saya (mungkin juga kamu) dan benda bernama “radio”

ria scene (25)

“dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita”

 Terkadang sebuah memorabilia bisa saja memiliki nilai historisnya tersendiri, sebagian teenlite masa 60an di masa senjanya mungkin mengharta karunkan piringan hitam “Please Please Me” nya the beatles saat masih menggunakan label Parlophone, walau bahkan mereka mesti bertahun-tahun untuk mendapatkan rilisan terawal dari band asal Liverpool tersebut, sama halnya dengan saya, walau terlahir jauh dari dekade nenek dan kakek saya masih memakai cutbray dan rok polkadot tersebut, bukan berarti tidak pula saya tidak bisa menemukan sebuah memorabilia yang bisa membangkitkan romatisme kisah tersendiri

Kalau boleh mentinta hitamkan sebuah memorabilia tentu saja saya akan mensejarahkan radio-radio dan mini kompo saya yang merupakan benda keren yang di punyai anak laki-laki remaja pada tahun90-2000an, dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita, sama seperti saya yang meletakkan radio saya di bawah posternya limp bizkit dan Michael  Jordan di atas lemari pakaian saya yang mini.

Seolah di kekang dengan keterbatasan dan menjadi pendengar dengan kacamata kuda, entah berapa banyak waktu dalam sehari yang kita habiskan dengan sia-sia hanya untuk menunggu sebuah lagu dari band yang kita suka, dan dalam penantiannya berjam-jam kita membayangkan rupa asli dari seksinya suara penyiar radio yang bertahun kemudian kita menemukan sosoknya dari facebook, dan sambil bergumam, “ooh begini rupanya muka mbak itu…”

Mahalnya harga compact disc dan keterbatasan player yang saya punya tak lekas membuat saya untuk langsung memilih membeli album band favourit saya, kalaupun ingin sekali saya lebih memilih mengkoleksi kaset –  kaset mereka,  dengan rata-rata harga kaset luar negeri 20 ribu rupiah, yang ujung-ujungnya belum tentu kita menyukai semua track dalam album tersebut, atau mungkin kita hanya mendengarkan satu atau dua track, sisanya bahkan terlupakan.

Entah sia-sia atau tidak gara-gara tertarik dengan “shinning light” nya ash yang berkali-kali di putar di radio, saya merelakan uang 20ribu yang di masa itu sangat mahal untuk membeli free all angels milik mereka, dan sudah di prediksi ya saya membeli album mereka hanya untuk mendengarkan album yang itu. Bukanya saya berpendapat track yang lain tidak bagus, tetapi ya memang saya hanya menyukai track yang itu saja, tidak hanya itu tentunya, ada pula sugar-ray dengan when its overnya, yang saya hanya dengar ya hanya “when its over” dan “answer the phone”,atau Eminem dengan “without me” nya dan sebagainya.

Merupakan hal yang wajar ketika kita tidak menyukai hampir semua track dalam sebuah album band, karena kita hanya mendengarkan sebuah hits yang selalu menjadi primadona di radio, yang juga merupakan salah satu marketing strategicnya sebuah label besar agar album band-band yang mereka jual itu laku di pasaran, apa yang di putar di radio yang saya tunggu berjam-jam sehari itu yang namanya hits atau lagu jagoan, jadi apa yang melekat di benak kita ya memang hanya lagu itu,

Kalau membajak itu merupakan kriminal, entah berapa orang yang merekam track yang mereka suka yang di putar di radio pada kaset kosong, hal ini mungkin di rasa lebih menghemat pengeluaran untuk tidak dipaksa membeli album yang mungkin lagu yang di sukai hanya sebiji atau dua biji, akan tetapI dengan kualitas suara lebih buruk, memanglah kita tidak merasa puas,

Hadirnya invasi internet agaknya menepikan peran radio sebagai standart nilai selera musikalitas pendengarnya, internet menawarkan pra-dengar playlist dalam sebuah album, album apa saja, siapa saja dan dari belahan dunia manapun, ratusan referensi playlist-playlist menarik yang luput dari publikasi rolling stone atau Mtv era sekarang,

Tidaklah buruk ketika kita berkata jika sebuah invasi dari domestikasi teknologi membuahkan simbiosis mutualis sehingga kita bisa memutuskan track mana yang bisa membuat kita jatuh cinta dalam sebuah album, dan agaknya radio juga harus merubah strategi agar tidak di tinggalkan pendengarnya, karena seolah dapat mukjizat ketika kita bisa bebas mengunduh track yang kita suka, tanpa harus keluar biaya, selain biaya internet, dan kita tak perlu takut lagi harus mendengarkan track yang kita tidak suka dalam suatu album.

Akan tetapi dengan munculnya internet tak lekas membuat radio itu tenggelam, atau mungkin saya saja yang tidak terlalu menyimak mereka, mereka tetap menyuguhkan track-track fresh dan top 40`s sebagai referensi pendengar, sebagian radio juga sangat membantu mempromosikan dan mendistribusikan beberapa label rekaman independen dan kolektifan yang bisa menjadi referensi untuk pangsa marketnya tersendiri, walau dengan seribu kali sayang mini kompo dan beberapa radio saya yang dulu membuat kami merasa keren kini sudah rusak, lenyap tanpa tersisa secuil bangkai pun,

Bagi saya sendiri mendengarkan radio dengan gadget yang lebih modern tak semenarik dulu, tak semenarik radio saya dengan fisiknya yang unik yang selalu saya anggap teman baik di kamar, sebuah benda bersuara yang di lengkapi lampu berwarna, dengan sticker parental advisory di satu sisi dan logo anti-flag di sisi lainya, radio yang dulunya mengenalkan saya dengan sepultura, mushroomhead, crazytown greenday atau blink 182, yang membuat saya rela menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk menunggu di putarnya lagu band kesukaan saya dan memutarkan sms yang saya kirim, sampai membayangkan seperti apa wujud penyiar yang kita dengar suaranya, Yah, setidaknya setiap generasi menemukan romantisme tersendiri dengan gadget mereka yang semakin modern,  seperti saya dan radio-radio saya dulu. (mcft)

========================================================

Joke itu namanya Politik

“Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi…….”

**** 

mortishen.deviantart.com

Kalau saya boleh bercerita tentang salah tawaran terkonyol kepada saya, tentunya adalah tawaran untuk berpolitik,  tidak ada yang salah ketika seorang yang saya kenal sebagai salah satu elitokrat di tempat saya, yang dulunya berprofesi sebagai ajudan pejabat dan akhirnya dia sendiri yang ikut-ikutan jadi pejabat, dan beliau menyarankan saya untuk mengikuti jejaknya untuk menjadi salah satu kader di partai yang di usungnya, minimal menjadi seorang staff saja, dan beliau banyak memberikan iming-iming feedback yang banyak, proyek-proyek yang menguntungkan yang bisa menjadi sumber pemasukan, sampai ajakan menjadi salah satu kader yang di calonkan, wah segampang itukah…?

Saya akui berpindah – pindah kerja dan sulit mendapat pekerjaan tetap itu memang bukan hal yang bagus, tetapi berpolitik? Ini, lucu, tentunya saya hanya tersenyum manis dan tak lupa berterima kasih dengan tawaran surgawinya, tetapi ya tertawa terbahak-bahak di dalam hati, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya hanya ingin bilang, politik itu bukan masalah berapa dan apa yang bisa kita dapat, atau apa yang telah kita berikan untuk partai, tapi sebuah tanggung jawab mewakili sebuah aspirasi komunal dan massal, modal pinter ngomong saja bukanlah indikasi kita bisa berpolitik, dan maaf saja saya ini bukan artis atau selebritis, yang doyan berpolitik itu biasanya selebritis bukan..? jadi kelak ketika semisal saya jadi pejabat saya tidak cukup bisa ber akting untuk sok baik, sok ngaku-ngaku tidak bersalah, sok mengkritik atau sok tebar pesona untuk pejabat-pejabat lainya…swear saya tidak bisa berakting.

Sebagian orang menjadikan politik sebagai profesi hidupnya, dan melupakan hakekat tanggung jawab yang berada di belakangnya, wajar sekali mengingat semakin bergengsi profesi seseorang, mereka akan sangat mendekati perilaku hedonis, dan konsumtif, perubahan paradigma dan bahkan amnesia. Gampang memang membayangkan apa yang akan di terima oleh politisi, anggota parlemen dan sebagainya, tapi apa mudah mendengarkan keluhan – keluhan subjek- subjek yang ingin kehidupanya lebih baik? Apa saja prestasi seorang politisi selain hanya menjadi beban Negara karena gaji mereka itu bayarnya dari pajak.

Sebuah anekdot yang sering kita dengar sudah cukup menjabarkan sebuah deskripsi tentang politik itu, “kalau dalam kehidupan nyata kita hanya bisa terbunuh satu kali, tapi di politik, kita bisa di bunuh berkali – kali”, saya rasa semua politisi yang selama masih bisa baca tulis dan tidak mengidap gangguan kejiwaan akut paham benar kata – kata itu, terjun ke politik itu harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk “di bunuh” berkali, kali, jadi wajar dong kalau seorang politisi di fitnah, di caci maki. Terus anehnya kalau sudah mengatahui itu merupakan konsekuensinya, tapi kenapa tidak sedikit para politisi itu yang sewot mencak mencak, sampai kebakaran bokong karena di todong dengan tuduhan (bahasa media-nya diduga..atau apalah) melakukan korupsi atau tindakan asusila, inilah makna bahwa tidak semua politisi itu mengetahui betapa besarnya resiko menjadi politisi, karena sudah disumpal sama feedback finansial di sana – sini yang seperti saya sebut di atas tadi.

Lalu apa setiap politik atau politisi, selalu di fasilitasi oleh Partai yang ada, nah ini yang saya kurang suka, kenapa harus ada blok – blok partai? Bukanya justru dengan adanya blok-blok tersebut justru membuat kita terpecah belah? Bisa jadi kita tidak lagi mengenal keseragaman, ketika demokrasi itu sendiri melahirkan idealisme yang berbeda – beda, dan akhirnya jatuhnya kita akan di bedakan asal muasal, keturunan, kasta, suku budaya bahkan agama, demokrasi yang salah melahirkan egosentris kelompok yang mendorong timbulnya fanatisme, karena tiap – tiap partai yang ada selalu mewakili segmen tertentu…hell yeah!

saya tidak peduli seberapa bagus visi dan misi partai – partai itu, kepercayaan khalayak ramai tidak bisa terintegrasi di satu kesatuan politik seperti itu, masyarakat itu bukan komoditi, bukan pula konsumen politik, tapi subjek yang harus di puaskan setiap dahaga kehidupanya, yang selama ini termarjinalkan, atau di perlakukan tidak adil, kesulitan birokrasi dan yang lainya. Dan sangatlah tidak etis jika kalian mengkotak-kotakkan idealisme sekelompok politisi untuk menjadi kesatuan yang satu sama lain saling serang, di saat kita seharusnya duduk manis sama-sama dan berdiskusi.

Saya tidak menyebut semua politisi itu kotor, tetapi tidak bisa juga di katakan mereka tidak punya dosa, selama memang tujuan mereka berpolitik hanya sebagai profesi saja, dan sepertinya saya juga sangat yakin bahwa tidak semua masyarakat mengenal dengan baik siapa wakil – wakilnya, selain senyum ceria di kalender – kalender di pasar pasar atau warung kopi, banner gede anti badai di jalanan yang bikin norak kota kita, dan bunyi sirine ketika mereka lewat, dengan pengawalan seolah sedang mengawal gembong narkoba kelas kakap, selebihnya mereka cuma orang – orang sombong yang bergaya hidup mewah, antisosial, sok pintar, jago ngoceh dan tidak punya urat malu, mana mau mereka jalan – jalan di pasar yang becek, masuk ke kampung – kampung kumuh, berdialog dengan tukang becak, kalau tidak ada perlunya.

Terus terang, saya tidak berbakat seperti itu, saya ini orang biasa – biasa saja, kelas pekerja biasa bukan seseorang yang bermimpi terlalu muluk, dan saya tidak ingin langkah hidup ini di isi dengan kemunafikan, dan keterpura – puraan, sudah cukup apa yang ada, dan saya harus bisa belajar untuk memberi dengan ikhlas tanpa ada embel – embel apapun, mempunyai sisi humanis lebih membuat kita peka ketimbang seorang intelektualis yang hatinya tertutup, karena sisi intelektualitas modern mengajarkan bahwa setiap ilmu yang mereka punya itu mendatangkan rupiah hanya untuk dirinya sendiri, bukan menjadi manusia berguna, percuma dong kita bisa memperkaya diri tetapi di sekeliling kita masih ada yang berebutan lahan cari makan, anak putus sekolah dan anak sekolahan yang tidak mampu beli seragam sekolah. Apapun bentuknya, saya bukanlah manusia yang setega itu…

Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi, biarlah mereka tetap jadi sasaran pelampiasan emosi massal yang biasa kita baca di Koran – Koran dan situs online, mereka ya mereka, dan ini saya, saya tidak mampu jadi mereka apalagi mereka, mana mau merasakan jadi rakyat biasa, teruslah melucu politisi – politisi di manapun anda berada, jangan berhenti melawak untuk kami, dan saya sendiri selalu siap mentertawakan anda.

========================================================

sedikit soal Nu Metal

“I know why you blame me (yourself) ..I know why you plague me (yourself)”

Saya rasa masih banyak fans musik nu-rock hafal track itu, sebuah track milik slipknot dari album mereka yang paling fenomenal di dekade tahun 2000an, tepatnya rilis pada 28 Agustus, 2001, yang juga menjadi soundtrack dari film resident evil, dari judul dan chorusnya saja kita bisa sedikit membaca makna dari lirik itu, “sebuah wabah”

5962066006_85a75a1005_zDekade penghujung akhir tahun 1990-han memang mainstream musik sedang di serang sebuah wabah yang membuat pendengarnya menjadi tergila-gila, Nu-rock atau istilah popolernya Nu-metal, dan slipknot sendiri sebuah band dengan genre yang sama, meskipun mereka mencampurnya dengan berbagai jenis genre sehingga membuat musik mereka benar-benar semarak.

Nu metal mungkin lahir dari sebuah percampuran berbagai macam genre mainstream, dan bahkan juga bisa di bilang sebuah pemberontakan pemuda-pemuda penggila musik dan fashion untuk mencari jati diri yang baru, karena musik rock klassik yang sedang ngetop sebelumnya begitu menjemukan.

Masih ingat di mana era Run DMC berkolaborasi dengan aerosmith dalam walk this way..? tentu mungkin sebagian dari kita masih sangat kecil pada saat track fenomenal tersebut di rilis pada tahun 1986, atau mungkin sebagian dari kita justru belum lahir.

Track ini disebut sebagai embrio lahirnya musik kolaborasi yang saat itu di bilang tidak umum, karena sudah jelas kita mengetahui kalau aerosmith itu rockstar sedangkan Run DMC itu grup hip hop jalanan, tapi mengkolaborasikan kedua musik tersebut bukanlah hal yang tabu.

Embrio ketidaklaziman kedua musisi inilah justru mendorong pada munculnya genre-genre baru yang diluar dari trending musik saat itu, sebutlah saat itu dunia musik rock seolah di wajibkan untuk memiliki ciri khas tertentu, baik dari musikalitas maupun fashion, akan tetapi kelahiran generasi-generasi musik setelahnya justru melawan arus dari genre-genre heavy metal yang meledak saat itu.

Selanjutnya musik rock saat itu banyak di mainkan dengan irama-irama seperti funk ataupun hip hop, tanpa meninggalkan distorsi ciri khas musik metal, yaitu kasar dan berat, selebihnya band-band yang muncul memiliki musik yang lebih simpel, karena tak semua musisi baru saat itu fasih bermain gitar layaknya para gitaris-gitaris band-band heavy metal, akan tetapi mereka dapat menghasilkan musik dengan chord seadanya dan tentunya kolaborasi dengan beberapa elemen musik seperti hip hop dan funk menjadi nilai lebihnya.

Selanjutnya musik-musik percampuran seperti ini mulai di bawakan oleh remaja di amerika, sampai salah satunya pada tahun 1988 salah satu dari mereka membentuk band yang kita kenal sekarang bernama Deftones,

crazyTown2WBanyak sumber yang megklaim jika Korn merupakan band nu-metal pertama, tapi saya rasa tidak demikian melihat Chino moreno, Abe Cunningham dan kawan-kawan yang saat itu bersekolah di sekolah yang sama telah membuat demo mereka di tahun 1988 sedangkan cikal bakal dari band Korn merupakan dari band L.A.P.D yang beraliran funk-metal yang merilis album Love and Peace Dude EP justru di tahun 1989

Selanjutnya musik dengan genre seperti ini benar-benar mewabah dengan lahirnya beberapa band fenomenal seperti Limp Bizkit, Linkin Park, POD, Sevendust, Mudvayne, rise againt the machine, ataupun Crazytown

Saat dekade era 2000an wabah hip-metal tak hanya membombardir MTV ataupun radio-radio lokal, tetapii juga menginfluence fashion remaja saat itu, banyak brand-brand erdorsement ciri khas musisi hip metal laris di pasaran, sebut saja Tribal, Independent dan lain-lain.

Mungkin tak selamanya genre musik mainstream itu harus diisi dengan genre-genre yang membosankan seperti elektro-pop, r.n.b, ataupun pop tetapi musik metal juga bisa bersanding di dunia musik mainstream merupakan sebuah angin segar bagi penggemar musik rock untuk menemukan alternatif baru jenis musik yang ada, kalaulah mereka penggemar rock sudah barang tentu banyak pilihan yang ada.

Limp bizkit sendiri bisa di bilang sebagai band hip-metal paling sukses dengan penjualan significant other di tahun 1999 mencapai 643,874 copy di minggu pertama, dan menduduki nomor 1 di billboard200, lalu puncaknya nu metal sering merajai panggung-panggung musik rock saat itu, sebut saja Family Values, ataupun woodstock 1999 yang di isi sebagian besar band-band beraliran nu-rock. (mcft mrtshn)

ICP cover house of pain track : The gift from early month!

Tak ada yang spesial di awal maret tapi ada yang menarik di awal februari lalu, memang luput dari postingan bulan lalu, tapi tak apalah toh bukan berita baik, karna sekali lagi awal tahun tak terasa telah termakan waktu begitu cepatnya, pasca meninggalnya ibu dari teman saya yang kami tunggui berhari-hari di rumah sakit, dan pada akhirnya beliau harus menyerah dengan leukemia yang deritanya, sangat di sayangkan awal tahun saya lagi-lagi punya titik hitam, sama seperti tahun lalu di periode yang sama saya harus di paksa berhenti kerja.

*****

icpDan di awal bulan februari kemarin ada yang sedikit menggembirakan pula bagi ruang dengar saya, mungkin saya adalah salah satu fans yang sangat teramat ingin melihat 2 band hip hop yang berbeda genre untuk berkolaborasi, walau itu tidaklah sangat mungkin mengingat everlast dan rekan sudah terlebih dulu bubar untuk saya mimpikan berkolaborasi dengan violence J dan shaggy 2 dope, ya benar saya ingin sekali melihat mereka melakukan jamming season atau setidaknya garapan bersama, meski dua-duanya punya karakter musik yang sangat jauh.

Insane clown posse (ICP) mungkin bukan band hip hop kebanyakan, mengusung horror core , lebih tepat sebagai band spesialis musik dengan tema-tema tak lazim yang biasa jadi tema-tema film-film horror  seperti pembunuhan (psikopat), zombie, urban legend, paranoid, sakit jiwa dan lain. Saya tak tau banyak tentang hip hop di pelosok dunia, tapi untuk saat ini mereka adalah salah satu band hip hop yang pakai make up badut dan juga punya profesi lain sebagai pemain gulat, bagi yang sering mengamati pertandingan gulat era wwf atau wcw mungkin sering melihat mereka di atas ring gulat dengan nama (tag team) dark carnival, dan berkolaborasi dengan beberapa pegulat professional lainya, seperti vampiro dan the oddities, sungguh hal yang tak lazim bagi band hip hop umumnya.

Sedangkan house of pain sendiri merupakan band irish hip hop kebanyakan, sama seperti hip hophead awal 90an, dari sekian banyak band-band hip hop yang ada bagi saya house of pain merupakan satu yang menarik, dua MC dan  satu DJ, menurut saya tak banyak penerus generasi run DMC di era 80an dan house of pain merupakan salah satu yang punya karakter lebih dekat dengan run DMC.

ICP dan house of pain sama-sama berdekatan dan sangat identik dengan musisi rock, baik berkolaborasi ataupun sekedar menginspirasi, ICP sendiri pernah menjadi pengisi acara talk show di mana Slipknot pertama kali muncul, selain mereka juga menjadi salah satu pengisi Woodstock 99 (dan di sinilah untuk pertama kalinya saya melihat penampilan mereka), Woodstock 99 merupakan seri woodstock di mana genre hip metal masih merajai industri musik, dan banyak pengamat musik yang mengatakan Woodstock 99 memang di buat  lahir untuk fans hip metal, mengingat banyaknya band sejenis yang manggung, sedangkan house of pain sendiri menjadi salah satu band hip hop yang mempengaruhi lahirnya genre hip metal, mengingat di kemudian hari DJ leathal bergabung dengan Limp Bizkit, dan limp bizkit sedikit banyak terpengaruh oleh house of pain itu sendiri.

Mungkin untuk melihat mereka berkolaborasi bisa di bilang mustahil, house of pain sudah bubar meninggalkan track-track yang masih berputar di benak para hiphophead, sedangkan ICP masih merilis album, saya tak begitu merespon band ini pasca mereka melakukan blunder buruk di beberapa album di era 2000an, mungkin saya lebih suka track-track lama mereka, seperti great milenko, boogie woogie dan chickin huntin, karena ada kalanya saking produktifnya sebuah band, entah itu untuk kepentingan komersil atau hanya sekedar eksistensi bisa jadi malah membuat track-track yang buruk, semakin sering band itu merilis track, semakin luntur idealisme mereka dalam bermusik, sehingga mengikis ide-ide yang seharusnya gemilang dan menggantinya dengan selera pasar.

Kesimpulanya, mereka memang sangat di mustahilkan untuk berkolaborasi, meskipun mungkin  di suatu saat itu bisa jadi mungkin-mungkin saja, sampai akhirnya saya  melihat insane clown posse mengcover track “jump arraund” dari house of pain merupakan sebuah obat tersendiri yang sedikit menawarkan keinginan saya melihat 2 band idola untuk berpadu, dan beruntungnya saya adalah salah satu orang pertama yang yang menyimak postingan cover tersebut secara perdana di youtube, yah setidaknya tidak berkolaborasi, mengcover lagu juga bukan hal buruk

Mungkin anda juga mungkin penikmat salah satu dari mereka, atau mungkin dua-duanya, silahkan cek video ICP yang mengcover jump arraundnya house of pain di sini, lets get beat fellas! And the last February and this not to bad!

suara media massa bukan suara rakyat

uprock83 – doc

Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa   ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu”

******

Saya termasuk salah satu yang cukup update dengan tulisan-tulisanya Herry Sutresna,  baik berupa blog maupun media lain, mengingat saya juga penggemar hip hop 90an dan beliau mengetahui banyak skena hip hop era 80an di mana di era itu saya masih balita. Walau tidak semua referensi beliau cocok dengan kuping dan passion saya tentunya, well, kesempatan baik membaca sebuah tajuk dari newsletternya mas Herry – Uprock83, “suara rakyat bukan suara tuhan”, sebuah opini yang membuat saya juga ingin berpendapat, yeah saya mengamini tulisan mas Herry sendiri, saya kasih point 100 untuk artikel ini, setidaknya ini menghapus dosa – dosa beliau dengan beberapa artikelnya yang menyebalkan,

Mengutip pendapatnya Christipher R Weingarter yang berpendapat twitter merupakan perwakilan mayoritas yang bukanlah parameter musik yang layak dengar dan mengesampingkan siapa itu Jay Z dan Kanye west dalam artikel beliau yang notabene saya kurang mengenal musik mereka selain dari tajuk billboard dan media seperti Yahoo dan MTV, maka tidaklah salah ketika saya berpendapat jika media massa (tv, radio, majalah- majalah trendsetter dan musik dan lainya) merupakan salah satu biang kerok lahirnya mainstream yang di sebut industri musik, dengan menggenalisir selera musik secara umum dan mempromosikan trending fashion-fashionnya secara berlebih-lebihan, bertubi – tubi sehingga secara tidak langsung mendoktrinasi audiens untuk menjadi bagian dalam kesatuan trend yang tumpang tindih dan kurang jelas, bahkan sangat buruk.

Memang ada baiknya ketika media di jadikan sebagai objek ajaib yang menyuguhkan berbagai macam hal – hal edukatif sampai informasi terkini dan pengetahuan, tetapi peran komersialisasi media di dunia showbiz dan entertaintment justru menjadikan bom nuklir yang mengkontaminasi, seribu kali lebih parah dari reaktor nuklir di chernolbyl, yang tak hanya melahirkan mutant – mutant hidup dalam fisik yang normal, dan kita masih saja sampai di cekoki oleh hal – hal mainstream tersier seperti acara gossip, pencarian talent bakat, reality show sampai acara musik lipsync yang membuat dahi berkerut dan tak henti – hentinya saya terkadang mengumpat, “apa sih mutunya acara kaya gini,…tontonan apa ini..?”

Tidak habis berpikir saya, Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu yang di penuhi oleh artis – artis berpengetahuan pas – pasan yang tak lelah – lelahnya berdendang lagu cinta – cintaan, dan bersinergi dengan mainstream yang memfatwakan bahwa masa bercinta itu adalah masanya anak muda lalu puas – puaslah bercinta, ouw, whats on earth cunt shit folks!

Keping – keping domino pun terus berjatuhan hingga akhirnya saya bakal kebosanan sendiri ketika mendengar radio, lagu yang sama, jenis yang sama dan entah bagaimana rasanya menikmati lagu yang mendayu – dayu yang konon di gemari oleh ABG itu, dan saya cukup merasa bersyukur bukan lagu seperti inilah yang di dendangkan pejuang – pejuang kemerdekaan dulu, apa jadinya jika band – band semodel d,massive, sm*sh atau kangen band apalah itu sudah ngetop di jaman penjajahan, dan saya tidak cukup yakin Negara kita bisa menjadi merdeka.

Lalu kepingan domino berlanjut menghantam mentalitas pemuda, pemuda itu seharusnya menjadi pioneer pergerakan dan indikator tonggak pembangunan, bukan manusia yang dijadikan apatis dengan konsumsi yang menjadi formula pemikiran serba praktis, gak mau hidup susah tapi gak mau susah – susah, cukup berharap jadi selebritis hanya dengan ikutan talent show,atau upload video di youtube dan casting selebritis berisi pepesan kosong mimpi selebrita yang mendisplaykan kepopuleran dan uang yang jatuh dari langit dalam waktu satu malam, tak sedikit kisah yang berakhir dengan gilanya sang selebritis gak jadi itu dengan amblasnya uang puluhan juta, dan saya hanya bisa geleng – geleng dan berkata, yah memang mimpi, tapi itu mimpi buruk…selamat..hahaha!

Apa yang di beritakan media bukan presentasi kondisional dari seluruh audiens yang ada, bahkan mungkin tidak setengahnya bahkan seperempatnya, mungkin pendengar radio tidak seluruhnya menyukai band-band melayu jaman sekarang, karena ya hanya radio itu yang punya statement kalau lagu seperti itu merupakan lagunya anak muda jaman sekarang,…wow! Seolah tidak punya pilihan media – media seperti ini yang mensetting pola pikir audiens, mungkin separuh pendengar radio sangat menanti track – track dari metallica, the beatles, the cure atau bahkan John Denver, yang justru track seperti itu sangat jarang di era semua volume mendendangkan, “baby-baby”,” you know me so well” atau tracknya tetangga saya sekarang yang dengan pedenya memutar keras – keras “Seringkali kau merendahkan ku. Melihat dengan sebelah matamu. Aku bukan siapa-siapa. Selalu saja kau” dan sekarang saya harus men-turn up kan amazing gracenya dropkick murphys yang jadi penawar kontaminasi polusi suara akibat musik tetangga saya itu

Dan akhirnya blok-blok domino yang berjatuhan pun menuju reruntuhan paling akhir, yaitu filter diri sendiri, karena kita merupakan end user dari sasaran komersialisasi tersebut, kita tahu itu buruk dan kita juga bukan mutant hasil dari reaksi kimia berlebihan efek ledakan nuklir – nuklir dari selongsong senjata atomik yang saya sebut “media”, siapapun boleh mengkritisi dan siapapun boleh tidak sepakat, asal kita juga lebih tahu efek yang di hasilkan, dan harusnya kita juga yang faham betul bahwa media hanya media saja, sebuah objek bisnis yang berpegang pada prinsip ekonomi umum, mereka mencari untung sebanyak banyaknya dengan menjual hal – hal murahan yang kemudian memetamorfosekannya trend dan mempropagandakan bahwa itulah yang sedang jadi standart di kehidupan kita, lalu sampailah kepada kita yang akan ikut dengan arus tersebut atau tidak, cukup katakan “tidak suka” kalau memang tidak suka, karena suara mereka bukan merupakan mutlak suara kita. so…? To be infected or be filtered..?

========================================================

idealisme, bukan egoisme! bedakan!

2012-12-05-10-57-34

“Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik”

**** 

Terkadang sulit memahami sebuah pola pikir sesorang yang cenderung kontradiktif dengan latar belakangnya sendiri, kalau saja seorang punk rocker sekelas Milo Aukerman, Greg Graffin atau Dexter Holland  tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik, mungkin saya dulu sewaktu masih duduk di bangku perkuliahan merupakan mahasiswa yang masih mengikuti para hipster tua dan maniak organisasi yang katanya idealis itu untuk memperlambat tahun kelulusan saya.

Membaca sebuah issue di publikasi media lokal kemarin,saya sebagai seorang alumni perguruan tinggi tersebut sempat mengingatkan saya jauh pada saat saya baru mengenakan almamater dan di mana kita di kenalkan dengan lingkup politik di sebuah universitas, dan mau tidak mau dan kalau boleh di bilang terpaksa, ya saya jalani, ya,sebagai anak bau kencur saat itu saya pernah menjalani hari-hari sebagai aktivis di mana para senior yang sangat rajinya mengkaderisasi kami si bau kencur, dan mengkoordinir di setiap aksi-aksi,

Bukanya tidak begitu peduli, memang dasarnya saya yang tidak tertarik, tentunya saya melakukanya dengan setengah mata dan senyuman kecut, berkumpul dengan aktivis senior penyuka lagu-lagu top fourty dengan segala macam penampilanya yang lebih mirip seorang penyanyi genre melayu berpadu dengan atribut bluesy yang berkiblat ke eranya axl rose yang seram-seramkan, sangat tidak membuat saya betah,

Idealisme memang wajar berbunga di sana-sini dalam sebuah retorika kampus, saya setuju dan sangat memahami itu, berpegang kepada nilai-nilai demokratis, penyampaian aspirasi memang hal lumrah, akan tetapi  kalau sampai mengesampingkan esensinya sendiri tentang posisi kita di suatu perguruan tinggi itu untuk apa, tentunya tidaklah akan lahir Milo, Greg atau Dexter holland yang lainya di atas muka bumi Indonesia itu, bahkan idealisme tanpa akal sehat itu sama saja bunuh diri dan siap-siap saja jadi bahan tertawaan di warung kopi dan elusan dada miris seorang anak jalanan yang notabene tidak bisa menyentuh bangku perkuliahan karena kekurangan dana,

Mungkin harus ada takaran ideal untuk menjadi seseorang yang kritis, untuk menjalankan idealisme anda tidak perlu menjadi egois, karena pemikiran yang di dasari egoisme cenderung keluar batas kewajaran, karena setiap statement anda, seprovokatif apapun walau memiliki kekuatan realitas yang mutlak tetap terdengar sangat dungu, hal ini yang justru membuat sebuah sisi oposisi mudah untuk memutarbalikan keadaan, dan audiens dapat menilai itu.

Sepertinya bukan barang kemarin sore kalau kita mengetahui seberapa banyak mereka yang tak sanggup menuju dan mengenyam bangku perkuliahan, tak sedikit dari sebagian dari rekan-rekan yang mengorbankan barang-barang berharga hanya sekedar ingin mempunyai gelar, walau kelak berguna atau tidak gelar mereka yang penting perubahan pola pikir merupakan keutamaan, sebuah kebanggaan bagi mereka yang jauh-jauh merantau hanya untuk membanggakan orangtua mereka. Akan tetapi sebagian dari mereka mengorbankan egoisme fasik berlabel idealisme, ini bukanlah hal yang bijak, sama seperti  fundies fasis yang mengecam konsernya lady gaga, niat baik dengan cara yang salah merupakan hal konyol dan omong kosong.

Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dimana bangsa kita masih membutuhkan sebanyak mungkin kaderisasi yang edukatif, sebanyak mungkin yang bisa di produksi, berbahan bakar sebuah harapan dan cita-cita di situlah peran mesin diesel yang memutar gerigi-gerigi yang tak lelah-lelahnya memproduksi kaum intelektualis yang akan menggerakkan perekonomian, memberikan lapangan pekerjaan atau sekedar figuran kehidupan semu di kehidupan kalian semua.

Boleh saja kalau mau muak dengan sistem dan merupakan hal legal kalau ingin bersuara banyak, akan tetapi bersikaplah dewasa, karena umur kalian tidak bisa di bilang anak-anak lagi, bukan seseorang manja yang kalau tidak di beri permen akan mogok makan, ingat, idealisme tidak harus memaksakan egoisme, kalau memang tidak mau repot atau di repoti dengan persoalan akademisi, mending hijrah saja, silahkan masukan CV kalian ke leasing atau perusahaan sawit yang lebih butuh tenaga instan, tetapi kalau mau turun jauh mengkritisi, lakukan dengan hormat, lakukan sebagai seorang dewasa intelektual yang punya harga diri

Meskipun saya bukan seorang aktivis, dan dulu saya lebih sering menuliskan ketidaksukaan saya dalam bentuk zine yang tersebar, sebuah propaganda satir yang berbahasa sarkasme yang tercopy hingga ratusan buah, mulai dari kampus, sekolah hingga distro-distro dan warung kopi,  yang mengungkapkan sebuah makna amarah dalam diam, kesalnya saya dengan ulah pekerja tata-usaha sampai objektifitas dosen dalam memberi nilai, kita boleh marah asal tidak merugikan orang lain, apalagi justru membuat kita terlihat lebih dungu dari status kita sebenarnya, bukan itu hakekat dari sebuah perjuangan, bahkan sampai sekarang saya masih senang menuliskan apa yang saya lihat, karena bagi saya Nyala lilin itu redup, tetapi cukup untuk menerangi ruangan di kala gulita, dari pada membakar rumah sendiri hanya untuk menerangi seluruh desa.

========================================================