mengapa saya tak tertarik menjadi seorang polisi

Pada saat kecil hingga masa-masa sekolahan saya lebih tertarik kepada seseorang dewasa yang mempunyai profesi menggunakan kecerdasanya ketimbang mereka yang terkesan angkuh dengan seragam post militerisme

Seorang teman semasa muda ayah saya bertandang ke rumah, dia seorang polisi. Bercakap cakap soal masa-masa muda mereka, dan pria paruh baya ini sering sekali membangga banggakan anak-anaknya yang juga mengikuti jejaknya sebagai seorang polisi, dan saya pun lebih baik diam ketika kedua orang tua tersebut mulai tenggelam dalam obrolan-obrolan pelepas kangen. Ayah saya memang mempunyai cukup banyak teman dari kepolisian, mengingat dahulu ketika pertama kali merantau ayah saya ikut sang kakak yang notabene seorang polisi juga dan tinggal di asrama polisi.

Sang polisi bertanya kepada saya, dengan fisik dan tinggi yang cukup baik kenapa saya tidak mau gabung juga di kepolisian, dan saya menjawab apa adanya, karena tentu saja saya tak tertarik.  Ya memang sedari kecil saya tak tertarik kepada profesi ataupun kepada polisi itu sendiri. dan sebenarnya  itu cukup sekali menjawab jawaban sang polisi tua itu, tetapi mungkin saya mengisyaratkan seribu jawaban.

Pada saat kecil hingga masa-masa sekolahan saya lebih tertarik kepada seseorang dewasa yang mempunyai profesi menggunakan kecerdasanya ketimbang mereka yang terkesan angkuh dengan seragam post militerisme

Di mata saya yang masih teramat muda sudah dapat menyimpulkan bahwa polisi merupakan sebuah profesi otoritarian yang menggunakan kekuasaanya dengan tangan besi, lebih memilih mengolah otot dan fisik ketimbang intelejensi, dan satu hal yang saya heran, bagaimana pimpinan pimpinan mereka memprogram polisi – polisi baru itu seolah – olah mereka adalah robot, karena saya bisa memahami seseorang itu polisi atau bukan hanya dari cara mereka berbicara meskipun tanpa seragam pengenal, seorang polisi tak bisa menyembunyikan identitasnya dengan logat bicara mereka yang datar seperti robot, hebat mereka bisa memprogram manusia sehingga menjadi seperti itu

Di daerah di tempat saya profesi polisi merupakan strata kasta sosial tertinggi, berbeda dengan beberapa kota besar semisal Jakarta yang mempunyai pandangan sosial secara komunal mengenai profesi yang satu ini lebih cenderung biasa-biasa saja. Dan saya memastikan saya sedang tidak berada di jaman majapahit untuk memastikan strata tertinggi di masyarakat itu pada ikon-ikon militerismenya. Entah apa yang di pikirkan masyarakat modern di daerah saya harus seperti ini.

Menjadikan polisi menjadi top leader rantai profesi di sebuah populasi menjadikan polisi itu sendiri menjadi ikon otoritarian, legalisasi kriminal yang terselubung, dan arogansi kepada masyarakat awam. Penggunaan senjata yang tak bertanggung jawab hingga penyelewengan jabatan untuk kepentingan pribadi alias korupsi

Masih ingat kasus evan brimob..? kasus cicak vs buaya, kasus simulator SIM yang melibatkan pejabat tertinggi di kepolisian, arogansi polisi kepada pengendara motor, atau deretan kasus lainya yang muncul kepermukaan ataupun di telan bumi merupakan bias dari sebuah sistem yang di bentuk secara militer, dan meletakkan polisi pada strata tertinggi dalam rantai pfofesi di kehidupan sosial.

Kewenangan polisi memang bergeser seolah mengaminkan stigma dan tudingan masyarakat, terutama pandangan media, terlebih muncul oknum-oknum polisi yang senang memeras pengusaha-pengusaha yang bermasalah dengan perizinan, pengendara kendaraan bermotor, obat obatan terlarang, arogansi dan sebagainya menjadikan polisi sebagai ikon mafia peradilan yang cacat moral,  depiksi yang demikian membuat saya pribadi bersyukur kalau saya bukan salah satu dari bagian titik hitam yang menodai instansi yang seyogyanya menjalankan tugas keamanan dan perlindungan kepada masyarakat.

Baiklah, saya masih menyebut oknum-oknum itu dan perbuatanya sebagai titik hitam, bukan sebuah noda yang terlalu buruk mengingat tak sedikit dari mereka juga banyak yang masih menjalankan tugasnya dengan baik, walau terkesan sebagian lainya memanfaatkan seragam tersebut untuk sekedar action di depan wanita dan gaya-gaya saja.

Iklan
Tinggalkan komentar

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: