karena suara parlemen bukan suara rakyat

Untitled-2

Sedari awal saya memang acuh tak acuh mengenai hegemoni pesta demokrasi selama pemilu 2014, karena memang saya tidak mau ambil pusing dengan siapapun yang bakalan jadi presiden di indonesia, bagi saya nggak ada yang perlu di perdebatkan dan di bela sampai mati-matian untuk sebuah kekuasaan, toh semuanya sudah di atur tuhan, kalau tuhan berkehendak siapalah yang mampu berbuat banyak.

Kalau soal kepemimpinan dan keberadaan parlemen itu lain persoalan, saya sangat apatis dengan semua partai politik yang ada di indonesia karena memang sedari sananya tidak ada institusi ataupun  organisasi yang bisa menyerap aspirasi masyarakat banyak, bebas kepentingan politik dan intervensi idealisme para pemimpin partainya.

Indonesia menganut sistem demokrasi perwakilan, dan mereka di kotak-kotakkan dengan perbedaan konsep satu partai dengan partai yang lain, dan masing-masing partai mempunyai wakil yang di pilih langsung oleh masyarakat, dan mereka para wakil tersebut duduk manis di sebuah gedung parlemen yang di bangun oleh duit rakyat dan tidak segan untuk makan gaji hasil keringat rakyatnya yang notabene masih banyak yang hidup sengsara.

Enak memang jadi anggota dewan, mereka hidup mewah dengan gaji besar, punya banyak modal untuk mendirikan bisnis sampingan beromset trilyunan rupiah hasil nepotisme proyek-proyek pemerintah, hidup foya-foya, punya mobil dan rumah mewah, tapi jangan tanya soal kinerja, bisa bangun pagi untuk datang kerja itu sebuah prestasi, dan kalau ada rapat, mending absen, toh gaji puluhan juta tetap mengalir deras ke rekening.

Kisah hidup anggota perwakilan rakyat ini benar-benar kontradiksi dengan keadaan rakyatnya sendiri yang masih banyak hidup kekurangan, di jejali program-program formalitas yang bisa jadi nggak tepat sasaran dan harus menerima semua keputusan yang di ambil wakilnya di parlemen, meskipun itu sangat merugikan masyarakat, toh mereka yang duduk di parlemen nggak peduli hal ini.

Wakil rakyat di parlemen memang bukan wakil rakyat, tetapi wakil kepentingan partai politik yang tidak merepresentasikan suara rakyat, mereka mengambil alih haluan negara atas nama rakyat, lalu bertingkah tidak tau diri dengan kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan rakyatnya.

Bosan rasanya dengar pemberitaan wakil di parlemen yang hobby bolos kerja, dan tidur selama rapat, wakil apa yang model begini, mereka sama sekali nggak pernah tau di luar sana rakyatnya banting tulang cari nafkah dan hasilnya di potong pajak untuk membayar gaji dan tunjangan mereka, belum lagi persoalan study banding jalan-jalan ke luar negri yang memakan biaya milyaran toh tidak menghasilkan apa-apa yang bermanfaat bagi masyarakatnya

Tahun 2013 silam, dewan perwakilan rakyat pusat melakukan hak voting untuk mencabut subsidi bahan-bakar minyak, sehingga efeknya harga BBM naik. Mayoritas dari anggota parlemen mendukung kebijakan ini, padahal saya berani bertaruh demi setiap jengkal pigmen kulit saya, masyarakat luas mayoritas menolak kebijakan ini, karena naiknya harga bahan bakar mempunyai efek domino terhadap naiknya harga seluruh bahan baku yang beredar di pasaran.

Parlemen menghambur-hamburkan uang negara begitu gampangnya lalu mentumbalkan rakyat harus menerima cabutan subsidi-subsidi yang harusnya menjadi hak rakyat, semua hak yang harusnya di terima masyarakat di rampas seenaknya, sebuah fakta krusial bahwa parlemen yang ada bukanlah representasi apa yang rakyat butuhkan.

Lalu ulah mereka tidak berakhir sampai di sini, pembahasan RUU pilkada yang mengatur pemilihan kepala daerah harus melalui dewan perwakilan merupakan sebuah mekanisme yang terlalu merampas hak bersuara rakyat yang ingin memilih pemimpinya sendiri.

Pemilihan kepala daerah secara langsung bukan menghambur-hamburkan uang, tetapi memang butuh uang, tetapi kenapa mereka harus ikut pusing, toh yang suka foya-foya dengan duit rakyatnya sendiri siapa kalau bukan mereka yang duduk manis di parlemen, kalau mau hemat anggaran hentikan dong kebiasaan study banding dan perjalanan dinas yang nggak perlu, tunjangan mobil mewah, tunjangan mobil mewah, perbaikan gedung dan rapat yang menhabiskan dama milyaran rupiah, dan lain-lain.

Selama parlemen diisi oleh manusia-manusia psikopat serakah yang hanya bisa merampas hak-hak rakyat jelata, mungkin kedaulatan rakyat akan mati dengan sendirinya, perampasan hak-hak rakyat merupakan pupuk yang menyuburkan bibit-bibit otoritarian dan fasisme yang mengatur kebijakan dengan semena-mena demi kepentingan pribadi, partai dan golonganya sendiri. Bukan berpihak kepada rakyat.

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: