why must wayne…? (1965 – 2014)

"Saw III" Special Screening After Party Featuring Static X and Hydrovibe

wayne static RIP 1965-2014)

Sebetulnya kurang percaya ketika dalam sebuah laman facebooknya, Wayne static si pentolan statix-x itu di kabarkan meninggal tanpa sebab pasti, mungkin pada saat yang ama banyak fans yang menganggap berita yang muncul di lama facebook itu sekedar hoax karena berita tersebut mulanya terupdate hanya pada fanspage facebook wayne dan belum ada berita yang pasti yang muncul via mesin pencari google yang di publish di saat yang sama

Tetapi yang meyakinkan dalam catatan profil wayne di wikipedia, pada hari yang sama terupdate tanggal wafat sang rockstar, tepat beberapa jam setelah berita tentang wafatnya wayne static mulai di sebarkan di media sosial ya ternyata benar wayne static ternyata telah benar-benar telah meninggal. Belum ada sebab yang jelas mengapa di usia yang masih produktif untuk seorang musisi yang harusnya bisa menjadi legenda dengan gaya rambut menantang tuhan ini

Wayne static seorang vokalis dan gitaris sebuah band industrial metal static-x yang sudah berkarir sejak tahun 1993 lewat album death winconsin trip sebuah band industrial metal, semua metalhead rata-rata tau dengan band ini banyak yang menggilai tetapi tak banyak juga yang mencibir. Kemunculan modern rock dan indutrial metal memang nggak sepenuhnya di terima para metalhead senior yang banyak membandingkan musik industrial dengan musik metal tahun 80an yang lebih punya gaya heavy.

Tentu beda, musik industrial merupakan sub genre metal yang muncul seiring perkembangan jaman, musik-musik modern rock muncul memang tidak asal berisik dan keras, tetapi punya ritme yang lebih teratur dan lebih sering di terima kuping lebih umum sehingga di gemari oleh kalangan yang lebih muda atau remaja di tahun 90/2000an

modern metal memang tidak sepenuhnya mati, walau rata-rata bertranformasi jadi banyak genre alternatif seperti halnya deftones, wayne static yang di tinggalkan personel band dalam static-x dan mulai berganti-ganti personel sampai pada akhirnya sang frontman ini harus solo karir dengan musik yang sama.

Oh ya, kita flashback! Buat yang masih ingat penampilan wayne pada video kolaborasi dengan linkin park dan the ecutioners dalam track “its goin down”, wayne static mengisi gitar dalam track ini dan muncul dalam video. Tetapi sayangnya meskipun mengisi ritme gitar dalam track dan bahkan muncul dalam video nama wayne tidak serta merta di cantumkan dalam nama kolaborasi, yang muncul dalam video dan single hanya linkin park bersama the ecutioners

Wayne tidak merubah penampilah penampilannya selama belasan tahun bahkan sampai dia memutuskan untuk solo karir , nu metal memang perlahan sirna di makan jaman, keperkasaan musik yang mengkandaskan dominasi klassik rock itu pun ikut menghilang di tengah mewabahnya virus band pop di sana-sini , sehingga band-band industrialis metal mulai perlahan kehilangan panggung sehingga menyebabkan banyak band yang bubar.

Udah mulai keciuman aroma keretakan dalam tubuh static-x ketika wayne dan tony camposs masing-masing sudah tidak ada kesesuaian dalam bermusik, wayne pun memulai debut solonya dan merilis album side project pighammer , sebuah project yang sudah di mulai sejak tahun 2007 tetapi album baru di rilis tahun 2011, di sini wayne menggunakan jasa additional untuk mengisi masih-masing line up band solo ini. dan bagi fans static-x pun sudah merasa kecewa ketika line up static-x yang muncul dalam Noise revolution tour di 2012 menggunakan personil yang sama dengan line up solonya wayne static.

Akhirnya wayne menyatakan bahwa static-x sudah benar-benar bubar pada juni 2013 dan wayne akan benar-benar eksis secara full dengan band solonya yang kemudian tetap menyelesaikan tour di amerika dengan Powerman 5000 dan american head change.

Lalu selanjutnya terjadilah hari yang mengejutkan bagi kami para fans, tepat tiga hari menjelang hari ulang tahunya yang ke 49, di bulan november 2014 wayne di temukan telah meninggal dunia di kamarnya , tak sedikit yang berspekulasi bahwa wayne telah banyak mengkonsumsi obat obatan terlarang (drugs) sehingga overdosis, tetapi berita tersebut di bantah oleh keluarganya.

Why must wayne…? static-x bubar dan fans nu-metal yang tersisa di seluruh dunia juga harus terpaksa di tinggal oleh musisi-musisi berkualitas yang karya-karyanya penuh kenangan mengisi masa remaja yang nakal-nakalnya. Wayne dan musiknya tidak hanya unik . tetapi inilah kehidupan, dan hidup memang sementara, tetapi sebuah karya seorang seniman dan musisi akan tetap abadi. Rip Wayne Richard Wells (1965-2014)

Iklan

saya (mungkin juga kamu) dan benda bernama “radio”

ria scene (25)

“dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita”

 Terkadang sebuah memorabilia bisa saja memiliki nilai historisnya tersendiri, sebagian teenlite masa 60an di masa senjanya mungkin mengharta karunkan piringan hitam “Please Please Me” nya the beatles saat masih menggunakan label Parlophone, walau bahkan mereka mesti bertahun-tahun untuk mendapatkan rilisan terawal dari band asal Liverpool tersebut, sama halnya dengan saya, walau terlahir jauh dari dekade nenek dan kakek saya masih memakai cutbray dan rok polkadot tersebut, bukan berarti tidak pula saya tidak bisa menemukan sebuah memorabilia yang bisa membangkitkan romatisme kisah tersendiri

Kalau boleh mentinta hitamkan sebuah memorabilia tentu saja saya akan mensejarahkan radio-radio dan mini kompo saya yang merupakan benda keren yang di punyai anak laki-laki remaja pada tahun90-2000an, dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita, sama seperti saya yang meletakkan radio saya di bawah posternya limp bizkit dan Michael  Jordan di atas lemari pakaian saya yang mini.

Seolah di kekang dengan keterbatasan dan menjadi pendengar dengan kacamata kuda, entah berapa banyak waktu dalam sehari yang kita habiskan dengan sia-sia hanya untuk menunggu sebuah lagu dari band yang kita suka, dan dalam penantiannya berjam-jam kita membayangkan rupa asli dari seksinya suara penyiar radio yang bertahun kemudian kita menemukan sosoknya dari facebook, dan sambil bergumam, “ooh begini rupanya muka mbak itu…”

Mahalnya harga compact disc dan keterbatasan player yang saya punya tak lekas membuat saya untuk langsung memilih membeli album band favourit saya, kalaupun ingin sekali saya lebih memilih mengkoleksi kaset –  kaset mereka,  dengan rata-rata harga kaset luar negeri 20 ribu rupiah, yang ujung-ujungnya belum tentu kita menyukai semua track dalam album tersebut, atau mungkin kita hanya mendengarkan satu atau dua track, sisanya bahkan terlupakan.

Entah sia-sia atau tidak gara-gara tertarik dengan “shinning light” nya ash yang berkali-kali di putar di radio, saya merelakan uang 20ribu yang di masa itu sangat mahal untuk membeli free all angels milik mereka, dan sudah di prediksi ya saya membeli album mereka hanya untuk mendengarkan album yang itu. Bukanya saya berpendapat track yang lain tidak bagus, tetapi ya memang saya hanya menyukai track yang itu saja, tidak hanya itu tentunya, ada pula sugar-ray dengan when its overnya, yang saya hanya dengar ya hanya “when its over” dan “answer the phone”,atau Eminem dengan “without me” nya dan sebagainya.

Merupakan hal yang wajar ketika kita tidak menyukai hampir semua track dalam sebuah album band, karena kita hanya mendengarkan sebuah hits yang selalu menjadi primadona di radio, yang juga merupakan salah satu marketing strategicnya sebuah label besar agar album band-band yang mereka jual itu laku di pasaran, apa yang di putar di radio yang saya tunggu berjam-jam sehari itu yang namanya hits atau lagu jagoan, jadi apa yang melekat di benak kita ya memang hanya lagu itu,

Kalau membajak itu merupakan kriminal, entah berapa orang yang merekam track yang mereka suka yang di putar di radio pada kaset kosong, hal ini mungkin di rasa lebih menghemat pengeluaran untuk tidak dipaksa membeli album yang mungkin lagu yang di sukai hanya sebiji atau dua biji, akan tetapI dengan kualitas suara lebih buruk, memanglah kita tidak merasa puas,

Hadirnya invasi internet agaknya menepikan peran radio sebagai standart nilai selera musikalitas pendengarnya, internet menawarkan pra-dengar playlist dalam sebuah album, album apa saja, siapa saja dan dari belahan dunia manapun, ratusan referensi playlist-playlist menarik yang luput dari publikasi rolling stone atau Mtv era sekarang,

Tidaklah buruk ketika kita berkata jika sebuah invasi dari domestikasi teknologi membuahkan simbiosis mutualis sehingga kita bisa memutuskan track mana yang bisa membuat kita jatuh cinta dalam sebuah album, dan agaknya radio juga harus merubah strategi agar tidak di tinggalkan pendengarnya, karena seolah dapat mukjizat ketika kita bisa bebas mengunduh track yang kita suka, tanpa harus keluar biaya, selain biaya internet, dan kita tak perlu takut lagi harus mendengarkan track yang kita tidak suka dalam suatu album.

Akan tetapi dengan munculnya internet tak lekas membuat radio itu tenggelam, atau mungkin saya saja yang tidak terlalu menyimak mereka, mereka tetap menyuguhkan track-track fresh dan top 40`s sebagai referensi pendengar, sebagian radio juga sangat membantu mempromosikan dan mendistribusikan beberapa label rekaman independen dan kolektifan yang bisa menjadi referensi untuk pangsa marketnya tersendiri, walau dengan seribu kali sayang mini kompo dan beberapa radio saya yang dulu membuat kami merasa keren kini sudah rusak, lenyap tanpa tersisa secuil bangkai pun,

Bagi saya sendiri mendengarkan radio dengan gadget yang lebih modern tak semenarik dulu, tak semenarik radio saya dengan fisiknya yang unik yang selalu saya anggap teman baik di kamar, sebuah benda bersuara yang di lengkapi lampu berwarna, dengan sticker parental advisory di satu sisi dan logo anti-flag di sisi lainya, radio yang dulunya mengenalkan saya dengan sepultura, mushroomhead, crazytown greenday atau blink 182, yang membuat saya rela menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk menunggu di putarnya lagu band kesukaan saya dan memutarkan sms yang saya kirim, sampai membayangkan seperti apa wujud penyiar yang kita dengar suaranya, Yah, setidaknya setiap generasi menemukan romantisme tersendiri dengan gadget mereka yang semakin modern,  seperti saya dan radio-radio saya dulu. (mcft)

========================================================

Joke itu namanya Politik

“Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi…….”

**** 

mortishen.deviantart.com

Kalau saya boleh bercerita tentang salah tawaran terkonyol kepada saya, tentunya adalah tawaran untuk berpolitik,  tidak ada yang salah ketika seorang yang saya kenal sebagai salah satu elitokrat di tempat saya, yang dulunya berprofesi sebagai ajudan pejabat dan akhirnya dia sendiri yang ikut-ikutan jadi pejabat, dan beliau menyarankan saya untuk mengikuti jejaknya untuk menjadi salah satu kader di partai yang di usungnya, minimal menjadi seorang staff saja, dan beliau banyak memberikan iming-iming feedback yang banyak, proyek-proyek yang menguntungkan yang bisa menjadi sumber pemasukan, sampai ajakan menjadi salah satu kader yang di calonkan, wah segampang itukah…?

Saya akui berpindah – pindah kerja dan sulit mendapat pekerjaan tetap itu memang bukan hal yang bagus, tetapi berpolitik? Ini, lucu, tentunya saya hanya tersenyum manis dan tak lupa berterima kasih dengan tawaran surgawinya, tetapi ya tertawa terbahak-bahak di dalam hati, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya hanya ingin bilang, politik itu bukan masalah berapa dan apa yang bisa kita dapat, atau apa yang telah kita berikan untuk partai, tapi sebuah tanggung jawab mewakili sebuah aspirasi komunal dan massal, modal pinter ngomong saja bukanlah indikasi kita bisa berpolitik, dan maaf saja saya ini bukan artis atau selebritis, yang doyan berpolitik itu biasanya selebritis bukan..? jadi kelak ketika semisal saya jadi pejabat saya tidak cukup bisa ber akting untuk sok baik, sok ngaku-ngaku tidak bersalah, sok mengkritik atau sok tebar pesona untuk pejabat-pejabat lainya…swear saya tidak bisa berakting.

Sebagian orang menjadikan politik sebagai profesi hidupnya, dan melupakan hakekat tanggung jawab yang berada di belakangnya, wajar sekali mengingat semakin bergengsi profesi seseorang, mereka akan sangat mendekati perilaku hedonis, dan konsumtif, perubahan paradigma dan bahkan amnesia. Gampang memang membayangkan apa yang akan di terima oleh politisi, anggota parlemen dan sebagainya, tapi apa mudah mendengarkan keluhan – keluhan subjek- subjek yang ingin kehidupanya lebih baik? Apa saja prestasi seorang politisi selain hanya menjadi beban Negara karena gaji mereka itu bayarnya dari pajak.

Sebuah anekdot yang sering kita dengar sudah cukup menjabarkan sebuah deskripsi tentang politik itu, “kalau dalam kehidupan nyata kita hanya bisa terbunuh satu kali, tapi di politik, kita bisa di bunuh berkali – kali”, saya rasa semua politisi yang selama masih bisa baca tulis dan tidak mengidap gangguan kejiwaan akut paham benar kata – kata itu, terjun ke politik itu harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk “di bunuh” berkali, kali, jadi wajar dong kalau seorang politisi di fitnah, di caci maki. Terus anehnya kalau sudah mengatahui itu merupakan konsekuensinya, tapi kenapa tidak sedikit para politisi itu yang sewot mencak mencak, sampai kebakaran bokong karena di todong dengan tuduhan (bahasa media-nya diduga..atau apalah) melakukan korupsi atau tindakan asusila, inilah makna bahwa tidak semua politisi itu mengetahui betapa besarnya resiko menjadi politisi, karena sudah disumpal sama feedback finansial di sana – sini yang seperti saya sebut di atas tadi.

Lalu apa setiap politik atau politisi, selalu di fasilitasi oleh Partai yang ada, nah ini yang saya kurang suka, kenapa harus ada blok – blok partai? Bukanya justru dengan adanya blok-blok tersebut justru membuat kita terpecah belah? Bisa jadi kita tidak lagi mengenal keseragaman, ketika demokrasi itu sendiri melahirkan idealisme yang berbeda – beda, dan akhirnya jatuhnya kita akan di bedakan asal muasal, keturunan, kasta, suku budaya bahkan agama, demokrasi yang salah melahirkan egosentris kelompok yang mendorong timbulnya fanatisme, karena tiap – tiap partai yang ada selalu mewakili segmen tertentu…hell yeah!

saya tidak peduli seberapa bagus visi dan misi partai – partai itu, kepercayaan khalayak ramai tidak bisa terintegrasi di satu kesatuan politik seperti itu, masyarakat itu bukan komoditi, bukan pula konsumen politik, tapi subjek yang harus di puaskan setiap dahaga kehidupanya, yang selama ini termarjinalkan, atau di perlakukan tidak adil, kesulitan birokrasi dan yang lainya. Dan sangatlah tidak etis jika kalian mengkotak-kotakkan idealisme sekelompok politisi untuk menjadi kesatuan yang satu sama lain saling serang, di saat kita seharusnya duduk manis sama-sama dan berdiskusi.

Saya tidak menyebut semua politisi itu kotor, tetapi tidak bisa juga di katakan mereka tidak punya dosa, selama memang tujuan mereka berpolitik hanya sebagai profesi saja, dan sepertinya saya juga sangat yakin bahwa tidak semua masyarakat mengenal dengan baik siapa wakil – wakilnya, selain senyum ceria di kalender – kalender di pasar pasar atau warung kopi, banner gede anti badai di jalanan yang bikin norak kota kita, dan bunyi sirine ketika mereka lewat, dengan pengawalan seolah sedang mengawal gembong narkoba kelas kakap, selebihnya mereka cuma orang – orang sombong yang bergaya hidup mewah, antisosial, sok pintar, jago ngoceh dan tidak punya urat malu, mana mau mereka jalan – jalan di pasar yang becek, masuk ke kampung – kampung kumuh, berdialog dengan tukang becak, kalau tidak ada perlunya.

Terus terang, saya tidak berbakat seperti itu, saya ini orang biasa – biasa saja, kelas pekerja biasa bukan seseorang yang bermimpi terlalu muluk, dan saya tidak ingin langkah hidup ini di isi dengan kemunafikan, dan keterpura – puraan, sudah cukup apa yang ada, dan saya harus bisa belajar untuk memberi dengan ikhlas tanpa ada embel – embel apapun, mempunyai sisi humanis lebih membuat kita peka ketimbang seorang intelektualis yang hatinya tertutup, karena sisi intelektualitas modern mengajarkan bahwa setiap ilmu yang mereka punya itu mendatangkan rupiah hanya untuk dirinya sendiri, bukan menjadi manusia berguna, percuma dong kita bisa memperkaya diri tetapi di sekeliling kita masih ada yang berebutan lahan cari makan, anak putus sekolah dan anak sekolahan yang tidak mampu beli seragam sekolah. Apapun bentuknya, saya bukanlah manusia yang setega itu…

Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi, biarlah mereka tetap jadi sasaran pelampiasan emosi massal yang biasa kita baca di Koran – Koran dan situs online, mereka ya mereka, dan ini saya, saya tidak mampu jadi mereka apalagi mereka, mana mau merasakan jadi rakyat biasa, teruslah melucu politisi – politisi di manapun anda berada, jangan berhenti melawak untuk kami, dan saya sendiri selalu siap mentertawakan anda.

========================================================

sedikit soal Nu Metal

“I know why you blame me (yourself) ..I know why you plague me (yourself)”

Saya rasa masih banyak fans musik nu-rock hafal track itu, sebuah track milik slipknot dari album mereka yang paling fenomenal di dekade tahun 2000an, tepatnya rilis pada 28 Agustus, 2001, yang juga menjadi soundtrack dari film resident evil, dari judul dan chorusnya saja kita bisa sedikit membaca makna dari lirik itu, “sebuah wabah”

5962066006_85a75a1005_zDekade penghujung akhir tahun 1990-han memang mainstream musik sedang di serang sebuah wabah yang membuat pendengarnya menjadi tergila-gila, Nu-rock atau istilah popolernya Nu-metal, dan slipknot sendiri sebuah band dengan genre yang sama, meskipun mereka mencampurnya dengan berbagai jenis genre sehingga membuat musik mereka benar-benar semarak.

Nu metal mungkin lahir dari sebuah percampuran berbagai macam genre mainstream, dan bahkan juga bisa di bilang sebuah pemberontakan pemuda-pemuda penggila musik dan fashion untuk mencari jati diri yang baru, karena musik rock klassik yang sedang ngetop sebelumnya begitu menjemukan.

Masih ingat di mana era Run DMC berkolaborasi dengan aerosmith dalam walk this way..? tentu mungkin sebagian dari kita masih sangat kecil pada saat track fenomenal tersebut di rilis pada tahun 1986, atau mungkin sebagian dari kita justru belum lahir.

Track ini disebut sebagai embrio lahirnya musik kolaborasi yang saat itu di bilang tidak umum, karena sudah jelas kita mengetahui kalau aerosmith itu rockstar sedangkan Run DMC itu grup hip hop jalanan, tapi mengkolaborasikan kedua musik tersebut bukanlah hal yang tabu.

Embrio ketidaklaziman kedua musisi inilah justru mendorong pada munculnya genre-genre baru yang diluar dari trending musik saat itu, sebutlah saat itu dunia musik rock seolah di wajibkan untuk memiliki ciri khas tertentu, baik dari musikalitas maupun fashion, akan tetapi kelahiran generasi-generasi musik setelahnya justru melawan arus dari genre-genre heavy metal yang meledak saat itu.

Selanjutnya musik rock saat itu banyak di mainkan dengan irama-irama seperti funk ataupun hip hop, tanpa meninggalkan distorsi ciri khas musik metal, yaitu kasar dan berat, selebihnya band-band yang muncul memiliki musik yang lebih simpel, karena tak semua musisi baru saat itu fasih bermain gitar layaknya para gitaris-gitaris band-band heavy metal, akan tetapi mereka dapat menghasilkan musik dengan chord seadanya dan tentunya kolaborasi dengan beberapa elemen musik seperti hip hop dan funk menjadi nilai lebihnya.

Selanjutnya musik-musik percampuran seperti ini mulai di bawakan oleh remaja di amerika, sampai salah satunya pada tahun 1988 salah satu dari mereka membentuk band yang kita kenal sekarang bernama Deftones,

crazyTown2WBanyak sumber yang megklaim jika Korn merupakan band nu-metal pertama, tapi saya rasa tidak demikian melihat Chino moreno, Abe Cunningham dan kawan-kawan yang saat itu bersekolah di sekolah yang sama telah membuat demo mereka di tahun 1988 sedangkan cikal bakal dari band Korn merupakan dari band L.A.P.D yang beraliran funk-metal yang merilis album Love and Peace Dude EP justru di tahun 1989

Selanjutnya musik dengan genre seperti ini benar-benar mewabah dengan lahirnya beberapa band fenomenal seperti Limp Bizkit, Linkin Park, POD, Sevendust, Mudvayne, rise againt the machine, ataupun Crazytown

Saat dekade era 2000an wabah hip-metal tak hanya membombardir MTV ataupun radio-radio lokal, tetapii juga menginfluence fashion remaja saat itu, banyak brand-brand erdorsement ciri khas musisi hip metal laris di pasaran, sebut saja Tribal, Independent dan lain-lain.

Mungkin tak selamanya genre musik mainstream itu harus diisi dengan genre-genre yang membosankan seperti elektro-pop, r.n.b, ataupun pop tetapi musik metal juga bisa bersanding di dunia musik mainstream merupakan sebuah angin segar bagi penggemar musik rock untuk menemukan alternatif baru jenis musik yang ada, kalaulah mereka penggemar rock sudah barang tentu banyak pilihan yang ada.

Limp bizkit sendiri bisa di bilang sebagai band hip-metal paling sukses dengan penjualan significant other di tahun 1999 mencapai 643,874 copy di minggu pertama, dan menduduki nomor 1 di billboard200, lalu puncaknya nu metal sering merajai panggung-panggung musik rock saat itu, sebut saja Family Values, ataupun woodstock 1999 yang di isi sebagian besar band-band beraliran nu-rock. (mcft mrtshn)

ICP cover house of pain track : The gift from early month!

Tak ada yang spesial di awal maret tapi ada yang menarik di awal februari lalu, memang luput dari postingan bulan lalu, tapi tak apalah toh bukan berita baik, karna sekali lagi awal tahun tak terasa telah termakan waktu begitu cepatnya, pasca meninggalnya ibu dari teman saya yang kami tunggui berhari-hari di rumah sakit, dan pada akhirnya beliau harus menyerah dengan leukemia yang deritanya, sangat di sayangkan awal tahun saya lagi-lagi punya titik hitam, sama seperti tahun lalu di periode yang sama saya harus di paksa berhenti kerja.

*****

icpDan di awal bulan februari kemarin ada yang sedikit menggembirakan pula bagi ruang dengar saya, mungkin saya adalah salah satu fans yang sangat teramat ingin melihat 2 band hip hop yang berbeda genre untuk berkolaborasi, walau itu tidaklah sangat mungkin mengingat everlast dan rekan sudah terlebih dulu bubar untuk saya mimpikan berkolaborasi dengan violence J dan shaggy 2 dope, ya benar saya ingin sekali melihat mereka melakukan jamming season atau setidaknya garapan bersama, meski dua-duanya punya karakter musik yang sangat jauh.

Insane clown posse (ICP) mungkin bukan band hip hop kebanyakan, mengusung horror core , lebih tepat sebagai band spesialis musik dengan tema-tema tak lazim yang biasa jadi tema-tema film-film horror  seperti pembunuhan (psikopat), zombie, urban legend, paranoid, sakit jiwa dan lain. Saya tak tau banyak tentang hip hop di pelosok dunia, tapi untuk saat ini mereka adalah salah satu band hip hop yang pakai make up badut dan juga punya profesi lain sebagai pemain gulat, bagi yang sering mengamati pertandingan gulat era wwf atau wcw mungkin sering melihat mereka di atas ring gulat dengan nama (tag team) dark carnival, dan berkolaborasi dengan beberapa pegulat professional lainya, seperti vampiro dan the oddities, sungguh hal yang tak lazim bagi band hip hop umumnya.

Sedangkan house of pain sendiri merupakan band irish hip hop kebanyakan, sama seperti hip hophead awal 90an, dari sekian banyak band-band hip hop yang ada bagi saya house of pain merupakan satu yang menarik, dua MC dan  satu DJ, menurut saya tak banyak penerus generasi run DMC di era 80an dan house of pain merupakan salah satu yang punya karakter lebih dekat dengan run DMC.

ICP dan house of pain sama-sama berdekatan dan sangat identik dengan musisi rock, baik berkolaborasi ataupun sekedar menginspirasi, ICP sendiri pernah menjadi pengisi acara talk show di mana Slipknot pertama kali muncul, selain mereka juga menjadi salah satu pengisi Woodstock 99 (dan di sinilah untuk pertama kalinya saya melihat penampilan mereka), Woodstock 99 merupakan seri woodstock di mana genre hip metal masih merajai industri musik, dan banyak pengamat musik yang mengatakan Woodstock 99 memang di buat  lahir untuk fans hip metal, mengingat banyaknya band sejenis yang manggung, sedangkan house of pain sendiri menjadi salah satu band hip hop yang mempengaruhi lahirnya genre hip metal, mengingat di kemudian hari DJ leathal bergabung dengan Limp Bizkit, dan limp bizkit sedikit banyak terpengaruh oleh house of pain itu sendiri.

Mungkin untuk melihat mereka berkolaborasi bisa di bilang mustahil, house of pain sudah bubar meninggalkan track-track yang masih berputar di benak para hiphophead, sedangkan ICP masih merilis album, saya tak begitu merespon band ini pasca mereka melakukan blunder buruk di beberapa album di era 2000an, mungkin saya lebih suka track-track lama mereka, seperti great milenko, boogie woogie dan chickin huntin, karena ada kalanya saking produktifnya sebuah band, entah itu untuk kepentingan komersil atau hanya sekedar eksistensi bisa jadi malah membuat track-track yang buruk, semakin sering band itu merilis track, semakin luntur idealisme mereka dalam bermusik, sehingga mengikis ide-ide yang seharusnya gemilang dan menggantinya dengan selera pasar.

Kesimpulanya, mereka memang sangat di mustahilkan untuk berkolaborasi, meskipun mungkin  di suatu saat itu bisa jadi mungkin-mungkin saja, sampai akhirnya saya  melihat insane clown posse mengcover track “jump arraund” dari house of pain merupakan sebuah obat tersendiri yang sedikit menawarkan keinginan saya melihat 2 band idola untuk berpadu, dan beruntungnya saya adalah salah satu orang pertama yang yang menyimak postingan cover tersebut secara perdana di youtube, yah setidaknya tidak berkolaborasi, mengcover lagu juga bukan hal buruk

Mungkin anda juga mungkin penikmat salah satu dari mereka, atau mungkin dua-duanya, silahkan cek video ICP yang mengcover jump arraundnya house of pain di sini, lets get beat fellas! And the last February and this not to bad!

Di antara cinta, perjuangan dan barang bekas

“Ahhhh tidaaakk ini sudah februari? Tolong bangunkan saya,! Ooh, Time, could you walk more slowly,? You cannot turn back,! Little bit calm maybe…….. ”

 *******

Ada kalanya pikiran benar-benar ada dalam titik krusial yang kritis, sehingga sangat malas untuk membuat postingan, walau sebenarnya saya tidak begitu sibuk-sibuk amat,mungkin bawaan badan yang kurang begitu sehat seolah kepala ini tertimpa puluhan ton buah semangka, it so hard, dan akhirnya Microsoft word di laptop saya pun di paksa menganggur, efeknya konten-konten di blog pun saya tersierkan, tanpa postingan dan luput membaca postingan menarik blogpage lainya yang biasa saya simak

Ah, awal tahun yang absurd, Terbiasa dengan retorika tak luput sejenak waktu untuk beromantika, mungkin siang hari ini saya mendapatkan sebuah moment yang tepat dan sedikit membuat saya sedikit intens, hmmmmm seberapa intens, mungkn terakhir kali saya melihat kisah cinta hebat dari seorang wanita untuk si pria dalam the perfect storm tapi lupakan film keren yang endingnya menyedihkan ini, saya tak ingin bahas itu.

sepulang dari aktivitas siang ini sembari menutup gerbang rumah, terlihat dua orang pengumpul barang bekas (sebenarnya tidaklah terlalu etis kalau menyebutnya pemulung, toh itu juga profesi selama menghasilkan duit) menghampiri saya yang sedang menutup pintu, ya, dua orang atau tepatnya sepasang, mereka jelas terlihat suami istri, lengkap dengan topi caping khas pak tani yang terlihat kumal dan tidak baik bentuknya, si wanitanya membawa karung penuh barang bekas yang di jinjing, dan suaminya membawa gerobak, sedikit lebih punya beban berat ketimbang sang istri,

si wanita atau tepatnya si ibu menghampiri saya dan bertanya ke pada saya “ibunya mana dik?” dan saya menjawabnya “belum pulang bu” sambil tersenyum, lalu si ibu tersebut bertanya lagi, “lah kamu gak kerja lagi?”, dan sayapun menjawab “tidak lagi bu, kontraknya sudah habis, maklum kalau kerja swasta itu sekarang susah, jadi fokus ke usaha orangtua saya aja dulu, sama-sama dapat duit juga” dan ibu –ibu itu sambil membenarkan topinya menjawab, “ooh ya udah, salam saja ya sama ibu kamu” dan suaminya ikut menjawab “mari dik” dan saya juga memberi sinyal sampai jumpa dan merekapun berlalu berdua, berjalan beriringan. Sebuah moment simple tapi sedikit menyentuh hati.

Saya berfikir sejenak,walau dengan penampilah yang relatif kumuh, keringat dan membawa benda-benda tak lazim ibu itu sebenarnya cantik, saya bisa melihat garis senyumnya, bentuk tubuhnya yang boleh di bilang lebih proporsional ketimbang seorang pemungut barang bekas kebanyakan, mungkin saja kalau si ibu menggunakan gaun dan di lengkapi dengan dandanan plus make up akan menjadi lain kelihatanya, saya yakin si ibu lebih menawan daripada istri pejabat ang bangga-banggain makan gaji hasil duit pajak itu, atau seribu kali lebih humanis ketimbang senyum tengiknya seorang Angelina Sondakh yang ngebet ngaku tak punya blackberry.

Sebuah skena monumentalis yang tersirat dan itu sangan bernuansa romansa muncul di pemikiran saya , sepasang suami istri paruh baya bersama-sama bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, memunguti barang bekas di komplek sederhana kami, dari rumah ke rumah tanpa rasa segan dan malu, tak peduli siang panas, dan keringat bercucuran, belum lagi pandangan sinis terkadang orang-orang komplek yang selalu menstigmakan pemulung itu dengan “pencuri terselubung” yang menganggap mereka itu lebih mirip sampah atau pengemis ketimbang manusia dengan bersikap sinis bahkan mengusir mereka. tapi sepasang pemulung tetap dengan gagahnya menyusuri komplek, rumah demi rumah walau apapun hal yang mereka dapat “berdua”, oh what a sweetest thing that I ever see that.

 Ya, bagi saya mereka adalah pasangan paling romantis dari semua hal yang pernah saya  temui, si ibu yang dengan gagahnya bersedia dengan suka rela atau dengan penuh cintanya mendampingi suaminya walau suaminya hanya seorang pemungut barang bekas dan seorang suami yang mendapat cinta istrinya secara penuh dan mencoba memberikan kekuatan terbaiknya demi untuk bisa menjadi sosok yang berharga di depan mata istrinya, dan mereka pun bersama-sama mengarungi hidup mereka yang keras, menepikan stigma demi kelangsungan hidup. tidakkah itu hebat?

Saya selalu berfikir, berapa banyak seorang wanita yang dengan ikhlasnya mau menerima seorang pria apa adanya, dan rela bersama-sama berkorban untuk kehidupan bersama, mau di ajak susah, tapi tentulah mereka tidak pernah bercita-cita untuk selamanya di hidupi dengan kesusahan, dan sebagai seorang pria, bapak itu, maupun saya atau siapapun tentulah ingin memberikan yang terbaik untuk pasangannya, seberapa keras atau bahaya sekalipun seorang pria akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sosok yang di cintainya, yang mau mendampingi dan di ajak mengarungi hidup yang berat, penuh cibiran, bahkan hinaan,.

tapi kalau kita mau membuka mata, seberapa banyak seseorang yang justru hidup di kehidupan semu, matrealistis dan penuh kebohongan, berapa banyak masyarakat kita yang terdoktrinasi dengan budaya-budaya konsumtif, mereka bahkan yang bergaji tinggi dan berdandan parlente tapi jak jemu-jemunya memproklamirkan kebosanan dengan kehidupanya, seorang istri yang menikahi suaminya karena hartanya, dan harta korupsi, suap menyuap, untuk memberikan berlian kepada istrinya, dan itu fakta, semakin tinggi derajat dan standart hidup seseorang, jutru sangat jauh dari nilai-nilai sosial dan tentunya “cinta”.

sepasang pemungut barang bekas yang saya temui tempo hari justru dapat memberikan pelajaran bahwa cinta dan kehidupan itu tidaklah melulu di translasikan dalam proyeksi harta benda dan jabatan, senyum sang ibu di balik peluh, sungguh saya dapat mensiratkan bahwa dia teramat ikhlas dengan keadaan suaminya dan kehidupanya, dan sebagai suami saya harusnya mengangkat topi setinggi-tingginya, karena ada seorang wanita hebat di sisi anda, yang mau berada di samping anda seberat apapun langkah kalian, teruslah berjalan ibu-bapak pemungut barang bekas yang saya temui tempo hari, saya yakin kerja keras kalian akan terbayar suatu saat kelak, dan terima kasih sudah memberikan saya sebuah kliping kecil monumental yang berharga mengenai kehidupan, perjuangan dan tentunya “cinta”.

Catatan kecil di sebuah restoran cepat saji

folder (4)

instagram

“Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana……”

******

Di penghujung tahun  lalu sepulang dari warung kopi, seorang teman mengajak untuk mengisi perut, tak biasa kali ini dia memilih salah satu restoran cepat saji yang buka, berlogo seorang kakek tua, ya memang tak ada pilihan lagi lagian mana ada warung lamongan atau nasi goreng cap chai kesukaan kami yang buka di tengah malam buta gini, yang tersisa hanya santapan yang biasa kami sebut “junk” dan biasa kami santap pula di tengah malam begini ketika tak ada lagi pilihan.

Sembari mengantri dan memesan paket dengan senyuman manis yang di paksa atau mungkin menahan kantuk, karyawati yang meladeni kami seolah setengah tersenyum kecut dan tak kuasa untuk berlarut dalam kesibukan mereka, mondar-mandir melayani pengunjung. toh karena tugas, mereka tetap membuat diri sendiri telihat bahagia. Dan kami para antrian dengan muka di tekuk pula karena memang sudah lapar dan antrian pun sudah cukup panjang, seolah – olah kita semua di sini adalah aktor yang memerankan masing – masing peran yaitu sama “pura-pura tersenyum”.

Tapi itu bukan perihal yang membuat saya memendam sedikit keheranan, ini memang berwujud restoran cepat saji, akan tetapi di depan saya, di samping saya tertempel poster ukuran jumbo seorang penyanyi, dan di sisi lainya terpampang foto band yang entah siapa mereka, belum lagi televisi di dinding itu terus-terusan memutar video dengan penyanyi yang sama, yang hanya bergoyang-goyang saja dan sangat membosankan, di meja kasir lagi, kok bisa ada beberapa kaset di pajang sedemikian banyaknya dan pastinya yang jelas saya tidak pernah berharap untuk dapat mendengarkan lagu-lagu ciptaan mereka.

Lalu selanjutnya saya berfikir, sebenarnya ini merupakan restoran cepat saji atau toko kaset, lalu sejak kapan restoran cepat saji menjadikan dirinya sendiri sebuah industri rekaman yang kemudian di jual bersama ayam goreng dan kentang goreng yang menjadi produk andalan mereka..? lalu apa sebenarnya yang mau mereka jual..? penyanyi, band ibukota atau makanan..? atau menjual sebuah retorika non-politik yang selama ini kita kenal dengan istilah “budaya pop”.

Selanjutnya obrolan-obrolan berlanjut di sebuah meja makan kecil di tempat yang sama, meja untuk empat orang, meskipun kami Cuma bertiga, dan meskipun ini dini hari tetapi tempat ini tetap saja penuh, di samping kami segerombolan anak abg tanggung seolah entah apa yang mereka rayakan,lalu di sudut sana dua orang sepasang ya lagi-lagi remaja duduk berdua, entah apa yang ada di pikiran mereka, jam segini, berdua..ah masa bodoh, yang jelas malam ini kami di kelilingi anak remaja yang menjadikan tempat ini jadi seolah tanah suci mereka dalam aktualisasi diri, bisa jadi misi “retorika non politis” yang di jual tempat ini akhirnya mengenai target sasaranya, dan….berhasil.

Lalu perihal kaset dan album-album tadi yang di pajang dan di jual di sini beserta ayam goreng dan menu lainya, kenapa sih tidak ada satu dari artis yang di jual itu merupakan band favourit saya?, entah keterpaksaan ide untuk membangun sebuah kultur baru ataukah pengaruh kurtur baru untuk terpaksa di jual untuk memaksa khalayak untuk membelinya, atau dari pihak artis sendiri yang sengaja menawarkan diri ke pihak franchising untuk rela di jual untuk lebih mendistribusikan lagu-lagu mereka ke khalayak, dan berharap mereka menjadi terkenal, kaya raya karena sukses menjual karya mereka di restoran cepat saji

Mungkin dulu Philip Kotler tak pernah menduga, bahwa ide isengnya perihal marketing mix, yang kemudian ajaranya menjadi “membumi” lalu di jadikan patokan umum pelaku bisnis konvesional, dan ujung-ujungnya dunia menciptakan budaya mereka sendiri yang di sebut industrialisasi dan kapitalisasi, lalu bukan lagi menjadikan konsumen itu raja akan tetapi malah berbalik menjadikan mereka korban dari berbagai macam teorika kehidupan yang di ciptakan pelaku-pelaku bisnis konvensional tersebut.

Lalu terlintas di otak kami jikalau semisal ada band punk rock, atau metal yang di jual franchise dalam bentuk keluaran cd indie yang biasa mereka sebarkan di gigs – gigs…..apa jadinya, walau sepertinya saat ini metal dan punk bisa juga di katakan budaya mainstream di kalangan anak muda, akan tetapi tetap ada konteks yang membedakan budaya-budaya dalam sebuah genre antara budaya satu dan lainya, dan bersyukurlah belum ada produk francise yang meng endorsement band-band sedemikian..hoo…hoo

Dulu saya masih teringat respon skena-skena yang berpandangan miring dengan bergabungnya Burgerkill atau Superman Is dead dalam industri rekaman major, bahkan tak sedikit rekan-rekan seperjuangan mencap band-band tersebut dengan istilah pengkhianat, walau memang butuh waktu bagi mereka untuk mengembalikan stigma bahwa baik major ataupun independent bukalah patokan untuk sebuah musik metal dan pop punk untuk harus kehilangan identitasnya, setidaknya mereka sudah membuktikan itu.

Lalu kalau boleh saja band metal berteman dengan budaya mainstream, dan selanjutnya mungkin saja menandatangani kontrak major dengan embel-embel lainya, mungkin saja suatu saat saya bisa melihat poster dying fectus, forgotten, straight answer atau rosemary di pajang bersanding dengan menu ayam goreng di restoran franchise, dan mungkin poster konsernya the black dahlia murder atau anti-flag bakalan terpampang besar bersama paket hemat ayam goreng di sini…wah.

Ya masalahnya toh ikon-ikon non populis kini sudah mewabah, tongkrongan metalhead dan punk rockers sudah ngikut berkiblat ke arah-arah hedonis, mereka memenuhi tempat-tempat konsumtif, gak jarang remaja sekarang memasang atribut cadas hanya karena ngikut fashion dan hanya untuk di bilang keren, ujung-ujungnya, bukan barang yang yang absurd lagi kalau menjumpai remaja dengan outfit semacam, seringai, thirteen,  jeruji dan embel-embel bawah tanah lainya, nangkring di mall-mall bahkan di restoran cepat saji, ya seperti malam ini anak-anak yang bergerombol di seberang meja saya dengan teman-temanya memang bergaya seperti itu, entah karena ingin menunjukan jati diri “kecadasan” mereka, atau karena apalah, memang saya tak begitu peduli.

Akan tetapi menyandingkan ikon-ikon hardcore tersebut di sebuah tempat yang terang-terangan mengendorsement budaya pop mainstream ya sepertinya sama saja memajang stigma “equality” dan menyama-nyamakan band-band yang tergambar di baju remaja-remaja itu dengan band-band yang terpajang di meja kasir sana. Dan kita sama-sama terlarut di tempat yang sama.

Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana, di dinding restoran ini, atau di meja kasir, setidaknya apa yang saya suka masih bisa di bilang “perawan” dan tidak tersentuh budaya populis, karena merupakan hal yang tidak mengasyikkan lagi ketika musik  yang saya sukai atau band favourit saya harus berbagi pasar dengan band-band yang ingin di bilang keren itu, yang mencari pasarnya dengan menjual karya mereka sepaket dengan makanan cepat saji, dan berharap muda-mudi menyukai dan mengagumi mereka walaupun mereka memproduksi musik dan gaya hidup yang sangat buruk, karena restoran cepat saji itu ya hanya restoran, penyedia makanan instan untuk di makan, bukan tempat untuk jualan kaset atau promosi rekaman.

========================================================

rock against bush (2004), anti-war album and how to spoke revolution without anybody getting hurt

rock against bush

Banyak cara yang dilakukan untuk menentang kebijakan pemerintah,apalagi jika sebuah pemerintahan yang justru lebih cenderung menggunakan kebijakan militerismenya

——–

Berharap mendapatkan harta karun yang mengejutkan, sesekali saya membongkar-bongkar file dalam beberapa folder dalam hard disk eksternal  yang memang jarang sekali tersentuh, belasan atau mungkin puluhan folder berisi track-track band-band kesukaan berjejer masih dengan rapinya, dan mungkin ada sebuah folder yang hampir beberapa tahun belakangan semenjak rest-in-peace nya komputer (PC) saya beberapa tahun silam hampir tidak pernah saya sentuh padahal dulunya saya cukup sering memutarnya sambil mengerjakan tugas kuliah, folder itu berisi beberapa playlist dari album Rock Against Bush (2004) volume 1, album ini dulu saya dapatkan versi bajakan, atau lebih tepatnya cd burning version di lengkapi cover copy-an, tetapi tentunya saya lebih suka dengan materi isi albumnya.

sebuah kompilasi provokatif di era zamanya president George W Bush masih memimpin amerika, di mana saat itu sedang gencarnya melakukan invasi ke daerah timur tengah, dan album ini hadir sebagai oposisi tindakan pemerintahan amerika yang lebih senang berperang ketimbang mensejahterakan rakyatnya, dan album ini dulunya sangat menarik bagi saya, karena berisi track-track keren dari beberapa band punk rock-post punk dan hardcore yang masing-masing band-band itu dengan track andalan mereka yang rata-rata mengusung tema protes dan menentang kebijakan pemerintah Negara paman sam itu.

Banyak cara yang dilakukan untuk menentang kebijakan pemerintah,apalagi jika sebuah pemerintahan yang justru lebih cenderung menggunakan kebijakan militerismenya, karena perang dan menjajah merupakan sebuah ide buruk, beberapa band keren yang memang sudah tidak asing lagi  dan memang sudah di pastikan selalu vokal untuk menyuarakan kritik-kritik mereka, nama-nama seperti anti-flag, social distortion dan tentunya bandnya sang pencetus lahirnya kompilasi ini, Fat Mike, nofx

Kalaulah ada sama Fat Mike dan tentunya tak ketinggalan dengan band-nya nofx, selain sebagai pencetus kompilasi ini sekaligus memproduserinya, ya, album ini di keluarkan oleh labelnya sendiri Fat Wreck chord, dan di rilis pada  20 April tahun 2004, Fat sendiri berharap bahwa jangan sampai Bush Jr terpilih kembali dalam pemilu di amerika saat itu, saat itu Fat Mike sendiri enggan mengakui Bush Jr sebagai presidenya

Bush jr sendiri merupakan salah satu presiden dengan reputasi sangat buruk dalam sejarah dunia, beralih memburu terorisme kebijakan untuk menduduki wilayah timur tengah. Melihat presiden dengan latar belakang sebagai ceo dari grup kapitalisasi minyak terbesar Arbustro Energy tentu saja sudah diindikasikan bahwa minyaklah tujuan utama invasi tersebut

selain dapat mencitrakan Negara paman sam itu menjadi Negara yang punya track record teramat buruk di mata dunia dengan perang yang diciptakanya, tentu saja ini berimbas kepada perekonomian mereka yang justru memburuk pasca perang, jutaan dollar di alokasikan hanya untuk keperluan militerisme, sehingga Negara paman sam tersebut justru mengalami devisit keuangan yang hebat, keterpurukan perekonomian membuat perusahaan-perusahaan besar collapse dan terpaksa memberhentikan ratusan pekerjanya,

belum lagi pertumpahan darah dan nyawa yang jatuh dari penduduk sipil dalam invasinya di afganistan sangat jauh dari nilai kemanusiaan, dan tentunya yang namanya peperangan tidak membawa keuntungan bagi ke dua belah pihak, selain jutaan masyarakat sipil menjadi korban, sebaliknya juga ratusan tentara amerika melepas nyawa dengan sia-sia, dan kompilasi ini pun di rilis atas dasar hal tersebut kampanye dengan musik merupakan salah satu alternatif dan boleh di bilang provokatif, dan beruntung Fat Mike dan kawan-kawan mendapat dukungan dari beberapa band yang ingin ikut menyuarakan kritik-kritiknya di kompilasi ini.

Beberapa track menarik bagi saya adalah menyimak the offspring yang mengcover lagu mereka sendiri, yang pernah eksis di tahun 1989 “Baghdad”, di mana sebelumnya lagu itu berjudul “Tehran”,track ini di cover sedemikian rupa hingga tampil lebih bersih dengan aransemen yang sama, sedangkan the ataris membawakan covernya bad religion “heaven is falling” tapi dengan versi akustikan, selain itu juga munculnya Sum41 yang notabene band asal kanada, mereka membawakan track “moron”,  selain itu band punk gaek tidak absen dalam kompilasi ini, seperti social distortion, adapula pennywise dan descendent, Nofx sendiri membawakan “jaw, knee and music”

memang Bush Jr sendiri lengser dari jabatanya 6 tahun setelah rilisnya kompilasi ini, setidaknya andil perjuangan yang membuahkan sebuah revolusi memang tidak hanya bisa di suarakan dengan satu cara, banyak cara yang menurut saya terhormat untuk menyuarakan sebuah kritik dan perlawanan publik, dan tentunya track-track ini masij bisa kita nikmati sampai saat ini. selanjutnya mungkin kalau melihat negeri sendiri di Indonesia, dengan maraknya kasus korupsi, apa ada yang berniat buat kompilasi “melawan korupsi”?

track Rock against Bush volume 1

Nothing to do when youre locked away in a vacancy (none more black) – moron (Sum41) – warbrain (alkaline trio) – need more time (epoxies) – the school of assassins (anti-flag) – sink, florida, sink (againt me) – Baghdad (offspring) – lion and the lamb (the get up kids) – give it all (rise againt) – no w (ministry) – sad state of affairs (descendent) – revolution (authority zero) – paranoia! (the soviettes) – that`s progress (d.o.a) – overcome (rx bandita) – no voice of mine (strung out) – to the world (strike anywhere) – heaven is falling (the ataris) – god save the USA (pennywise) – normal days (denali) – the expatriate act (the world) – no news is a good news (new found glory) – basket of snakes (the firsk) – jaw knee, music (nofx) – it’s the law (social distortion) – the brightest bulb (less than jake)

========================================================

election is horror

POST

“kalau suatu saat nanti pada saat pemilihan umum, ada salah satu dari kontestan yang menawarkan pendidikan gratis, kesehatan gratis, menurut saya itu contoh calon pemimpin yang tidak realistis, dan mengajarkan masyarakatnya untuk malas bekerja, dan berharap pada barang gratisan, itu bukan hal yang baik”
***

Sebenernya aku menulis sebuah blog bukan untuk mengomentari perihal dilematis yang serius, tapi loh yang namanya sekedar membiaskan opini ala warung kopi bisa lah kita arahkan sesuatu yang sedikit mengomentari kondisi suatu peristiwa, apalagi peristiwa-peristiwa tersebut sangat lekat dengan lingkungan kita, mungkin juga pengaruh mood  klassik yang sedang memandang warna warni kota hingga tayangan TV yang semua bercerita sama, yaitu pemilihan umum, atau pemilihan pimpinan daerah,

Berbagai macam pencitraan, dan macam macam janji di jual, yeah…bukan rahasia umum lagi mereka obral macam macam program, eh perlu di kaji ulang sebenernya sih, tentang obral janji dengan pembeberan program itu dua hal yang berbeda, kenapa..? contohnya seperti ini : seperti seorang calon karyawan yang sedang interview dengan calon supervisornya jika seseorang yang obral janji seorang pelamar tersebut cenderung memposisikan dirinya selalu lebih baik di banding kemampuanya sendiri, mereka cenderung berpotensi untuk menarik perhatian seseorang dengan cara cara instant, semisal seorang calon marketing, di mana mereka yang obral janjikemungkinan  besar akan berkata saya akan bisa menjual produk anda over target setiap bulannya, saya akan capai angka angka yang fantastis

Bedanya dengan mereka yang semasa pencalonanya lebih membeberkan apa saja program kerjanya, orang – orang yang seperti ini notabene lebih memiliki pengalaman bidang yang mungkin sama, atau setidaknya kematangan pengetahuanya, setidaknya mereka lebih merencanakan apa apa saja yang akan jadi rencana kerja mereka ketika mereka menduduki sebuat posisi, semisal contohnya jika saya menjadi marketing, saya terlebih dahulu akan memfollow up rekan / relasi saya di perusahaan saya sebelumnya, dari beberapa prospek saya akan catat perkembanganya tiap minggunya, bahkan seorang yang yang teliti membeberkan program rencana kerjanya ketika Plan A mentok, jika saya gagal mendapatkan relasi yang baik saya akan evaluasi kinerja saya tiap minggunya dan ketika saya menghadapi kendala, saya akan bersedia meminta bantuan dari yang lebih ahli dalam hal tersebut,  yang itu bedanya, ketika seseorang yang lebih cenderung membeberkan progran kerjanya mereka cenderung lebih merendah, punya alternatif dan sedikit memiliki pilihan pilihan kebijakan yang lebih masuk akal.

Ketika memasuki era election kita sering banget dengar anekdot anekdot seperti “pendidikan gratis”, “pengobatan Gratis”, “bebas kejahatan” dsb, hal hal seperti menurut aku merupakan sebuah kampanye frustasi , kenapa frustasi…? Karena sebagian besar para pelaku (atau aktor) yang melakukan itu merupakan mereka yang notabene tidaklah punya strategi cara berfikir yang logis, bagaimana di sebut tidak logis..? ya kita sebagai masyarakat dapat menembak langsung kepada mereka, hmmm bisakah kita berfikir simpel seandainya aktor aktor itu terpilih dan benar mereka harus membuktikan janji janjinya, pertanyaannya “dari mana duitnya”, “siapa yang membayarkan biaya pendidikanya, pengobatanya, “dari mana dananya..???” tidak ada aspek pemikiran logis menyangkut hal ini, so kalau memang bisa anggaran menutupi biaya pendidikan, dan pengobatan, komoditas apa yang akan di jual..? so, apa ada guru, atau dokter yang mau di bayar pakai daun kelapa..? pikiran lebih sederhananya lagi, memangnya di dunia ini apa ada yang gratis, di jaman pipis di pasar aja bayar….?

Naiknya tingkat Golput dan turunnya tingkat partisipan pemilih dalam setiap pemungutan suara, sangat beralasan, tingkat pendidikan masyarakat yang membaik dan kebebasan pers yang membuka semua borok demokrasi yang menyorot aktor aktor safari membuat masyarakat sudah dapat berfikir kritis, dan cerdas. Bukanya bermaksud memprofokasi, tetapi aku pikir sebagian besar orang berfikiran sama yaitu apa gunanya meluangkan waktu kita hanya buat badut badut yang sudah bermadikan rupiah yang justru kerjanya tidak pecus, masyarakat bukan butuh pemimpin yang secara terang terangan bermuka dua, pamrih dan berpandangan sempit, apa gunanya memilih mereka yang tidak kenal dengan rakyatnya, jangankan kenal, bagaimana kalian mau memperbaiki perekonomian jika ke pasar saja gak pernah, bagaimana berbicara tentang kesejahteraan justru banyak orang orang kurang mampu di sekitar tempat tinggal kalian yang mewah dan mereka hanya bisa mencium asap knalpot mobil monil mewah kalian, dan rumah rumah kalian yang berpagar tinggi yang satpam dan ajudannya galak – galak, ooh its looser,

Masyarakat sudah bosan di suguhi lawak lawak demokrasi, badut badut intelektual yang berulah lagi lagi, mulai dari perselingkuhan, skandal seks, ribut pada saat rapat, main koboy di jalanan, pengekangan kebebasan berpendapat, dan apa lagi macam – macam jenis kebiadapan pelawak – pelawak tersebut, mereka tentunya harus sadar, kalian paksa kami ini yang dari golongan manusia – manusia sipil buat mendukung kalian dan mewakili kami untuk pundi-pundi rupiah yang kalian dapat dan kami semakin hidup tanpa kejelasan, sebagian dari kami meluangkan waktu kami, demi sebuah kepalsuan,

Dan mungkin mereka sudah banyak membagikan makanan bagi yang kurang mampu di masjid – masjid, membagikan uang dan kaos partai, membangun jalanan, turun ke lapangan, dan berbagai macam cara untuk memikat masyarakat, lalu kita sebagai masyrakat apakah akan menjadi sesuatu yang gampang tergadaikan oleh semua itu, seharusnya kita harus benar benar kritis dan cerdas, masyarakat mungkin lebih tau mana yang terbaik bagi mereka, dan apa yang terjadi ini tak lebih dari sebuah mimpi buruk di mana bermanis manis angin surga di hembus kan dan kita tak sadar bahwa kita sudah berada di mulut neraka pada saat kita bangun

Kalian yang bertanding di ring demokrasi tolong jangan kotori lingkungan kami, jangan memenuhi kota kami yang seharusnya bersih dengan muka – muka kalian yang sok di buat buat memanggil manggil kami untuk mendukung kalian, semua itu sia sia saja, hanya membuat kerja pembersih sampah akan lebih berat, tolong jangan memperburuk skenario horor ini, kami Cuma butuh merka yang memeringan langkah kami yang semakin berat dari hari ke hari, Memilih itu sebuah pilihan, politik itu sebenarnya tidaklah terlalu kotor, tetapi tangan – tangan para pemimpin-pemimpin yang berlomba lah yang telah mengotorinya

========================================================

idealisme, bukan egoisme! bedakan!

2012-12-05-10-57-34

“Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik”

**** 

Terkadang sulit memahami sebuah pola pikir sesorang yang cenderung kontradiktif dengan latar belakangnya sendiri, kalau saja seorang punk rocker sekelas Milo Aukerman, Greg Graffin atau Dexter Holland  tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik, mungkin saya dulu sewaktu masih duduk di bangku perkuliahan merupakan mahasiswa yang masih mengikuti para hipster tua dan maniak organisasi yang katanya idealis itu untuk memperlambat tahun kelulusan saya.

Membaca sebuah issue di publikasi media lokal kemarin,saya sebagai seorang alumni perguruan tinggi tersebut sempat mengingatkan saya jauh pada saat saya baru mengenakan almamater dan di mana kita di kenalkan dengan lingkup politik di sebuah universitas, dan mau tidak mau dan kalau boleh di bilang terpaksa, ya saya jalani, ya,sebagai anak bau kencur saat itu saya pernah menjalani hari-hari sebagai aktivis di mana para senior yang sangat rajinya mengkaderisasi kami si bau kencur, dan mengkoordinir di setiap aksi-aksi,

Bukanya tidak begitu peduli, memang dasarnya saya yang tidak tertarik, tentunya saya melakukanya dengan setengah mata dan senyuman kecut, berkumpul dengan aktivis senior penyuka lagu-lagu top fourty dengan segala macam penampilanya yang lebih mirip seorang penyanyi genre melayu berpadu dengan atribut bluesy yang berkiblat ke eranya axl rose yang seram-seramkan, sangat tidak membuat saya betah,

Idealisme memang wajar berbunga di sana-sini dalam sebuah retorika kampus, saya setuju dan sangat memahami itu, berpegang kepada nilai-nilai demokratis, penyampaian aspirasi memang hal lumrah, akan tetapi  kalau sampai mengesampingkan esensinya sendiri tentang posisi kita di suatu perguruan tinggi itu untuk apa, tentunya tidaklah akan lahir Milo, Greg atau Dexter holland yang lainya di atas muka bumi Indonesia itu, bahkan idealisme tanpa akal sehat itu sama saja bunuh diri dan siap-siap saja jadi bahan tertawaan di warung kopi dan elusan dada miris seorang anak jalanan yang notabene tidak bisa menyentuh bangku perkuliahan karena kekurangan dana,

Mungkin harus ada takaran ideal untuk menjadi seseorang yang kritis, untuk menjalankan idealisme anda tidak perlu menjadi egois, karena pemikiran yang di dasari egoisme cenderung keluar batas kewajaran, karena setiap statement anda, seprovokatif apapun walau memiliki kekuatan realitas yang mutlak tetap terdengar sangat dungu, hal ini yang justru membuat sebuah sisi oposisi mudah untuk memutarbalikan keadaan, dan audiens dapat menilai itu.

Sepertinya bukan barang kemarin sore kalau kita mengetahui seberapa banyak mereka yang tak sanggup menuju dan mengenyam bangku perkuliahan, tak sedikit dari sebagian dari rekan-rekan yang mengorbankan barang-barang berharga hanya sekedar ingin mempunyai gelar, walau kelak berguna atau tidak gelar mereka yang penting perubahan pola pikir merupakan keutamaan, sebuah kebanggaan bagi mereka yang jauh-jauh merantau hanya untuk membanggakan orangtua mereka. Akan tetapi sebagian dari mereka mengorbankan egoisme fasik berlabel idealisme, ini bukanlah hal yang bijak, sama seperti  fundies fasis yang mengecam konsernya lady gaga, niat baik dengan cara yang salah merupakan hal konyol dan omong kosong.

Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dimana bangsa kita masih membutuhkan sebanyak mungkin kaderisasi yang edukatif, sebanyak mungkin yang bisa di produksi, berbahan bakar sebuah harapan dan cita-cita di situlah peran mesin diesel yang memutar gerigi-gerigi yang tak lelah-lelahnya memproduksi kaum intelektualis yang akan menggerakkan perekonomian, memberikan lapangan pekerjaan atau sekedar figuran kehidupan semu di kehidupan kalian semua.

Boleh saja kalau mau muak dengan sistem dan merupakan hal legal kalau ingin bersuara banyak, akan tetapi bersikaplah dewasa, karena umur kalian tidak bisa di bilang anak-anak lagi, bukan seseorang manja yang kalau tidak di beri permen akan mogok makan, ingat, idealisme tidak harus memaksakan egoisme, kalau memang tidak mau repot atau di repoti dengan persoalan akademisi, mending hijrah saja, silahkan masukan CV kalian ke leasing atau perusahaan sawit yang lebih butuh tenaga instan, tetapi kalau mau turun jauh mengkritisi, lakukan dengan hormat, lakukan sebagai seorang dewasa intelektual yang punya harga diri

Meskipun saya bukan seorang aktivis, dan dulu saya lebih sering menuliskan ketidaksukaan saya dalam bentuk zine yang tersebar, sebuah propaganda satir yang berbahasa sarkasme yang tercopy hingga ratusan buah, mulai dari kampus, sekolah hingga distro-distro dan warung kopi,  yang mengungkapkan sebuah makna amarah dalam diam, kesalnya saya dengan ulah pekerja tata-usaha sampai objektifitas dosen dalam memberi nilai, kita boleh marah asal tidak merugikan orang lain, apalagi justru membuat kita terlihat lebih dungu dari status kita sebenarnya, bukan itu hakekat dari sebuah perjuangan, bahkan sampai sekarang saya masih senang menuliskan apa yang saya lihat, karena bagi saya Nyala lilin itu redup, tetapi cukup untuk menerangi ruangan di kala gulita, dari pada membakar rumah sendiri hanya untuk menerangi seluruh desa.

========================================================