyi sirine ketika mereka lewat, dengan pengawalan seolah sedang mengawal gembong narkoba kelas kakap, selebihnya mereka cuma orang – orang sombong yang bergaya hidup mewah, antisosial, sok pintar, jago ngoceh dan tidak punya urat malu, mana mau mereka jalan – jalan di pasar yang becek, masuk ke kampung – kampung kumuh, berdialog dengan tukang becak, kalau tidak ada perlunya.

Terus terang, saya tidak berbakat seperti itu, saya ini orang biasa – biasa saja, kelas pekerja biasa bukan seseorang yang bermimpi terlalu muluk, dan saya tidak ingin langkah hidup ini di isi dengan kemunafikan, dan keterpura – puraan, sudah cukup apa yang ada, dan saya harus bisa belajar untuk memberi dengan ikhlas tanpa ada embel – embel apapun, mempunyai sisi humanis lebih membuat kita peka ketimbang seorang intelektualis yang hatinya tertutup, karena sisi intelektualitas modern mengajarkan bahwa setiap ilmu yang mereka punya itu mendatangkan rupiah hanya untuk dirinya sendiri, bukan menjadi manusia berguna, percuma dong kita bisa memperkaya diri tetapi di sekeliling kita masih ada yang berebutan lahan cari makan, anak putus sekolah dan anak sekolahan yang tidak mampu beli seragam sekolah. Apapun bentuknya, saya bukanlah manusia yang setega itu…

Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi, biarlah mereka tetap jadi sasaran pelampiasan emosi massal yang biasa kita baca di Koran – Koran dan situs online, mereka ya mereka, dan ini saya, saya tidak mampu jadi mereka apalagi mereka, mana mau merasakan jadi rakyat biasa, teruslah melucu politisi – politisi di manapun anda berada, jangan berhenti melawak untuk kami, dan saya sendiri selalu siap mentertawakan anda.

========================================================

Iklan
Tinggalkan komentar

17 Komentar

  1. Larasati

     /  November 18, 2012

    seharusnya dalam ranah politik itu dibutuhkan kejujuran, apa mungkin??

    Balas
    • tergantung, kalau saja mereka menganggap itu sebuah “profesi” ya jadinya seperti yang sekarang2 ini, namanya juga profesi kan buat cari duit, mungkin masih ada yang jujur, tapi kalo di kira – kira jumlahnya kayanya engga banyak deh..

      Balas
      • Larasati

         /  November 21, 2012

        dan kenyataannya rata2 menganggap sebagai profesi yah…hmmm btw kenapa yah kadang larass bisa masuk kesini tapi kadang doesn’t exits…why??

    • doesnt exis yah?alamat pagenya https://lunaticmonster.wordpress.com masalahnya kemarin mau ganti url malah jadinya error, wordpress payah! 😦 jadinya agak susah ni, banyak yg tanyain gitu soalnya

      Balas
    • gak tau sih ya, aku cari di google, dapat tutorialnya, pas di coba enggak bisa, (nyesel 😦 )

      Balas
      • Larasati

         /  November 21, 2012

        hmmmm setahu aku gak bisa, harus yg hosting sendiri baru bisa 🙂
        coba google2 lagi dan nanya2 gimana penyelesaiannya supaya gak doesn’t exits. bisa dibukanya klu dirimu ninggalin koment baru bisa masuk tapi klu masuk lgsg pake id kamu gak bisa

  2. Ely Meyer

     /  November 18, 2012

    aneh ya kalau politisi politisi di sana malah dianggap lagi dagelan kayak pelawak , walau memang kenyataannya byk yg mengatakan demikian, apa mereka salah ambil profesi ya ?

    Balas
    • namanya orang umum, pastinya maunya hidup enak, duit banyak, dan kerja malas – malasan, dan gak produktif, dan profesi yang begituan kan sangat – sangat menggiurkan bagi sebagian orang,
      menurut mereka masalah bisa kerja tau enggak, faham atau enggak, kan masalah belakangan, yang penting tanah berhektar-hektar yang udah gua jual bakalan balik gimanapun caranya, ……profesinya gak salah, orangnya yang pada salah hehe

      Balas
  3. tidak ada hal yang lebih komik dari sekedar orang politik itu sendiri, tapi semestinya jangan lah kita terlalu merasa pesimitis menanggap itikat baik ini menjadi sekedar banyolan, saat Bang Rhoma ikut nyapres taun 2014, karena itu sungguh2 terlalu..

    Balas
    • tentu aja enggak di anggap pesimis, cuma kalau orang di tawari berbagai profesi menarik, pasti yang di bayangkan “wah gajinye gede, bisa buat beli mobil baru gua” dll, cuma mungkin kalau saya kalau di tawari sebuah profesi yang di bayangkan adalah “bagaimana saya harus bekerja nanti, apakah sesuai dengan kemampuan saya, apakah saya bisa memenuhi harapan orang ramai, ” nah yang jarang kan seorang politisi memikirkan seperti itu, apalagi langkah menuju ke sana sangat membutuhkan modal yang sangat besar, itu juga yang sulit kan 🙂

      Balas
  4. haha iya saat media2 sudah jadi alat untuk politik itu sendiri, kadang pemberiataanmya begitu subyektif, kasian DPR, sudah jelek tambah jelek lagi, gak ada bagus2nya tapi ini bukan karena saya pro DPR lho ya, ya salahkan media sih kalo beritanya jelek mulu 😀 kalo gak jelek mungkin orang awam kayak saya ini gk bakal se-inferior gini, rasa optimis sosok yang benar2 pro rakyat dan punya nurani itu begitu elusif, bukan sekedar pencitraan belaka maksud saya haha
    soal modal itu kayak orang jualan, pokoknya jangan sampai besar pasak lah kalo gk mau bangkrut 🙂

    Balas
    • gak semua dewan jelek, tapi mayoritas (mungkin) iya, dan yang media juga juga pekerjaan, ya cari-cari berita, semuanya bersimbiosis, dan kita ini ada di sebuah sistem rantai makanan sama seperti pelajaran pengetahuan umum yang pernah kita pelajari dulu

      cuma satu hal, sekarang lagi trend – trend nya istilah “pencitraan”, bersanding dengan kata- kata “galau” dsb, entah apa maksudnya siapa yang mencetuskan, terkadang di pakai sama orang – orang elit di media untuk menunjukan tingkat intelejensinya, atau sebaliknya, cuma saya sebagai orang awam gak begitu ngerti istilah itu…hehehehehe

      Balas
  5. Tapi sepertinya masih ada harapan lah untuk perpolitikan di negeri ini. Asalkan masing2 jangan mementingkan perutnya sendiri2. Tp bener juga ya kita kayak nonton dagelan…

    Balas
  6. bicara politik bicara kekuasaan, bicara kekuasaan ya bicara uang, bicara uang ya bicara kekayaan, bicara kekayaan ya bicara pertemanan, bicara pertemanan kembali bicara politik…..
    sistem perpolitikan kita bang yang acak kadut hehe, ampe kiamat nggak bakal akur dah 🙂

    Balas
    • itu namanya “kepentingan”, mereka merasa penting satu sama lain, yang kasihanya yang di wakili ini, mau mengadu ke siapa lagi coba…?

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: