Joke itu namanya Politik

“Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi…….”

**** 

mortishen.deviantart.com

Kalau saya boleh bercerita tentang salah tawaran terkonyol kepada saya, tentunya adalah tawaran untuk berpolitik,  tidak ada yang salah ketika seorang yang saya kenal sebagai salah satu elitokrat di tempat saya, yang dulunya berprofesi sebagai ajudan pejabat dan akhirnya dia sendiri yang ikut-ikutan jadi pejabat, dan beliau menyarankan saya untuk mengikuti jejaknya untuk menjadi salah satu kader di partai yang di usungnya, minimal menjadi seorang staff saja, dan beliau banyak memberikan iming-iming feedback yang banyak, proyek-proyek yang menguntungkan yang bisa menjadi sumber pemasukan, sampai ajakan menjadi salah satu kader yang di calonkan, wah segampang itukah…?

Saya akui berpindah – pindah kerja dan sulit mendapat pekerjaan tetap itu memang bukan hal yang bagus, tetapi berpolitik? Ini, lucu, tentunya saya hanya tersenyum manis dan tak lupa berterima kasih dengan tawaran surgawinya, tetapi ya tertawa terbahak-bahak di dalam hati, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya hanya ingin bilang, politik itu bukan masalah berapa dan apa yang bisa kita dapat, atau apa yang telah kita berikan untuk partai, tapi sebuah tanggung jawab mewakili sebuah aspirasi komunal dan massal, modal pinter ngomong saja bukanlah indikasi kita bisa berpolitik, dan maaf saja saya ini bukan artis atau selebritis, yang doyan berpolitik itu biasanya selebritis bukan..? jadi kelak ketika semisal saya jadi pejabat saya tidak cukup bisa ber akting untuk sok baik, sok ngaku-ngaku tidak bersalah, sok mengkritik atau sok tebar pesona untuk pejabat-pejabat lainya…swear saya tidak bisa berakting.

Sebagian orang menjadikan politik sebagai profesi hidupnya, dan melupakan hakekat tanggung jawab yang berada di belakangnya, wajar sekali mengingat semakin bergengsi profesi seseorang, mereka akan sangat mendekati perilaku hedonis, dan konsumtif, perubahan paradigma dan bahkan amnesia. Gampang memang membayangkan apa yang akan di terima oleh politisi, anggota parlemen dan sebagainya, tapi apa mudah mendengarkan keluhan – keluhan subjek- subjek yang ingin kehidupanya lebih baik? Apa saja prestasi seorang politisi selain hanya menjadi beban Negara karena gaji mereka itu bayarnya dari pajak.

Sebuah anekdot yang sering kita dengar sudah cukup menjabarkan sebuah deskripsi tentang politik itu, “kalau dalam kehidupan nyata kita hanya bisa terbunuh satu kali, tapi di politik, kita bisa di bunuh berkali – kali”, saya rasa semua politisi yang selama masih bisa baca tulis dan tidak mengidap gangguan kejiwaan akut paham benar kata – kata itu, terjun ke politik itu harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk “di bunuh” berkali, kali, jadi wajar dong kalau seorang politisi di fitnah, di caci maki. Terus anehnya kalau sudah mengatahui itu merupakan konsekuensinya, tapi kenapa tidak sedikit para politisi itu yang sewot mencak mencak, sampai kebakaran bokong karena di todong dengan tuduhan (bahasa media-nya diduga..atau apalah) melakukan korupsi atau tindakan asusila, inilah makna bahwa tidak semua politisi itu mengetahui betapa besarnya resiko menjadi politisi, karena sudah disumpal sama feedback finansial di sana – sini yang seperti saya sebut di atas tadi.

Lalu apa setiap politik atau politisi, selalu di fasilitasi oleh Partai yang ada, nah ini yang saya kurang suka, kenapa harus ada blok – blok partai? Bukanya justru dengan adanya blok-blok tersebut justru membuat kita terpecah belah? Bisa jadi kita tidak lagi mengenal keseragaman, ketika demokrasi itu sendiri melahirkan idealisme yang berbeda – beda, dan akhirnya jatuhnya kita akan di bedakan asal muasal, keturunan, kasta, suku budaya bahkan agama, demokrasi yang salah melahirkan egosentris kelompok yang mendorong timbulnya fanatisme, karena tiap – tiap partai yang ada selalu mewakili segmen tertentu…hell yeah!

saya tidak peduli seberapa bagus visi dan misi partai – partai itu, kepercayaan khalayak ramai tidak bisa terintegrasi di satu kesatuan politik seperti itu, masyarakat itu bukan komoditi, bukan pula konsumen politik, tapi subjek yang harus di puaskan setiap dahaga kehidupanya, yang selama ini termarjinalkan, atau di perlakukan tidak adil, kesulitan birokrasi dan yang lainya. Dan sangatlah tidak etis jika kalian mengkotak-kotakkan idealisme sekelompok politisi untuk menjadi kesatuan yang satu sama lain saling serang, di saat kita seharusnya duduk manis sama-sama dan berdiskusi.

Saya tidak menyebut semua politisi itu kotor, tetapi tidak bisa juga di katakan mereka tidak punya dosa, selama memang tujuan mereka berpolitik hanya sebagai profesi saja, dan sepertinya saya juga sangat yakin bahwa tidak semua masyarakat mengenal dengan baik siapa wakil – wakilnya, selain senyum ceria di kalender – kalender di pasar pasar atau warung kopi, banner gede anti badai di jalanan yang bikin norak kota kita, dan bunyi sirine ketika mereka lewat, dengan pengawalan seolah sedang mengawal gembong narkoba kelas kakap, selebihnya mereka cuma orang – orang sombong yang bergaya hidup mewah, antisosial, sok pintar, jago ngoceh dan tidak punya urat malu, mana mau mereka jalan – jalan di pasar yang becek, masuk ke kampung – kampung kumuh, berdialog dengan tukang becak, kalau tidak ada perlunya.

Terus terang, saya tidak berbakat seperti itu, saya ini orang biasa – biasa saja, kelas pekerja biasa bukan seseorang yang bermimpi terlalu muluk, dan saya tidak ingin langkah hidup ini di isi dengan kemunafikan, dan keterpura – puraan, sudah cukup apa yang ada, dan saya harus bisa belajar untuk memberi dengan ikhlas tanpa ada embel – embel apapun, mempunyai sisi humanis lebih membuat kita peka ketimbang seorang intelektualis yang hatinya tertutup, karena sisi intelektualitas modern mengajarkan bahwa setiap ilmu yang mereka punya itu mendatangkan rupiah hanya untuk dirinya sendiri, bukan menjadi manusia berguna, percuma dong kita bisa memperkaya diri tetapi di sekeliling kita masih ada yang berebutan lahan cari makan, anak putus sekolah dan anak sekolahan yang tidak mampu beli seragam sekolah. Apapun bentuknya, saya bukanlah manusia yang setega itu…

Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi, biarlah mereka tetap jadi sasaran pelampiasan emosi massal yang biasa kita baca di Koran – Koran dan situs online, mereka ya mereka, dan ini saya, saya tidak mampu jadi mereka apalagi mereka, mana mau merasakan jadi rakyat biasa, teruslah melucu politisi – politisi di manapun anda berada, jangan berhenti melawak untuk kami, dan saya sendiri selalu siap mentertawakan anda.

========================================================

Iklan

Di antara cinta, perjuangan dan barang bekas

“Ahhhh tidaaakk ini sudah februari? Tolong bangunkan saya,! Ooh, Time, could you walk more slowly,? You cannot turn back,! Little bit calm maybe…….. ”

 *******

Ada kalanya pikiran benar-benar ada dalam titik krusial yang kritis, sehingga sangat malas untuk membuat postingan, walau sebenarnya saya tidak begitu sibuk-sibuk amat,mungkin bawaan badan yang kurang begitu sehat seolah kepala ini tertimpa puluhan ton buah semangka, it so hard, dan akhirnya Microsoft word di laptop saya pun di paksa menganggur, efeknya konten-konten di blog pun saya tersierkan, tanpa postingan dan luput membaca postingan menarik blogpage lainya yang biasa saya simak

Ah, awal tahun yang absurd, Terbiasa dengan retorika tak luput sejenak waktu untuk beromantika, mungkin siang hari ini saya mendapatkan sebuah moment yang tepat dan sedikit membuat saya sedikit intens, hmmmmm seberapa intens, mungkn terakhir kali saya melihat kisah cinta hebat dari seorang wanita untuk si pria dalam the perfect storm tapi lupakan film keren yang endingnya menyedihkan ini, saya tak ingin bahas itu.

sepulang dari aktivitas siang ini sembari menutup gerbang rumah, terlihat dua orang pengumpul barang bekas (sebenarnya tidaklah terlalu etis kalau menyebutnya pemulung, toh itu juga profesi selama menghasilkan duit) menghampiri saya yang sedang menutup pintu, ya, dua orang atau tepatnya sepasang, mereka jelas terlihat suami istri, lengkap dengan topi caping khas pak tani yang terlihat kumal dan tidak baik bentuknya, si wanitanya membawa karung penuh barang bekas yang di jinjing, dan suaminya membawa gerobak, sedikit lebih punya beban berat ketimbang sang istri,

si wanita atau tepatnya si ibu menghampiri saya dan bertanya ke pada saya “ibunya mana dik?” dan saya menjawabnya “belum pulang bu” sambil tersenyum, lalu si ibu tersebut bertanya lagi, “lah kamu gak kerja lagi?”, dan sayapun menjawab “tidak lagi bu, kontraknya sudah habis, maklum kalau kerja swasta itu sekarang susah, jadi fokus ke usaha orangtua saya aja dulu, sama-sama dapat duit juga” dan ibu –ibu itu sambil membenarkan topinya menjawab, “ooh ya udah, salam saja ya sama ibu kamu” dan suaminya ikut menjawab “mari dik” dan saya juga memberi sinyal sampai jumpa dan merekapun berlalu berdua, berjalan beriringan. Sebuah moment simple tapi sedikit menyentuh hati.

Saya berfikir sejenak,walau dengan penampilah yang relatif kumuh, keringat dan membawa benda-benda tak lazim ibu itu sebenarnya cantik, saya bisa melihat garis senyumnya, bentuk tubuhnya yang boleh di bilang lebih proporsional ketimbang seorang pemungut barang bekas kebanyakan, mungkin saja kalau si ibu menggunakan gaun dan di lengkapi dengan dandanan plus make up akan menjadi lain kelihatanya, saya yakin si ibu lebih menawan daripada istri pejabat ang bangga-banggain makan gaji hasil duit pajak itu, atau seribu kali lebih humanis ketimbang senyum tengiknya seorang Angelina Sondakh yang ngebet ngaku tak punya blackberry.

Sebuah skena monumentalis yang tersirat dan itu sangan bernuansa romansa muncul di pemikiran saya , sepasang suami istri paruh baya bersama-sama bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, memunguti barang bekas di komplek sederhana kami, dari rumah ke rumah tanpa rasa segan dan malu, tak peduli siang panas, dan keringat bercucuran, belum lagi pandangan sinis terkadang orang-orang komplek yang selalu menstigmakan pemulung itu dengan “pencuri terselubung” yang menganggap mereka itu lebih mirip sampah atau pengemis ketimbang manusia dengan bersikap sinis bahkan mengusir mereka. tapi sepasang pemulung tetap dengan gagahnya menyusuri komplek, rumah demi rumah walau apapun hal yang mereka dapat “berdua”, oh what a sweetest thing that I ever see that.

 Ya, bagi saya mereka adalah pasangan paling romantis dari semua hal yang pernah saya  temui, si ibu yang dengan gagahnya bersedia dengan suka rela atau dengan penuh cintanya mendampingi suaminya walau suaminya hanya seorang pemungut barang bekas dan seorang suami yang mendapat cinta istrinya secara penuh dan mencoba memberikan kekuatan terbaiknya demi untuk bisa menjadi sosok yang berharga di depan mata istrinya, dan mereka pun bersama-sama mengarungi hidup mereka yang keras, menepikan stigma demi kelangsungan hidup. tidakkah itu hebat?

Saya selalu berfikir, berapa banyak seorang wanita yang dengan ikhlasnya mau menerima seorang pria apa adanya, dan rela bersama-sama berkorban untuk kehidupan bersama, mau di ajak susah, tapi tentulah mereka tidak pernah bercita-cita untuk selamanya di hidupi dengan kesusahan, dan sebagai seorang pria, bapak itu, maupun saya atau siapapun tentulah ingin memberikan yang terbaik untuk pasangannya, seberapa keras atau bahaya sekalipun seorang pria akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sosok yang di cintainya, yang mau mendampingi dan di ajak mengarungi hidup yang berat, penuh cibiran, bahkan hinaan,.

tapi kalau kita mau membuka mata, seberapa banyak seseorang yang justru hidup di kehidupan semu, matrealistis dan penuh kebohongan, berapa banyak masyarakat kita yang terdoktrinasi dengan budaya-budaya konsumtif, mereka bahkan yang bergaji tinggi dan berdandan parlente tapi jak jemu-jemunya memproklamirkan kebosanan dengan kehidupanya, seorang istri yang menikahi suaminya karena hartanya, dan harta korupsi, suap menyuap, untuk memberikan berlian kepada istrinya, dan itu fakta, semakin tinggi derajat dan standart hidup seseorang, jutru sangat jauh dari nilai-nilai sosial dan tentunya “cinta”.

sepasang pemungut barang bekas yang saya temui tempo hari justru dapat memberikan pelajaran bahwa cinta dan kehidupan itu tidaklah melulu di translasikan dalam proyeksi harta benda dan jabatan, senyum sang ibu di balik peluh, sungguh saya dapat mensiratkan bahwa dia teramat ikhlas dengan keadaan suaminya dan kehidupanya, dan sebagai suami saya harusnya mengangkat topi setinggi-tingginya, karena ada seorang wanita hebat di sisi anda, yang mau berada di samping anda seberat apapun langkah kalian, teruslah berjalan ibu-bapak pemungut barang bekas yang saya temui tempo hari, saya yakin kerja keras kalian akan terbayar suatu saat kelak, dan terima kasih sudah memberikan saya sebuah kliping kecil monumental yang berharga mengenai kehidupan, perjuangan dan tentunya “cinta”.

Catatan kecil di sebuah restoran cepat saji

folder (4)

instagram

“Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana……”

******

Di penghujung tahun  lalu sepulang dari warung kopi, seorang teman mengajak untuk mengisi perut, tak biasa kali ini dia memilih salah satu restoran cepat saji yang buka, berlogo seorang kakek tua, ya memang tak ada pilihan lagi lagian mana ada warung lamongan atau nasi goreng cap chai kesukaan kami yang buka di tengah malam buta gini, yang tersisa hanya santapan yang biasa kami sebut “junk” dan biasa kami santap pula di tengah malam begini ketika tak ada lagi pilihan.

Sembari mengantri dan memesan paket dengan senyuman manis yang di paksa atau mungkin menahan kantuk, karyawati yang meladeni kami seolah setengah tersenyum kecut dan tak kuasa untuk berlarut dalam kesibukan mereka, mondar-mandir melayani pengunjung. toh karena tugas, mereka tetap membuat diri sendiri telihat bahagia. Dan kami para antrian dengan muka di tekuk pula karena memang sudah lapar dan antrian pun sudah cukup panjang, seolah – olah kita semua di sini adalah aktor yang memerankan masing – masing peran yaitu sama “pura-pura tersenyum”.

Tapi itu bukan perihal yang membuat saya memendam sedikit keheranan, ini memang berwujud restoran cepat saji, akan tetapi di depan saya, di samping saya tertempel poster ukuran jumbo seorang penyanyi, dan di sisi lainya terpampang foto band yang entah siapa mereka, belum lagi televisi di dinding itu terus-terusan memutar video dengan penyanyi yang sama, yang hanya bergoyang-goyang saja dan sangat membosankan, di meja kasir lagi, kok bisa ada beberapa kaset di pajang sedemikian banyaknya dan pastinya yang jelas saya tidak pernah berharap untuk dapat mendengarkan lagu-lagu ciptaan mereka.

Lalu selanjutnya saya berfikir, sebenarnya ini merupakan restoran cepat saji atau toko kaset, lalu sejak kapan restoran cepat saji menjadikan dirinya sendiri sebuah industri rekaman yang kemudian di jual bersama ayam goreng dan kentang goreng yang menjadi produk andalan mereka..? lalu apa sebenarnya yang mau mereka jual..? penyanyi, band ibukota atau makanan..? atau menjual sebuah retorika non-politik yang selama ini kita kenal dengan istilah “budaya pop”.

Selanjutnya obrolan-obrolan berlanjut di sebuah meja makan kecil di tempat yang sama, meja untuk empat orang, meskipun kami Cuma bertiga, dan meskipun ini dini hari tetapi tempat ini tetap saja penuh, di samping kami segerombolan anak abg tanggung seolah entah apa yang mereka rayakan,lalu di sudut sana dua orang sepasang ya lagi-lagi remaja duduk berdua, entah apa yang ada di pikiran mereka, jam segini, berdua..ah masa bodoh, yang jelas malam ini kami di kelilingi anak remaja yang menjadikan tempat ini jadi seolah tanah suci mereka dalam aktualisasi diri, bisa jadi misi “retorika non politis” yang di jual tempat ini akhirnya mengenai target sasaranya, dan….berhasil.

Lalu perihal kaset dan album-album tadi yang di pajang dan di jual di sini beserta ayam goreng dan menu lainya, kenapa sih tidak ada satu dari artis yang di jual itu merupakan band favourit saya?, entah keterpaksaan ide untuk membangun sebuah kultur baru ataukah pengaruh kurtur baru untuk terpaksa di jual untuk memaksa khalayak untuk membelinya, atau dari pihak artis sendiri yang sengaja menawarkan diri ke pihak franchising untuk rela di jual untuk lebih mendistribusikan lagu-lagu mereka ke khalayak, dan berharap mereka menjadi terkenal, kaya raya karena sukses menjual karya mereka di restoran cepat saji

Mungkin dulu Philip Kotler tak pernah menduga, bahwa ide isengnya perihal marketing mix, yang kemudian ajaranya menjadi “membumi” lalu di jadikan patokan umum pelaku bisnis konvesional, dan ujung-ujungnya dunia menciptakan budaya mereka sendiri yang di sebut industrialisasi dan kapitalisasi, lalu bukan lagi menjadikan konsumen itu raja akan tetapi malah berbalik menjadikan mereka korban dari berbagai macam teorika kehidupan yang di ciptakan pelaku-pelaku bisnis konvensional tersebut.

Lalu terlintas di otak kami jikalau semisal ada band punk rock, atau metal yang di jual franchise dalam bentuk keluaran cd indie yang biasa mereka sebarkan di gigs – gigs…..apa jadinya, walau sepertinya saat ini metal dan punk bisa juga di katakan budaya mainstream di kalangan anak muda, akan tetapi tetap ada konteks yang membedakan budaya-budaya dalam sebuah genre antara budaya satu dan lainya, dan bersyukurlah belum ada produk francise yang meng endorsement band-band sedemikian..hoo…hoo

Dulu saya masih teringat respon skena-skena yang berpandangan miring dengan bergabungnya Burgerkill atau Superman Is dead dalam industri rekaman major, bahkan tak sedikit rekan-rekan seperjuangan mencap band-band tersebut dengan istilah pengkhianat, walau memang butuh waktu bagi mereka untuk mengembalikan stigma bahwa baik major ataupun independent bukalah patokan untuk sebuah musik metal dan pop punk untuk harus kehilangan identitasnya, setidaknya mereka sudah membuktikan itu.

Lalu kalau boleh saja band metal berteman dengan budaya mainstream, dan selanjutnya mungkin saja menandatangani kontrak major dengan embel-embel lainya, mungkin saja suatu saat saya bisa melihat poster dying fectus, forgotten, straight answer atau rosemary di pajang bersanding dengan menu ayam goreng di restoran franchise, dan mungkin poster konsernya the black dahlia murder atau anti-flag bakalan terpampang besar bersama paket hemat ayam goreng di sini…wah.

Ya masalahnya toh ikon-ikon non populis kini sudah mewabah, tongkrongan metalhead dan punk rockers sudah ngikut berkiblat ke arah-arah hedonis, mereka memenuhi tempat-tempat konsumtif, gak jarang remaja sekarang memasang atribut cadas hanya karena ngikut fashion dan hanya untuk di bilang keren, ujung-ujungnya, bukan barang yang yang absurd lagi kalau menjumpai remaja dengan outfit semacam, seringai, thirteen,  jeruji dan embel-embel bawah tanah lainya, nangkring di mall-mall bahkan di restoran cepat saji, ya seperti malam ini anak-anak yang bergerombol di seberang meja saya dengan teman-temanya memang bergaya seperti itu, entah karena ingin menunjukan jati diri “kecadasan” mereka, atau karena apalah, memang saya tak begitu peduli.

Akan tetapi menyandingkan ikon-ikon hardcore tersebut di sebuah tempat yang terang-terangan mengendorsement budaya pop mainstream ya sepertinya sama saja memajang stigma “equality” dan menyama-nyamakan band-band yang tergambar di baju remaja-remaja itu dengan band-band yang terpajang di meja kasir sana. Dan kita sama-sama terlarut di tempat yang sama.

Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana, di dinding restoran ini, atau di meja kasir, setidaknya apa yang saya suka masih bisa di bilang “perawan” dan tidak tersentuh budaya populis, karena merupakan hal yang tidak mengasyikkan lagi ketika musik  yang saya sukai atau band favourit saya harus berbagi pasar dengan band-band yang ingin di bilang keren itu, yang mencari pasarnya dengan menjual karya mereka sepaket dengan makanan cepat saji, dan berharap muda-mudi menyukai dan mengagumi mereka walaupun mereka memproduksi musik dan gaya hidup yang sangat buruk, karena restoran cepat saji itu ya hanya restoran, penyedia makanan instan untuk di makan, bukan tempat untuk jualan kaset atau promosi rekaman.

========================================================

unspoken secret – the lettering from silence

“Dan kitapun terus berteman, ya aku menganggapmu teman yang sangat baik, dan aku cukup terkejut terkadang kamu mengomentari penampilanku, cara berpakaianku, wah aku sangat senang sekali tentunya, itu maknanya tak di sangka engkau terkadang juga memperhatikan aku dalam diammu, aku tau, kamu mungkin ingin mengenalku lebih jauh, ya sebagai seorang teman tentunya”

mcft mrtshn 2012

Secangkir susu hangat malam ini mengantarkanku berpetualang di alam imajinasiku yang kosong, di sini, di otakku, di mana ada reaksi kimia yang entah apa namanya, terus muncul dan susu hangat tadi seolah sebagai stimultan yang merangsangnya lebih lebih dalam lagi…lebih dalam lagi ke dalam imajinasi itu………hmm

hmmmm… Aku tentu saja masih ingat bahasa tubuhmu, caramu berpakaian, cara kamu berbicara, lentik jarimu, cara dudukmu, semua itu memang sebuah ungkapan non verbal bagi siapa saja yang berada di dekatmu, tak lupa di balik semua itu yang mendeskipsikan kamu ke sebuah orientasi sensual yang sangat, kamu itu hot, sangat sangat hot, kamu lebih hot dari model panas manapun juga, itu semua menutupi senyummu yang biasa saja, tapi aku tau di balik gayamu yang seduktif itu, kamu juga cerdas, sangat cerdas dan sekali lagi kamu benar benar cerdas dan aku mengetahui itu, karna kecerdasanmu menjadikan kamu itu adalah tumpuan, dan kamu cukup senang dengan hal itu

Pernah mengenalmu di saat yang tak terduga, bukan suatu berkah yang baik, tapi aku cukup senang…. mulanya aku hanya berfikir kamu adalah seseorang yang sama dengan mereka yang ada di tempatmu tumbuh, tetapi di saat yang lain, di sisi yang lain kau mulai memberanikan diri berteman dengan denganku, sosok yang biasa biasa ini. dan seperti biasa aku tak terlalu memperdulikanmu selain berfikir kamu adalah sesuatu yang cukup menarik yang mau berteman denganku

Aku terkadang sengaja tak begitu memperhatikanmu, dan dan terkadang kamu juga sangat tak memperdulikanku, mungkin kita di saat saat itu terlalu sibuk dan asik dengan dunia kita masing masing, terkadang aku sedikit menyempatkan diri memandangmu, memperhatikanmu, walau sejenak….hihihi aku suka dengan raut muka seriusmu, kamu  sedikit cemberut, sisanya kamu suka dengan ekspresi yang datar, aku selalu mengagumi kamu, karna kamu adalah seorang yang sangat cerdas dan pintar…..wah walau sejenak memperhatikanmu rasanya menyenangkan, aku cukup senang walau hanya bisa memperhatikanmu, walau terkadang ingin sekali aku memanggilmu, mengajakmu berbincang bincang, tapi mungkin kamu terlalu asik dengan duniamu, yaah, aku hanya bisa memandangmu dengan sekilas,

Dan kitapun terus berteman, ya aku menganggapmu teman yang sangat baik, dan aku cukup terkejut terkadang kamu mengomentari penampilanku, cara berpakaianku, wah aku sangat senang sekali tentunya, itu maknanya tak di sangka engkau terkadang juga memperhatikan aku dalam diammu, aku tau, kamu mungkin ingin mengenalku lebih jauh, ya sebagai seorang teman tentunya. Aku suka sekali ketika aku mendengarmu mengeluarkan statement2 yang konyol tentang aku, tapi bagi aku tidaklah tersinggung mendegarnya, malah aku cukup senang, itu maknanya kamu adalah seseorang yang asik di ajak bercanda, dan tentunya kita semakin akrab.

Tapi aku kesal, ketika aku sudah cukup mengumpulkan keberanianmu untuk sekedar menegurmu, memulai pembicaraan, atau bercanda denganmu kamu justru sangat asik dengan kesibukanmu, duniamu. Harusnya kamu tau mengumpulkan keberanian itu sulit bagiku, dan aku sangat kecewa….kecewa sekali, beruntung teman temanku dapat mengalihkan itu, melupakanmu sejenak, dengan tidak melihatmu, setidaknya mengurangi kekesalanku, dan ingin sekali aku bergumam….kamu menyebalkan…

Tapi kamu memang selalu muncul di dalam kondisi yang tak terduga, aku masih ingat hangat sentuhan kecilmu di pundakku, berkali kali, kamu berkali kali mengulangi itu, entah kamu tersadar atau tidak, sentuhan itu sangat hangat, benar benar hangat, sehangat silaunya sore hari di temani secangkir the manis. Aku cukup senang karena kamu sering datang di saat tepat yang tak terduga, di kala aku lelah, di kala aku terbalut emosi dan sedikit frustasi, sentuhan sentuhan kecil itu bagaikan antibiotik yang meredakan sakit kepala yang berat, kamu transformasikan energi, entah itu energi sejenis apa yang mereduksi bagaikan senyawa akut yang meredakan setiap beban di hatiku, dan mengikisnya perlahan, aku tau kamu punya formula untukku dan di setiap saat saat aku rapuh, dan sambil meredakan lelahku, kamu juga sering menyisipkanya dengan memberiku semangat dan agar percaya bahwa aku ini sebenarnya seseorang yang kuat, dan aku cukup terharu setidaknya kamu memperhatikan aku sangat walau sejenak

Sekali lagi sentuhan itu, kata kata penyemangat itu benar benar bekerja maha dashatnya karena aku benar benar terkontaminasi denga lembutnya sentuhanmu dan kata kata penyemangatnmu yang membakar bagai batu bara dalam kereta uap yang sanggup mengarungi pegunungan yang terjal

Di sini aku tidak lagi berpikir kamu itu bukan hanya sesuatu yang menarik, tetapi menakjubkan, mengagumkan, kamu itu sesuatu yang luar biasa, ingin sekali rasanya aku mengajakmu tak lebih sekedar minum teh bersama, atau apalah, aku ingin sekali berbincang bincang dengan mu, membelai rambutmu itu, mencubit pipimu yang menggemaskan, memuaskan rasa manjamu, bercanda denganmu, memotretmu…ah..

Tapi entahlah, sampai suatu saat kita harus di pisahkan oleh sang waktu, di mna mungkin untuk beberapa saat atau entah sampai kapan kita tidak akan berjumpa, mungkin itu sangat lama, aku tidak pernah tau, hmmmm….sunggu di sini aku berfikir bahwa mengenalmu di saat yang sangat sejenak ini sungguh sesuatu yang menyebalkan, kenapa juga aku harus kenal kamu, ataukah kita memang cukup di takdirkan berteman dalam waktu yang sesaat, atau memang kita hanya di jadikan figurant bagi kehidupan kita masing – masing, atau apa…ah entah, dan aku masih sangat berharap aku masih bisa bertemu denganmu, walau di saat itu kamu sudah lupa denganku…

Silence is still hurt, but silence will depict million reason to tell that I like you very much, and I still watching you even you never know it
 
Mcftmrtshn 2012 rocking secret

================================================================

kenyataan……

it getting hard everyday, were stay here face all the problem, challenge and more unsatisfaction hope

belakangan ini aku cenderung paranoid (what the hell) beruntung aku masih waras, dan gak gila. Terus terang, kenyataan akan keterpaksaan resign dari pekerjaan dari seorang account officer atau marketing pada sebuah bank mediocore membuat tekanan mentalku menjadi jadi.

For you know why, pada mulanya pekerjaan yang mengharuskan aku bertemu banyak orang dan crossing to market seolah mendoktrinasi otakku, dan sekarang ketika aku di paksa untuk pisah dengan profesi tersebut seolah kepalaku serasa di timpa beban ribuan ton, berhari hari, berminggu minggu lamanya aku sungguh menjadi paranoided, apalagi ketika melihat berjejernya toko toko di sepanjang jalan yang seolah memanggil manggil untuk minta di prospek sangat sangat menyiksa belum lagi panggilan dari nasabah2 yang baru saja butuh modal…oooh dari dulu kalian semua kemana…

Baiklah, semuanya bermula pada sisi diriku yang mengutamakan komitmen untuk memberikan yang terbaik pada tempatku bekerja, mungkin ini adalah pesan ibuku, pesan keluaga keluargaku yang menurunkan idealisme kejujuran, anywhere and anyplace, whetever that you are,

Keputusan untuk mundur aku rasa merupakan pilihan yang cukup baik, mengingat teman temanku banyak yang mempertahankan pekerjaanya dengan cara cara unfair, dan selalu seperti itu, bahkan ya kalau mau sukses di jaman sekarang memang harus seperti itu

But ini kan cuma contoh cuplikan kecil, contoh bahwa idealisme turun temurun terkadang enggak bisa aku jadikan patokan, mungkin apa yang kami anggap baik belum tentu baik buat kelompok lainya, lalu aku selalu berpikir, ketika aku saja ketika sudah “dianggap” tidak memenuhi ekspektasi para manajemen, dan harus di paksa untuk mengundurkan diri, lalu bagaimana perlakuan buat para petinggi petinggi di negeri ini..? mereka yang menjabat dirut perusahaan milik negara..? pernahkan kamu melakukan voting bagaimana penilaian kamu terhadap anggota parlemen di negeri ini..? menurut kamu sudahkan  mencerminkan sebagian kecil saja kesuksesan mereka dalam mewakili rakyat kita yang majemuk..?

Tentu tidak kawan mereka adalah sosok kegagalan yang sesungguhnya, entah kenapa di negeri yang seolah olah terdiri dari pelawak ini, aku heran sekali ketika ada hakim yang memutus bersalah seorang pencuri sendal yang ternyata enggak sesuai dengan hasil yang di dapat sang “terduga” pencuri…”pathethic” so bagaimana mereka para hakim, para penegak hukum bisa memutuskan perkara sepele sangat cepat, bagaimana dengan kasus century, wisma atlet dll…apakah ada jawaban, satu satunya kata kecil dari saya “mending mundur saja “ pak/bu

Ya, kami memang orang kecil yang selalu di perlakukan tidak adil, aku Cuma orang apatis yang sudah tidak tau lagi mau kemana untuk mengadu di negeri ini, dan sangat sedih ketika para pemimpin di negeri ini terdiri dari para pelawak, penipu dan pencuri yang enggak mengundurkan diri walau mereka sangat sangat tidak pecus mengurusi tanggung jawabnya

Semoga saja apapun yang terjadi, aku hanya ingin menjadikan komitmenku, komitmen keluargaku menjadi stimulan bahwa ketidak adilan semuanya akan di balas oleh yang maha kuasa

Amin – in god we trust

I m still the same kids just like that time

Aku masih seorang yang sama seperti dulu di mana jalanan umum dan plafon megamall di jadikan skatepark dadakan

Aku juga masih seseorang yang sama seperti dulu dengan playlist2 yang sok ke barat2 baratan

Aku juga masih suka dengerin blink 182, offspring, limp bizkit, slipknot, deftones, anti flag, dropkick murphy`s, the mighty mighty bosstone, greenday, rancid, nofx, pug jelly, atau no use for a name

Aku masih ingat waktu aku dan mereka bergerilya bikin zine, dan bergerilya pula bagi bagiinya di sekolah sekolah, kampus dan distro distro

Aku juga seakan masih terasa pedasnya sikutan “liar” moshpit di sebuah gigs

Bahkan aku masih punya foto dengan outfit  yang ku beli di sebuah distro pertama di sini

Aku punya file itu, semua terekam sangat sangat jelas, akan tetapi waktu selalu berjalan, mengenalkan aku bahwa dunia bukanlah sebuah sudut pandang satu sisi, di mana masing masing plot plotnya tidak saling berhubungan, tetapi aku yang harus mencoba untuk membiarkan diriku membaur dalam masing masing plot tersebut, di suatu saat aku harus makan malam dengan seseorang yang sangat menggemari musisi favorit yang justru sangat aku benci, berbisnis dengan mereka yang tidak mengerti dengan celana skate atau sepatu vans

Semua itu merupakan sebuah sisi lain yang harus aku hadapi, agar aku banyak belajar menjadi seseorang yang lebih dewasa, ya itu aku….seseorang yang belajar menjadi orang dewasa sepenuhnya

Mcft mortishen 2012