invasi sawit habisi hutan kami.

pict : mongabay.com

pict : mongabay.com

Sebenarnya tidak percaya bagaimana bisa tanah yang subur begitu kini di terjang banjir, sebuah wilayah yang dulunya masyarakat dunia mengidentikanya dengan belantara tropis tempat bersarangnya keanekaragaman hayati kini berangsur terpinggirkan, menunggu kepunahan ekosistem yang di bunuh perlahan oleh pemodal-pemodal serakah.

Banjir melanda dan menenggelamkan ratusan rumah warga di dusun munying, tatai kuju dan kuala dua kabupaten sanggau. Banjir di wilayah kalbar di awal tahun 2015 tergolong parah, tak hanya di sanggau bahkan wilayah perbatasan indonesia dan malaysia pun di sikat oleh genangan air yang berdampak langsung terhadap kelangsungan penduduk sekitar.

Bencana memang datang atas kuasa tuhan, tetapi bukan berarti manusia tidak lepas dari tanggung jawab dalam perilaku yang kurang baik dalam memperlakukan alam. Apa yang terjadi pada kita bisa jadi semua itu karena kesalahan yang telah kita perbuat, suka tidak suka kita semua harus epakat dengan statement ini.

tanah borneo yang di kenal orang dengan supplai produksi oksigen keseluruh penjuru dunia, di karenakan kawasan ini memiliki hutan hujan tropis yang sangat lebat, sebuah kawasan yang hanya bisa di temui di kawasan asia tenggara dan kawasan amerika selatan.

Harusnya hutan dan tumbuh tumbuhan yang berada di dalamnya bisa menyerap banyak volume air hujan yang turun di sepanjang musim penghujan, tetapi sayangnya hutan-hutan yang dahulu berdiri kokoh selama ratusan tahun harus di korbankan demi kepuasan manusia-manusia yang selalu haus dengan kekayaan dan harta.

Banyaknya wilayah kosong di wilayah kalimantan barat di manfaatkan bagipara oknum kapital untuk mengeruk kekayaan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi stabilitas dan kelangsungan seluruh ekosistem alami yang ada. Terakhir ada 18 juta hektar hektar hutan di sanggau, kalimantan barat di babat habis demi keuntungan pribadi pemodal yang tergiur untung milyaran rupiah sehingga banyak hutan yang harus di buka demi tanaman kelapa sawit

Sawit merupakan tanaman yang sangat banyak menghisap unsur hara dan nutrisi yang terkandung pada tanah, termasuk kandungan air, sehingga sawit tidak cocok untuk di sandingkan dengan tanaman lain, perhitunganya jika suatu kawasan sudah di tanami oleh tanaman sawit maka tanah tersebut perlahan akan berkurang kesuburanya.

Invasi perkebunan kelapa sawit di daerah kalimantan barat sebenarnya di latar belakangi oleh kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan penduduk lokal yang cenderung kurang mendapat akses yang layak untuk sarana dan prasarana di daerahnya, sehingga dalam upaya memenuhi ketertinggalan tersebut mereka bersifat terbuka terhadap pemodal-pemodal luar yang ingin menggunakan wilayah tersebut untuk di jadikan perkebunan kelapa sawit

Ada timbal balik dari pemodal yang di berikan kepada penduduk lokal yang mau bekerja sama agar wilayahnya dapat dibuka untuk di jadikan lahan, antara lain pembuatan jalan oleh perusahaan kelapa sawit, perbaikan rumah ibadah hingga tawaran bagi hasil yang di berikan kepada pengurus desa.

Masyarakat awam di daerah mungkin sudah mulai bosan akan semakin kurangnya pembangunan pemerintah yang kurang merata, bagi sebagian dari mereka mungkin sangat spekulatif terhadap tawaran-tawaran seperti pembukaan lahan yang seharusnya mereka jaga sebagai penduduk asli, tetapi apa daya ketika yang mereka inginkan hanya sang pemodal saja yang dapat mewujudkanya,

Para pemilik kebun sawit bukanlah mereka dari kalangan yang tidak mampu, mereka juga bukan dari kalangan pengusaha konvensional, walaupun okelah kalau hanya perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang seperti itu wajar-wajar saja mereka membuka banyak lahan,

Tetapi naasnya investasi besar-besaran tiap lahan kelapa sawit di kalimantan barat di lakukan oleh mayoritas aparatur negara yang berkedok investasi masa depan pribadi, sungguh sangat di sayangkan ketika hutan daerah di perjual belikan secara kapling hanya untuk kepentingan pribadi tanpa menyisakan harapan untuk anak cucu di masa depan.

Terkadang berfikir , apa yang ingin manusia dapat sampai harus merusak ekologi ciptaan tuhan yang maha kuasa, apa artinya sekarung uang yang toh tidak dapat di bawa ke akhirat. Mengapa manusia begitu serakahnya demi harta yang mereka toh sebenarnya tidak perlu.

Masyarakat dan para pemodal mungkin terlalu hedonis, memanfaatkan kekuatan, kekuasaan dan kesempatan untuk dapat mengeruk keuntungan dari peluang yang harusnya mereka tidak mengaisnya di tempat tersebut.menghisap keuntunganya dan menyisakan tanah-tanah yang terancam gersang dan tandus.

Jangan salahkan alam ketika mereka marah, tanah dan pulau yang hijau akan berangsur gersang, dan manusia-manusia yang terlalu kenyang hanya bisa tertawa dan mana mau mereka peduli.

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: