Sentimen Rasis di Kegelapan Bawah Tanah

musik tidak memandang siapapun dan apa latar belakang penikmatnya, musik tidak memilih-milih untuk siapa mereka di ciptakan. Musik tidak pernah memilih mereka harus di dengan oleh kuping putih hitam atau kuning, karena musik itu bersifat universal, Musik tidak pernah membenci seseorang, tetapi seseoranglah yang menggunakan musik untuk senjata melawan apa yang di bencinya

Belakangan di beberapa newsletter dan propaganda dunia indie, saya merasa di ramaikan oleh berita tentang munculnya gigs-gigs yang di motori oleh seorang paranormal senior. Saya kurang begitu paham sejak kapan tokoh yang satu itu mulai terjun ke dunia musik bawah tanah, toh karena saya mengenal dia memang adalah seorang paranormal. Tak lebih. So kemunculanya yang absurd pada skena musik bawah tanah berbanding lurus dengan kontroversi yang buatnya.

sebarkan-sara-petisi-ini-laporkan-ki-gendeng-pamungkas-ke-menkumham

change.org

Gor

Tertarik lebih lanjut, saya mencoba mengikuti kegiatan dalam laman facebooknya, memang agak terkejut karena saya membaca sendiri ada beberapa statement dari dia yang sangat berbau rasis, toh tak dinyana kalau tokoh yang satu ini sejak masa orde baru di kenal sangat vokal mengeluarkan statement-statement antipati terhadap ras minoritas keturunan, dan melihat track record dengan gigs-gigs yang di komandoinya saya berkesimpulan bahwa ini orang punya banyak pengikut, terutama mereka dari kalangan metalhead belia, secara keseluruhan mereka yang haus akan hiburan dan mau bersenang-senang.

Singkatnya, rencananya tokoh ini akan membuat sebuah gigs di kota bogor yang mendatangkan band black metal asal norwegia, gorgoroth. Sebuah acara yang di rencanakan jauh hari dan masak-masak. Hingga pada suatu saat saya membaca statement yang sangat barbau rasis pada laman facebook tokoh tersebut yang di rasa sangat kurang wajar, toh saya sudah terbiasa dekat dengan skena punk di negara ini semenjak saya mengenal internet dan sedari masa-masa remaja mulai menyukai dan mendengar punk hingga di cekoki musik metal oleh rekan-rekan saya, tetapi dari semua itu ada yang janggal dari statementnya. Its weird! Kalaulah saya bilang itu adalah statement penyebaran doktrin kebencian terhadap etnis minoritas di negeri ini, dan bagi saya itu sangat tidak wajar bagi dunia musik bawah tanah lokal.

Respon tidak enak tersebut tenyata juga di rasakan oleh band yang seharusnya manggung dalam acara tersebut, burgerkill memposting pembatalan penampilan mereka pada acara tersebut karena statement oleh tokoh yang memotori even tersebut, dan sikap burgerkill mendapat banyak dukungan dari para fans mereka yang lebih baik tidak melibatkan diri pada gigs yang sifatnya kampanye berbau rasisme. Karena jelas musisi besar seperti burgerkill dalam berkarya tidak memilih memusuhi pihak manapun .

Musik metal memang di adobsi pemuda-pemuda di indonesia dari budaya luar, jelas sekali kultur musik metal lahir dan besar dari luar, kita mengadobsi heavy metal dari amerika, sisanya mencontoh black metal atau grind core yang kebanyakan dari tradisi paganisme eropa. Selanjutnya Di eropa musik metal punya banyak tradisi, mulai dari band komersil hingga band-band yang mengusung tema-tema rasialist, seks bebas, pembunuhan hingga penyembahan-penyembahan yang berbau satanist. Jadi kalau ada yang mengatakan toh memang banyak band metal yang gemar menyuarakan anti-ras tertentu atau agama tertentu memang benar adanya. Banyak sekali band seperti itu di luar negeri

Tetapi dalam mengadobsi subkultur dan tradisi musik luar ke tanah air, saya rasa banyak yang sepakat jika penikmat musik di indonesia tidak mengcopy paste seluruh tradisi hegemonial mereka ke dalam negeri. Penikmat musik sendiri saya rasa sudah cukup dewasa dalam mengadobsi kultur budaya asing, begitu juga dalam hal musikalitas dan tradisinya, apa yang di rasa tidak bertentangan dengan norma sosial negara ini mereka adobsi, tetapi yang buruk mereka tinggalkan, di barat sana memang sebagian besar band dan musisi metal luar negeri lahir dari sektarian atheisme yang paganis, jauh dari norma agama dan sosial. Apa iya kalau melihat band luar punya gaya hidup satanist kita juga harus mengadopsi budaya satanist. Tidak bukan..? termasuk isu-isu berbau rasial adalah isu yang sangat tidak relevan di negara yang berfalsafah “bhinneka tunggal ika” setidaknya kita lebih cerdas memilih dan memfilter apa saja yang kita adobsi

Di indonesia, skena musik bawah tanah itu sendiri lahir dan berkembang dalam sebuah perwujudan perlawanan antara minoritas terhadap dominasi mayoritas untuk menuntut suatu kesetaraan. Sebuah perlawanan kepada dunia mainstream yang di paksakan. Isu-isu kesetaraan dalam melawan kesenjangan sosial sangat kental. Musik metal dulunya hanya di dengar oleh telinga yang punya nyali besar, kini sudah sangat jauh berkembang. Musisi dan band-band metal lahir dan besar, gigs-gigs kolektif mulai menjamur tak hanya di kota-kota besar, bahkan level kecamatan pun pemuda-pemuda tanggung berani mengadakan konser kecil-kecilan dengan peralatan sederhana. Walau dalam ruang lingkup besar mereka tetap menyebutnya kaum pendengar musik minoritas.

bagi saya musik metal atau punk atau siapapun, suara musik tersebut tetaplah sama, karena musik tidak memandang siapapun dan apa latar belakang penikmatnya, musik tidak memilih-milih untuk siapa mereka di ciptakan. Musik tidak pernah memilih mereka harus di dengan oleh kuping putih hitam atau kuning, karena musik itu bersifat universal, Musik tidak pernah membenci seseorang, tetapi seseoranglah yang menggunakan musik untuk senjata melawan apa yang di bencinya

So maka dari itu, saya nggak habis pikir, tokoh itu dalam pergerakan bawah tanahnya bisa menyisipkan karakter dia yang memang sudah dari sananya membenci etnies minoritas, jelas subkultur metal yang di adopsi metalhead di negara kita sudah sangat bagus, sangat di sayangkan ketika ada sosok yang memanfaatkan komunitas penikmat musik keras untuk di paksa memahami pesan doktrinasi kebencian yang tidak seharusnya. Dan Bagi saya pesan antipati terhadap ras tertentu yang dia cerminkan dalam statement-statementnya sarat dan punya potensi di tunggangi oleh kepentingan politis, meskipun dia memploklamirkan setiap parade dan gigs yang di selenggarakanya adalah pertunjukan tanpa iklan rokok dan kepentingan parpol.

Itu hak dia untuk membenci sesuatu, tidak ada larangan bagi setiap individu untuk menyatakan ketidaksukaanya kepada suatu hal tetapi yang harus di ingat, memanfaatkan musik untuk di jadikan alat doktrinasi rasist bukan hal yang bagus. Audiens memang datang berbondong-bondong, mereka ingin menonton band, mendengarkan musik dan berkumpul satu sama-lain, sehingga lama-kelamaan karena di puaskan dengan pertunjukan yang dia buat, tetapi sebatas itu pula peran anda. Jangan paksakan idealisme yang bersifat menghasut kepada audiens yang datang. Mereka Cuma ingin bersenang-senang!

semestinya kalaupun dia punya idealisme seperti itu jangan gunakan kultur musik metal ataupun skena musik bawah tanah, silahkan lampiaskan untuk gabung ke partai politik atau ormas yang punya pemikiran sama dengan dia, kan ada partai politik dan ormas yang sebegitu membenci etnies-etnies tertentu sehingga memaksakan pengikutnya untuk buta akan indahnya perbedaan dan keragaman yang ada pada ibu pertiwi kita.

Iklan
Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. Bahkan sentimen rasis sampai di bawa ke musik. Geleng-geleng saya bacanya. Postingannya membuka dunia yang belom pernah saya tahu sebelumnya. Terimakasih banyak:)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: