saya (mungkin juga kamu) dan benda bernama “radio”

ria scene (25)

“dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita”

 Terkadang sebuah memorabilia bisa saja memiliki nilai historisnya tersendiri, sebagian teenlite masa 60an di masa senjanya mungkin mengharta karunkan piringan hitam “Please Please Me” nya the beatles saat masih menggunakan label Parlophone, walau bahkan mereka mesti bertahun-tahun untuk mendapatkan rilisan terawal dari band asal Liverpool tersebut, sama halnya dengan saya, walau terlahir jauh dari dekade nenek dan kakek saya masih memakai cutbray dan rok polkadot tersebut, bukan berarti tidak pula saya tidak bisa menemukan sebuah memorabilia yang bisa membangkitkan romatisme kisah tersendiri

Kalau boleh mentinta hitamkan sebuah memorabilia tentu saja saya akan mensejarahkan radio-radio dan mini kompo saya yang merupakan benda keren yang di punyai anak laki-laki remaja pada tahun90-2000an, dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita, sama seperti saya yang meletakkan radio saya di bawah posternya limp bizkit dan Michael  Jordan di atas lemari pakaian saya yang mini.

Seolah di kekang dengan keterbatasan dan menjadi pendengar dengan kacamata kuda, entah berapa banyak waktu dalam sehari yang kita habiskan dengan sia-sia hanya untuk menunggu sebuah lagu dari band yang kita suka, dan dalam penantiannya berjam-jam kita membayangkan rupa asli dari seksinya suara penyiar radio yang bertahun kemudian kita menemukan sosoknya dari facebook, dan sambil bergumam, “ooh begini rupanya muka mbak itu…”

Mahalnya harga compact disc dan keterbatasan player yang saya punya tak lekas membuat saya untuk langsung memilih membeli album band favourit saya, kalaupun ingin sekali saya lebih memilih mengkoleksi kaset –  kaset mereka,  dengan rata-rata harga kaset luar negeri 20 ribu rupiah, yang ujung-ujungnya belum tentu kita menyukai semua track dalam album tersebut, atau mungkin kita hanya mendengarkan satu atau dua track, sisanya bahkan terlupakan.

Entah sia-sia atau tidak gara-gara tertarik dengan “shinning light” nya ash yang berkali-kali di putar di radio, saya merelakan uang 20ribu yang di masa itu sangat mahal untuk membeli free all angels milik mereka, dan sudah di prediksi ya saya membeli album mereka hanya untuk mendengarkan album yang itu. Bukanya saya berpendapat track yang lain tidak bagus, tetapi ya memang saya hanya menyukai track yang itu saja, tidak hanya itu tentunya, ada pula sugar-ray dengan when its overnya, yang saya hanya dengar ya hanya “when its over” dan “answer the phone”,atau Eminem dengan “without me” nya dan sebagainya.

Merupakan hal yang wajar ketika kita tidak menyukai hampir semua track dalam sebuah album band, karena kita hanya mendengarkan sebuah hits yang selalu menjadi primadona di radio, yang juga merupakan salah satu marketing strategicnya sebuah label besar agar album band-band yang mereka jual itu laku di pasaran, apa yang di putar di radio yang saya tunggu berjam-jam sehari itu yang namanya hits atau lagu jagoan, jadi apa yang melekat di benak kita ya memang hanya lagu itu,

Kalau membajak itu merupakan kriminal, entah berapa orang yang merekam track yang mereka suka yang di putar di radio pada kaset kosong, hal ini mungkin di rasa lebih menghemat pengeluaran untuk tidak dipaksa membeli album yang mungkin lagu yang di sukai hanya sebiji atau dua biji, akan tetapI dengan kualitas suara lebih buruk, memanglah kita tidak merasa puas,

Hadirnya invasi internet agaknya menepikan peran radio sebagai standart nilai selera musikalitas pendengarnya, internet menawarkan pra-dengar playlist dalam sebuah album, album apa saja, siapa saja dan dari belahan dunia manapun, ratusan referensi playlist-playlist menarik yang luput dari publikasi rolling stone atau Mtv era sekarang,

Tidaklah buruk ketika kita berkata jika sebuah invasi dari domestikasi teknologi membuahkan simbiosis mutualis sehingga kita bisa memutuskan track mana yang bisa membuat kita jatuh cinta dalam sebuah album, dan agaknya radio juga harus merubah strategi agar tidak di tinggalkan pendengarnya, karena seolah dapat mukjizat ketika kita bisa bebas mengunduh track yang kita suka, tanpa harus keluar biaya, selain biaya internet, dan kita tak perlu takut lagi harus mendengarkan track yang kita tidak suka dalam suatu album.

Akan tetapi dengan munculnya internet tak lekas membuat radio itu tenggelam, atau mungkin saya saja yang tidak terlalu menyimak mereka, mereka tetap menyuguhkan track-track fresh dan top 40`s sebagai referensi pendengar, sebagian radio juga sangat membantu mempromosikan dan mendistribusikan beberapa label rekaman independen dan kolektifan yang bisa menjadi referensi untuk pangsa marketnya tersendiri, walau dengan seribu kali sayang mini kompo dan beberapa radio saya yang dulu membuat kami merasa keren kini sudah rusak, lenyap tanpa tersisa secuil bangkai pun,

Bagi saya sendiri mendengarkan radio dengan gadget yang lebih modern tak semenarik dulu, tak semenarik radio saya dengan fisiknya yang unik yang selalu saya anggap teman baik di kamar, sebuah benda bersuara yang di lengkapi lampu berwarna, dengan sticker parental advisory di satu sisi dan logo anti-flag di sisi lainya, radio yang dulunya mengenalkan saya dengan sepultura, mushroomhead, crazytown greenday atau blink 182, yang membuat saya rela menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk menunggu di putarnya lagu band kesukaan saya dan memutarkan sms yang saya kirim, sampai membayangkan seperti apa wujud penyiar yang kita dengar suaranya, Yah, setidaknya setiap generasi menemukan romantisme tersendiri dengan gadget mereka yang semakin modern,  seperti saya dan radio-radio saya dulu. (mcft)

========================================================

Joke itu namanya Politik

“Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi…….”

**** 

mortishen.deviantart.com

Kalau saya boleh bercerita tentang salah tawaran terkonyol kepada saya, tentunya adalah tawaran untuk berpolitik,  tidak ada yang salah ketika seorang yang saya kenal sebagai salah satu elitokrat di tempat saya, yang dulunya berprofesi sebagai ajudan pejabat dan akhirnya dia sendiri yang ikut-ikutan jadi pejabat, dan beliau menyarankan saya untuk mengikuti jejaknya untuk menjadi salah satu kader di partai yang di usungnya, minimal menjadi seorang staff saja, dan beliau banyak memberikan iming-iming feedback yang banyak, proyek-proyek yang menguntungkan yang bisa menjadi sumber pemasukan, sampai ajakan menjadi salah satu kader yang di calonkan, wah segampang itukah…?

Saya akui berpindah – pindah kerja dan sulit mendapat pekerjaan tetap itu memang bukan hal yang bagus, tetapi berpolitik? Ini, lucu, tentunya saya hanya tersenyum manis dan tak lupa berterima kasih dengan tawaran surgawinya, tetapi ya tertawa terbahak-bahak di dalam hati, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya hanya ingin bilang, politik itu bukan masalah berapa dan apa yang bisa kita dapat, atau apa yang telah kita berikan untuk partai, tapi sebuah tanggung jawab mewakili sebuah aspirasi komunal dan massal, modal pinter ngomong saja bukanlah indikasi kita bisa berpolitik, dan maaf saja saya ini bukan artis atau selebritis, yang doyan berpolitik itu biasanya selebritis bukan..? jadi kelak ketika semisal saya jadi pejabat saya tidak cukup bisa ber akting untuk sok baik, sok ngaku-ngaku tidak bersalah, sok mengkritik atau sok tebar pesona untuk pejabat-pejabat lainya…swear saya tidak bisa berakting.

Sebagian orang menjadikan politik sebagai profesi hidupnya, dan melupakan hakekat tanggung jawab yang berada di belakangnya, wajar sekali mengingat semakin bergengsi profesi seseorang, mereka akan sangat mendekati perilaku hedonis, dan konsumtif, perubahan paradigma dan bahkan amnesia. Gampang memang membayangkan apa yang akan di terima oleh politisi, anggota parlemen dan sebagainya, tapi apa mudah mendengarkan keluhan – keluhan subjek- subjek yang ingin kehidupanya lebih baik? Apa saja prestasi seorang politisi selain hanya menjadi beban Negara karena gaji mereka itu bayarnya dari pajak.

Sebuah anekdot yang sering kita dengar sudah cukup menjabarkan sebuah deskripsi tentang politik itu, “kalau dalam kehidupan nyata kita hanya bisa terbunuh satu kali, tapi di politik, kita bisa di bunuh berkali – kali”, saya rasa semua politisi yang selama masih bisa baca tulis dan tidak mengidap gangguan kejiwaan akut paham benar kata – kata itu, terjun ke politik itu harus siap dengan segala konsekuensinya termasuk “di bunuh” berkali, kali, jadi wajar dong kalau seorang politisi di fitnah, di caci maki. Terus anehnya kalau sudah mengatahui itu merupakan konsekuensinya, tapi kenapa tidak sedikit para politisi itu yang sewot mencak mencak, sampai kebakaran bokong karena di todong dengan tuduhan (bahasa media-nya diduga..atau apalah) melakukan korupsi atau tindakan asusila, inilah makna bahwa tidak semua politisi itu mengetahui betapa besarnya resiko menjadi politisi, karena sudah disumpal sama feedback finansial di sana – sini yang seperti saya sebut di atas tadi.

Lalu apa setiap politik atau politisi, selalu di fasilitasi oleh Partai yang ada, nah ini yang saya kurang suka, kenapa harus ada blok – blok partai? Bukanya justru dengan adanya blok-blok tersebut justru membuat kita terpecah belah? Bisa jadi kita tidak lagi mengenal keseragaman, ketika demokrasi itu sendiri melahirkan idealisme yang berbeda – beda, dan akhirnya jatuhnya kita akan di bedakan asal muasal, keturunan, kasta, suku budaya bahkan agama, demokrasi yang salah melahirkan egosentris kelompok yang mendorong timbulnya fanatisme, karena tiap – tiap partai yang ada selalu mewakili segmen tertentu…hell yeah!

saya tidak peduli seberapa bagus visi dan misi partai – partai itu, kepercayaan khalayak ramai tidak bisa terintegrasi di satu kesatuan politik seperti itu, masyarakat itu bukan komoditi, bukan pula konsumen politik, tapi subjek yang harus di puaskan setiap dahaga kehidupanya, yang selama ini termarjinalkan, atau di perlakukan tidak adil, kesulitan birokrasi dan yang lainya. Dan sangatlah tidak etis jika kalian mengkotak-kotakkan idealisme sekelompok politisi untuk menjadi kesatuan yang satu sama lain saling serang, di saat kita seharusnya duduk manis sama-sama dan berdiskusi.

Saya tidak menyebut semua politisi itu kotor, tetapi tidak bisa juga di katakan mereka tidak punya dosa, selama memang tujuan mereka berpolitik hanya sebagai profesi saja, dan sepertinya saya juga sangat yakin bahwa tidak semua masyarakat mengenal dengan baik siapa wakil – wakilnya, selain senyum ceria di kalender – kalender di pasar pasar atau warung kopi, banner gede anti badai di jalanan yang bikin norak kota kita, dan bunyi sirine ketika mereka lewat, dengan pengawalan seolah sedang mengawal gembong narkoba kelas kakap, selebihnya mereka cuma orang – orang sombong yang bergaya hidup mewah, antisosial, sok pintar, jago ngoceh dan tidak punya urat malu, mana mau mereka jalan – jalan di pasar yang becek, masuk ke kampung – kampung kumuh, berdialog dengan tukang becak, kalau tidak ada perlunya.

Terus terang, saya tidak berbakat seperti itu, saya ini orang biasa – biasa saja, kelas pekerja biasa bukan seseorang yang bermimpi terlalu muluk, dan saya tidak ingin langkah hidup ini di isi dengan kemunafikan, dan keterpura – puraan, sudah cukup apa yang ada, dan saya harus bisa belajar untuk memberi dengan ikhlas tanpa ada embel – embel apapun, mempunyai sisi humanis lebih membuat kita peka ketimbang seorang intelektualis yang hatinya tertutup, karena sisi intelektualitas modern mengajarkan bahwa setiap ilmu yang mereka punya itu mendatangkan rupiah hanya untuk dirinya sendiri, bukan menjadi manusia berguna, percuma dong kita bisa memperkaya diri tetapi di sekeliling kita masih ada yang berebutan lahan cari makan, anak putus sekolah dan anak sekolahan yang tidak mampu beli seragam sekolah. Apapun bentuknya, saya bukanlah manusia yang setega itu…

Ah biarlah politik menjadi lelucon lucu yang mekar seperti jamur – jamur di musim hujan, mereka aktor – aktor lucu yang terkadang membuat saya terbahak – bahak di mana kualitas lawakan komedi di televisi sudah tidak begitu lucu lagi, biarlah mereka tetap jadi sasaran pelampiasan emosi massal yang biasa kita baca di Koran – Koran dan situs online, mereka ya mereka, dan ini saya, saya tidak mampu jadi mereka apalagi mereka, mana mau merasakan jadi rakyat biasa, teruslah melucu politisi – politisi di manapun anda berada, jangan berhenti melawak untuk kami, dan saya sendiri selalu siap mentertawakan anda.

========================================================

Catatan kecil di sebuah restoran cepat saji

folder (4)

instagram

“Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana……”

******

Di penghujung tahun  lalu sepulang dari warung kopi, seorang teman mengajak untuk mengisi perut, tak biasa kali ini dia memilih salah satu restoran cepat saji yang buka, berlogo seorang kakek tua, ya memang tak ada pilihan lagi lagian mana ada warung lamongan atau nasi goreng cap chai kesukaan kami yang buka di tengah malam buta gini, yang tersisa hanya santapan yang biasa kami sebut “junk” dan biasa kami santap pula di tengah malam begini ketika tak ada lagi pilihan.

Sembari mengantri dan memesan paket dengan senyuman manis yang di paksa atau mungkin menahan kantuk, karyawati yang meladeni kami seolah setengah tersenyum kecut dan tak kuasa untuk berlarut dalam kesibukan mereka, mondar-mandir melayani pengunjung. toh karena tugas, mereka tetap membuat diri sendiri telihat bahagia. Dan kami para antrian dengan muka di tekuk pula karena memang sudah lapar dan antrian pun sudah cukup panjang, seolah – olah kita semua di sini adalah aktor yang memerankan masing – masing peran yaitu sama “pura-pura tersenyum”.

Tapi itu bukan perihal yang membuat saya memendam sedikit keheranan, ini memang berwujud restoran cepat saji, akan tetapi di depan saya, di samping saya tertempel poster ukuran jumbo seorang penyanyi, dan di sisi lainya terpampang foto band yang entah siapa mereka, belum lagi televisi di dinding itu terus-terusan memutar video dengan penyanyi yang sama, yang hanya bergoyang-goyang saja dan sangat membosankan, di meja kasir lagi, kok bisa ada beberapa kaset di pajang sedemikian banyaknya dan pastinya yang jelas saya tidak pernah berharap untuk dapat mendengarkan lagu-lagu ciptaan mereka.

Lalu selanjutnya saya berfikir, sebenarnya ini merupakan restoran cepat saji atau toko kaset, lalu sejak kapan restoran cepat saji menjadikan dirinya sendiri sebuah industri rekaman yang kemudian di jual bersama ayam goreng dan kentang goreng yang menjadi produk andalan mereka..? lalu apa sebenarnya yang mau mereka jual..? penyanyi, band ibukota atau makanan..? atau menjual sebuah retorika non-politik yang selama ini kita kenal dengan istilah “budaya pop”.

Selanjutnya obrolan-obrolan berlanjut di sebuah meja makan kecil di tempat yang sama, meja untuk empat orang, meskipun kami Cuma bertiga, dan meskipun ini dini hari tetapi tempat ini tetap saja penuh, di samping kami segerombolan anak abg tanggung seolah entah apa yang mereka rayakan,lalu di sudut sana dua orang sepasang ya lagi-lagi remaja duduk berdua, entah apa yang ada di pikiran mereka, jam segini, berdua..ah masa bodoh, yang jelas malam ini kami di kelilingi anak remaja yang menjadikan tempat ini jadi seolah tanah suci mereka dalam aktualisasi diri, bisa jadi misi “retorika non politis” yang di jual tempat ini akhirnya mengenai target sasaranya, dan….berhasil.

Lalu perihal kaset dan album-album tadi yang di pajang dan di jual di sini beserta ayam goreng dan menu lainya, kenapa sih tidak ada satu dari artis yang di jual itu merupakan band favourit saya?, entah keterpaksaan ide untuk membangun sebuah kultur baru ataukah pengaruh kurtur baru untuk terpaksa di jual untuk memaksa khalayak untuk membelinya, atau dari pihak artis sendiri yang sengaja menawarkan diri ke pihak franchising untuk rela di jual untuk lebih mendistribusikan lagu-lagu mereka ke khalayak, dan berharap mereka menjadi terkenal, kaya raya karena sukses menjual karya mereka di restoran cepat saji

Mungkin dulu Philip Kotler tak pernah menduga, bahwa ide isengnya perihal marketing mix, yang kemudian ajaranya menjadi “membumi” lalu di jadikan patokan umum pelaku bisnis konvesional, dan ujung-ujungnya dunia menciptakan budaya mereka sendiri yang di sebut industrialisasi dan kapitalisasi, lalu bukan lagi menjadikan konsumen itu raja akan tetapi malah berbalik menjadikan mereka korban dari berbagai macam teorika kehidupan yang di ciptakan pelaku-pelaku bisnis konvensional tersebut.

Lalu terlintas di otak kami jikalau semisal ada band punk rock, atau metal yang di jual franchise dalam bentuk keluaran cd indie yang biasa mereka sebarkan di gigs – gigs…..apa jadinya, walau sepertinya saat ini metal dan punk bisa juga di katakan budaya mainstream di kalangan anak muda, akan tetapi tetap ada konteks yang membedakan budaya-budaya dalam sebuah genre antara budaya satu dan lainya, dan bersyukurlah belum ada produk francise yang meng endorsement band-band sedemikian..hoo…hoo

Dulu saya masih teringat respon skena-skena yang berpandangan miring dengan bergabungnya Burgerkill atau Superman Is dead dalam industri rekaman major, bahkan tak sedikit rekan-rekan seperjuangan mencap band-band tersebut dengan istilah pengkhianat, walau memang butuh waktu bagi mereka untuk mengembalikan stigma bahwa baik major ataupun independent bukalah patokan untuk sebuah musik metal dan pop punk untuk harus kehilangan identitasnya, setidaknya mereka sudah membuktikan itu.

Lalu kalau boleh saja band metal berteman dengan budaya mainstream, dan selanjutnya mungkin saja menandatangani kontrak major dengan embel-embel lainya, mungkin saja suatu saat saya bisa melihat poster dying fectus, forgotten, straight answer atau rosemary di pajang bersanding dengan menu ayam goreng di restoran franchise, dan mungkin poster konsernya the black dahlia murder atau anti-flag bakalan terpampang besar bersama paket hemat ayam goreng di sini…wah.

Ya masalahnya toh ikon-ikon non populis kini sudah mewabah, tongkrongan metalhead dan punk rockers sudah ngikut berkiblat ke arah-arah hedonis, mereka memenuhi tempat-tempat konsumtif, gak jarang remaja sekarang memasang atribut cadas hanya karena ngikut fashion dan hanya untuk di bilang keren, ujung-ujungnya, bukan barang yang yang absurd lagi kalau menjumpai remaja dengan outfit semacam, seringai, thirteen,  jeruji dan embel-embel bawah tanah lainya, nangkring di mall-mall bahkan di restoran cepat saji, ya seperti malam ini anak-anak yang bergerombol di seberang meja saya dengan teman-temanya memang bergaya seperti itu, entah karena ingin menunjukan jati diri “kecadasan” mereka, atau karena apalah, memang saya tak begitu peduli.

Akan tetapi menyandingkan ikon-ikon hardcore tersebut di sebuah tempat yang terang-terangan mengendorsement budaya pop mainstream ya sepertinya sama saja memajang stigma “equality” dan menyama-nyamakan band-band yang tergambar di baju remaja-remaja itu dengan band-band yang terpajang di meja kasir sana. Dan kita sama-sama terlarut di tempat yang sama.

Ahh, lupakan, setidaknya bersyukurlah saya, tak ada band idola saya di pajang di sana, di dinding restoran ini, atau di meja kasir, setidaknya apa yang saya suka masih bisa di bilang “perawan” dan tidak tersentuh budaya populis, karena merupakan hal yang tidak mengasyikkan lagi ketika musik  yang saya sukai atau band favourit saya harus berbagi pasar dengan band-band yang ingin di bilang keren itu, yang mencari pasarnya dengan menjual karya mereka sepaket dengan makanan cepat saji, dan berharap muda-mudi menyukai dan mengagumi mereka walaupun mereka memproduksi musik dan gaya hidup yang sangat buruk, karena restoran cepat saji itu ya hanya restoran, penyedia makanan instan untuk di makan, bukan tempat untuk jualan kaset atau promosi rekaman.

========================================================

rock against bush (2004), anti-war album and how to spoke revolution without anybody getting hurt

rock against bush

Banyak cara yang dilakukan untuk menentang kebijakan pemerintah,apalagi jika sebuah pemerintahan yang justru lebih cenderung menggunakan kebijakan militerismenya

——–

Berharap mendapatkan harta karun yang mengejutkan, sesekali saya membongkar-bongkar file dalam beberapa folder dalam hard disk eksternal  yang memang jarang sekali tersentuh, belasan atau mungkin puluhan folder berisi track-track band-band kesukaan berjejer masih dengan rapinya, dan mungkin ada sebuah folder yang hampir beberapa tahun belakangan semenjak rest-in-peace nya komputer (PC) saya beberapa tahun silam hampir tidak pernah saya sentuh padahal dulunya saya cukup sering memutarnya sambil mengerjakan tugas kuliah, folder itu berisi beberapa playlist dari album Rock Against Bush (2004) volume 1, album ini dulu saya dapatkan versi bajakan, atau lebih tepatnya cd burning version di lengkapi cover copy-an, tetapi tentunya saya lebih suka dengan materi isi albumnya.

sebuah kompilasi provokatif di era zamanya president George W Bush masih memimpin amerika, di mana saat itu sedang gencarnya melakukan invasi ke daerah timur tengah, dan album ini hadir sebagai oposisi tindakan pemerintahan amerika yang lebih senang berperang ketimbang mensejahterakan rakyatnya, dan album ini dulunya sangat menarik bagi saya, karena berisi track-track keren dari beberapa band punk rock-post punk dan hardcore yang masing-masing band-band itu dengan track andalan mereka yang rata-rata mengusung tema protes dan menentang kebijakan pemerintah Negara paman sam itu.

Banyak cara yang dilakukan untuk menentang kebijakan pemerintah,apalagi jika sebuah pemerintahan yang justru lebih cenderung menggunakan kebijakan militerismenya, karena perang dan menjajah merupakan sebuah ide buruk, beberapa band keren yang memang sudah tidak asing lagi  dan memang sudah di pastikan selalu vokal untuk menyuarakan kritik-kritik mereka, nama-nama seperti anti-flag, social distortion dan tentunya bandnya sang pencetus lahirnya kompilasi ini, Fat Mike, nofx

Kalaulah ada sama Fat Mike dan tentunya tak ketinggalan dengan band-nya nofx, selain sebagai pencetus kompilasi ini sekaligus memproduserinya, ya, album ini di keluarkan oleh labelnya sendiri Fat Wreck chord, dan di rilis pada  20 April tahun 2004, Fat sendiri berharap bahwa jangan sampai Bush Jr terpilih kembali dalam pemilu di amerika saat itu, saat itu Fat Mike sendiri enggan mengakui Bush Jr sebagai presidenya

Bush jr sendiri merupakan salah satu presiden dengan reputasi sangat buruk dalam sejarah dunia, beralih memburu terorisme kebijakan untuk menduduki wilayah timur tengah. Melihat presiden dengan latar belakang sebagai ceo dari grup kapitalisasi minyak terbesar Arbustro Energy tentu saja sudah diindikasikan bahwa minyaklah tujuan utama invasi tersebut

selain dapat mencitrakan Negara paman sam itu menjadi Negara yang punya track record teramat buruk di mata dunia dengan perang yang diciptakanya, tentu saja ini berimbas kepada perekonomian mereka yang justru memburuk pasca perang, jutaan dollar di alokasikan hanya untuk keperluan militerisme, sehingga Negara paman sam tersebut justru mengalami devisit keuangan yang hebat, keterpurukan perekonomian membuat perusahaan-perusahaan besar collapse dan terpaksa memberhentikan ratusan pekerjanya,

belum lagi pertumpahan darah dan nyawa yang jatuh dari penduduk sipil dalam invasinya di afganistan sangat jauh dari nilai kemanusiaan, dan tentunya yang namanya peperangan tidak membawa keuntungan bagi ke dua belah pihak, selain jutaan masyarakat sipil menjadi korban, sebaliknya juga ratusan tentara amerika melepas nyawa dengan sia-sia, dan kompilasi ini pun di rilis atas dasar hal tersebut kampanye dengan musik merupakan salah satu alternatif dan boleh di bilang provokatif, dan beruntung Fat Mike dan kawan-kawan mendapat dukungan dari beberapa band yang ingin ikut menyuarakan kritik-kritiknya di kompilasi ini.

Beberapa track menarik bagi saya adalah menyimak the offspring yang mengcover lagu mereka sendiri, yang pernah eksis di tahun 1989 “Baghdad”, di mana sebelumnya lagu itu berjudul “Tehran”,track ini di cover sedemikian rupa hingga tampil lebih bersih dengan aransemen yang sama, sedangkan the ataris membawakan covernya bad religion “heaven is falling” tapi dengan versi akustikan, selain itu juga munculnya Sum41 yang notabene band asal kanada, mereka membawakan track “moron”,  selain itu band punk gaek tidak absen dalam kompilasi ini, seperti social distortion, adapula pennywise dan descendent, Nofx sendiri membawakan “jaw, knee and music”

memang Bush Jr sendiri lengser dari jabatanya 6 tahun setelah rilisnya kompilasi ini, setidaknya andil perjuangan yang membuahkan sebuah revolusi memang tidak hanya bisa di suarakan dengan satu cara, banyak cara yang menurut saya terhormat untuk menyuarakan sebuah kritik dan perlawanan publik, dan tentunya track-track ini masij bisa kita nikmati sampai saat ini. selanjutnya mungkin kalau melihat negeri sendiri di Indonesia, dengan maraknya kasus korupsi, apa ada yang berniat buat kompilasi “melawan korupsi”?

track Rock against Bush volume 1

Nothing to do when youre locked away in a vacancy (none more black) – moron (Sum41) – warbrain (alkaline trio) – need more time (epoxies) – the school of assassins (anti-flag) – sink, florida, sink (againt me) – Baghdad (offspring) – lion and the lamb (the get up kids) – give it all (rise againt) – no w (ministry) – sad state of affairs (descendent) – revolution (authority zero) – paranoia! (the soviettes) – that`s progress (d.o.a) – overcome (rx bandita) – no voice of mine (strung out) – to the world (strike anywhere) – heaven is falling (the ataris) – god save the USA (pennywise) – normal days (denali) – the expatriate act (the world) – no news is a good news (new found glory) – basket of snakes (the firsk) – jaw knee, music (nofx) – it’s the law (social distortion) – the brightest bulb (less than jake)

========================================================

suara media massa bukan suara rakyat

uprock83 – doc

Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa   ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu”

******

Saya termasuk salah satu yang cukup update dengan tulisan-tulisanya Herry Sutresna,  baik berupa blog maupun media lain, mengingat saya juga penggemar hip hop 90an dan beliau mengetahui banyak skena hip hop era 80an di mana di era itu saya masih balita. Walau tidak semua referensi beliau cocok dengan kuping dan passion saya tentunya, well, kesempatan baik membaca sebuah tajuk dari newsletternya mas Herry – Uprock83, “suara rakyat bukan suara tuhan”, sebuah opini yang membuat saya juga ingin berpendapat, yeah saya mengamini tulisan mas Herry sendiri, saya kasih point 100 untuk artikel ini, setidaknya ini menghapus dosa – dosa beliau dengan beberapa artikelnya yang menyebalkan,

Mengutip pendapatnya Christipher R Weingarter yang berpendapat twitter merupakan perwakilan mayoritas yang bukanlah parameter musik yang layak dengar dan mengesampingkan siapa itu Jay Z dan Kanye west dalam artikel beliau yang notabene saya kurang mengenal musik mereka selain dari tajuk billboard dan media seperti Yahoo dan MTV, maka tidaklah salah ketika saya berpendapat jika media massa (tv, radio, majalah- majalah trendsetter dan musik dan lainya) merupakan salah satu biang kerok lahirnya mainstream yang di sebut industri musik, dengan menggenalisir selera musik secara umum dan mempromosikan trending fashion-fashionnya secara berlebih-lebihan, bertubi – tubi sehingga secara tidak langsung mendoktrinasi audiens untuk menjadi bagian dalam kesatuan trend yang tumpang tindih dan kurang jelas, bahkan sangat buruk.

Memang ada baiknya ketika media di jadikan sebagai objek ajaib yang menyuguhkan berbagai macam hal – hal edukatif sampai informasi terkini dan pengetahuan, tetapi peran komersialisasi media di dunia showbiz dan entertaintment justru menjadikan bom nuklir yang mengkontaminasi, seribu kali lebih parah dari reaktor nuklir di chernolbyl, yang tak hanya melahirkan mutant – mutant hidup dalam fisik yang normal, dan kita masih saja sampai di cekoki oleh hal – hal mainstream tersier seperti acara gossip, pencarian talent bakat, reality show sampai acara musik lipsync yang membuat dahi berkerut dan tak henti – hentinya saya terkadang mengumpat, “apa sih mutunya acara kaya gini,…tontonan apa ini..?”

Tidak habis berpikir saya, Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu yang di penuhi oleh artis – artis berpengetahuan pas – pasan yang tak lelah – lelahnya berdendang lagu cinta – cintaan, dan bersinergi dengan mainstream yang memfatwakan bahwa masa bercinta itu adalah masanya anak muda lalu puas – puaslah bercinta, ouw, whats on earth cunt shit folks!

Keping – keping domino pun terus berjatuhan hingga akhirnya saya bakal kebosanan sendiri ketika mendengar radio, lagu yang sama, jenis yang sama dan entah bagaimana rasanya menikmati lagu yang mendayu – dayu yang konon di gemari oleh ABG itu, dan saya cukup merasa bersyukur bukan lagu seperti inilah yang di dendangkan pejuang – pejuang kemerdekaan dulu, apa jadinya jika band – band semodel d,massive, sm*sh atau kangen band apalah itu sudah ngetop di jaman penjajahan, dan saya tidak cukup yakin Negara kita bisa menjadi merdeka.

Lalu kepingan domino berlanjut menghantam mentalitas pemuda, pemuda itu seharusnya menjadi pioneer pergerakan dan indikator tonggak pembangunan, bukan manusia yang dijadikan apatis dengan konsumsi yang menjadi formula pemikiran serba praktis, gak mau hidup susah tapi gak mau susah – susah, cukup berharap jadi selebritis hanya dengan ikutan talent show,atau upload video di youtube dan casting selebritis berisi pepesan kosong mimpi selebrita yang mendisplaykan kepopuleran dan uang yang jatuh dari langit dalam waktu satu malam, tak sedikit kisah yang berakhir dengan gilanya sang selebritis gak jadi itu dengan amblasnya uang puluhan juta, dan saya hanya bisa geleng – geleng dan berkata, yah memang mimpi, tapi itu mimpi buruk…selamat..hahaha!

Apa yang di beritakan media bukan presentasi kondisional dari seluruh audiens yang ada, bahkan mungkin tidak setengahnya bahkan seperempatnya, mungkin pendengar radio tidak seluruhnya menyukai band-band melayu jaman sekarang, karena ya hanya radio itu yang punya statement kalau lagu seperti itu merupakan lagunya anak muda jaman sekarang,…wow! Seolah tidak punya pilihan media – media seperti ini yang mensetting pola pikir audiens, mungkin separuh pendengar radio sangat menanti track – track dari metallica, the beatles, the cure atau bahkan John Denver, yang justru track seperti itu sangat jarang di era semua volume mendendangkan, “baby-baby”,” you know me so well” atau tracknya tetangga saya sekarang yang dengan pedenya memutar keras – keras “Seringkali kau merendahkan ku. Melihat dengan sebelah matamu. Aku bukan siapa-siapa. Selalu saja kau” dan sekarang saya harus men-turn up kan amazing gracenya dropkick murphys yang jadi penawar kontaminasi polusi suara akibat musik tetangga saya itu

Dan akhirnya blok-blok domino yang berjatuhan pun menuju reruntuhan paling akhir, yaitu filter diri sendiri, karena kita merupakan end user dari sasaran komersialisasi tersebut, kita tahu itu buruk dan kita juga bukan mutant hasil dari reaksi kimia berlebihan efek ledakan nuklir – nuklir dari selongsong senjata atomik yang saya sebut “media”, siapapun boleh mengkritisi dan siapapun boleh tidak sepakat, asal kita juga lebih tahu efek yang di hasilkan, dan harusnya kita juga yang faham betul bahwa media hanya media saja, sebuah objek bisnis yang berpegang pada prinsip ekonomi umum, mereka mencari untung sebanyak banyaknya dengan menjual hal – hal murahan yang kemudian memetamorfosekannya trend dan mempropagandakan bahwa itulah yang sedang jadi standart di kehidupan kita, lalu sampailah kepada kita yang akan ikut dengan arus tersebut atau tidak, cukup katakan “tidak suka” kalau memang tidak suka, karena suara mereka bukan merupakan mutlak suara kita. so…? To be infected or be filtered..?

========================================================

idealisme, bukan egoisme! bedakan!

2012-12-05-10-57-34

“Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik”

**** 

Terkadang sulit memahami sebuah pola pikir sesorang yang cenderung kontradiktif dengan latar belakangnya sendiri, kalau saja seorang punk rocker sekelas Milo Aukerman, Greg Graffin atau Dexter Holland  tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik, mungkin saya dulu sewaktu masih duduk di bangku perkuliahan merupakan mahasiswa yang masih mengikuti para hipster tua dan maniak organisasi yang katanya idealis itu untuk memperlambat tahun kelulusan saya.

Membaca sebuah issue di publikasi media lokal kemarin,saya sebagai seorang alumni perguruan tinggi tersebut sempat mengingatkan saya jauh pada saat saya baru mengenakan almamater dan di mana kita di kenalkan dengan lingkup politik di sebuah universitas, dan mau tidak mau dan kalau boleh di bilang terpaksa, ya saya jalani, ya,sebagai anak bau kencur saat itu saya pernah menjalani hari-hari sebagai aktivis di mana para senior yang sangat rajinya mengkaderisasi kami si bau kencur, dan mengkoordinir di setiap aksi-aksi,

Bukanya tidak begitu peduli, memang dasarnya saya yang tidak tertarik, tentunya saya melakukanya dengan setengah mata dan senyuman kecut, berkumpul dengan aktivis senior penyuka lagu-lagu top fourty dengan segala macam penampilanya yang lebih mirip seorang penyanyi genre melayu berpadu dengan atribut bluesy yang berkiblat ke eranya axl rose yang seram-seramkan, sangat tidak membuat saya betah,

Idealisme memang wajar berbunga di sana-sini dalam sebuah retorika kampus, saya setuju dan sangat memahami itu, berpegang kepada nilai-nilai demokratis, penyampaian aspirasi memang hal lumrah, akan tetapi  kalau sampai mengesampingkan esensinya sendiri tentang posisi kita di suatu perguruan tinggi itu untuk apa, tentunya tidaklah akan lahir Milo, Greg atau Dexter holland yang lainya di atas muka bumi Indonesia itu, bahkan idealisme tanpa akal sehat itu sama saja bunuh diri dan siap-siap saja jadi bahan tertawaan di warung kopi dan elusan dada miris seorang anak jalanan yang notabene tidak bisa menyentuh bangku perkuliahan karena kekurangan dana,

Mungkin harus ada takaran ideal untuk menjadi seseorang yang kritis, untuk menjalankan idealisme anda tidak perlu menjadi egois, karena pemikiran yang di dasari egoisme cenderung keluar batas kewajaran, karena setiap statement anda, seprovokatif apapun walau memiliki kekuatan realitas yang mutlak tetap terdengar sangat dungu, hal ini yang justru membuat sebuah sisi oposisi mudah untuk memutarbalikan keadaan, dan audiens dapat menilai itu.

Sepertinya bukan barang kemarin sore kalau kita mengetahui seberapa banyak mereka yang tak sanggup menuju dan mengenyam bangku perkuliahan, tak sedikit dari sebagian dari rekan-rekan yang mengorbankan barang-barang berharga hanya sekedar ingin mempunyai gelar, walau kelak berguna atau tidak gelar mereka yang penting perubahan pola pikir merupakan keutamaan, sebuah kebanggaan bagi mereka yang jauh-jauh merantau hanya untuk membanggakan orangtua mereka. Akan tetapi sebagian dari mereka mengorbankan egoisme fasik berlabel idealisme, ini bukanlah hal yang bijak, sama seperti  fundies fasis yang mengecam konsernya lady gaga, niat baik dengan cara yang salah merupakan hal konyol dan omong kosong.

Kalau ada yang membuat imprealis-imprealis dan para fundamentalis barat itu tertawa-tawa yaitu adalah keengganan bangsa kita untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dimana bangsa kita masih membutuhkan sebanyak mungkin kaderisasi yang edukatif, sebanyak mungkin yang bisa di produksi, berbahan bakar sebuah harapan dan cita-cita di situlah peran mesin diesel yang memutar gerigi-gerigi yang tak lelah-lelahnya memproduksi kaum intelektualis yang akan menggerakkan perekonomian, memberikan lapangan pekerjaan atau sekedar figuran kehidupan semu di kehidupan kalian semua.

Boleh saja kalau mau muak dengan sistem dan merupakan hal legal kalau ingin bersuara banyak, akan tetapi bersikaplah dewasa, karena umur kalian tidak bisa di bilang anak-anak lagi, bukan seseorang manja yang kalau tidak di beri permen akan mogok makan, ingat, idealisme tidak harus memaksakan egoisme, kalau memang tidak mau repot atau di repoti dengan persoalan akademisi, mending hijrah saja, silahkan masukan CV kalian ke leasing atau perusahaan sawit yang lebih butuh tenaga instan, tetapi kalau mau turun jauh mengkritisi, lakukan dengan hormat, lakukan sebagai seorang dewasa intelektual yang punya harga diri

Meskipun saya bukan seorang aktivis, dan dulu saya lebih sering menuliskan ketidaksukaan saya dalam bentuk zine yang tersebar, sebuah propaganda satir yang berbahasa sarkasme yang tercopy hingga ratusan buah, mulai dari kampus, sekolah hingga distro-distro dan warung kopi,  yang mengungkapkan sebuah makna amarah dalam diam, kesalnya saya dengan ulah pekerja tata-usaha sampai objektifitas dosen dalam memberi nilai, kita boleh marah asal tidak merugikan orang lain, apalagi justru membuat kita terlihat lebih dungu dari status kita sebenarnya, bukan itu hakekat dari sebuah perjuangan, bahkan sampai sekarang saya masih senang menuliskan apa yang saya lihat, karena bagi saya Nyala lilin itu redup, tetapi cukup untuk menerangi ruangan di kala gulita, dari pada membakar rumah sendiri hanya untuk menerangi seluruh desa.

========================================================

call him Tony, gold man from San Jose

“Tony sly, you wrote some solid songs. When we were just starting out, you generously let us crash your hotel floor. Stay gold man. Godspeed.” (the ataris) / “One of my dearest friends and favorite song writers has gone way too soon. Tony, you will be greatly missed. (Fat Mike)

————————————————————-

 

 

photo : thepunksite

Tony Sly merupakan salah satu asset dalam perkembangan post punk/punk rock/skate rock dekade 90an hingga era 2000an, meski bukan seorang big fans, atau penggemar berat tetapi saya tetap mengapresiasi No Use For A Name sebagai salah satu band punk rock yang terbaik. Beberapa track sering menemani ruang dengar saya, meski tak sesering track – tracknya mxpx, greenday era 90an, new found glory atau dropkick murphys, dan tentunya berita yang saya dapat pada awal bulan agustus 2012 itu cukup mengagetkan saya, Tony sly meninggal dunia!, ya Tony Sly…..yang biasa saya dengar track dumb reminder dan sebuah cover “redemption song” nya pakai headphone sambil naik motor matic saya mengelilingi jalan – jalan kota Pontianak.

Menggantikan John Meyer, di tahun 1989 Tony mengambil alih posisi Vokalis, tepat 2 tahun dari berdirinya band San Jose tersebut, dan selanjutnya menjadi ikon utama dari no use for a name karena band ini cukup sering gonta – ganti personel, dan Nufan sendiri merupakan salah satu band tersukses dari label fat wreck chord dan hampir semua album nufan merupakan rilisan dari label itu semenjak bergabungnya dengan labelnya Fat Mike itu pada 1993, dan ini yang menjadi nufan merupakan band punk rock komersil yang menggunakan rilisan indie, tidak begitu gampang untuk sebuah band punk yang menjadi idola para punk rocker dan teenlite untuk tidak tergiur dengan godaan label besar yang mainstream, setidaknya hal inilah yang membuat nufan lebih jujur dalam memproduksi musik.

Sebuah interview menarik dengan Tony oleh Dustin Blumhagen,   menggambarkan pendapat seorang musisi punk rock era 90an mengenai Fat wreck dan Epitaph, di mana Epitaph bukan lagi sebuah label yang nyaman lagi untuk band – band punk, karena difersifikasinya membuat banyak musisi emo dan screamo yang yang di tetaskan oleh label yang besar dengan identitas lawas punk rocknya itu,  Tony menambahkan berbeda dengan Fat wreck, yang lebih loyal menaungi band – band punk rock, dan tentunya perkembangan musik indie yang justru di nilai membingungkan para pendengar, di mana adanya myspace dan facebook membuat era di mana membuat dan mendistribusikan band menjadi lebih gampang, hell yeah

Everybody is handing you their demo calling it a record just because they made some pretty album art on their computer. That’s not a record, that’s just a really nice looking demo. You have to work to make a record. You have to be good to make a record. You have to be recognized for your talent for someone to want you on their label. That’s what Fat Mike is like. You never hear the word demo anymore. That’s not a record.”

Saya cukup mengamini apa yang Tony keluhkan, dan gak gampang membuat punk rock menjadi punk rock lagi sama seperti saat mereka pertama kali masuk studio di akhir 80an, di mana harga diri punk rock terjabarkan lebih umum, tidak ada lagi sekat – sekat skena dan mainstream di mana – mana kita bisa menemukan metalhead dan riot girl eksis, di mana skate rock di dominasi band band disco punk dengan, sebuah generasi yang menterjemahkan skate rock itu dengan sampling dan Synthesizer sehingga Kepergian Tony sendiri membuat nufan harus ekstra keras mempertahankan karakter musiknya, dan sangat di sayangkan yang pergi itu merupakan ikon, baik karakter vokalnya sampai konsep band tersebut, dan nufan itu sendiri terkenal dengan personilnya yang gonta – ganti.

yeeeah setidaknya fans mengharapkan bukan perbedaan tajam konsep yang yang di dengar di track – track nufan di era vokalis baru, dan tentunya buah pemikiran Tony dengan Punk dan Fat Wrecknya masih bisa di sandang nufan pasca vokalis yang baru, bukanya malah menggadaikan diri kepada label besar dengan seabrek feedback yang menggiurkan, industrial biarlah menjadi indusitrialisi karena saya sudah cukup senang dengan nufan yang sekarang, so keep it damn right sure!, so rest in peace folks, you will be remembered.!

========================================================

basket case, punk rock and coke

Beberapa waktu lalu saya menemukan EP -Greenday “dookie” di kamar teman saya, big surprise for me, karena entah kenapa nuansa romansa romantika saya dengan musik yang bernama punk rock itu bersemi lagi dengan pandangan saya, ibarat kita yang dulunya pernah marahan tapi akhirnya lama gak bertemu dan sekali bertemu dengan seseorang dia sudah balik menjadi seseorang yang saya inginkan, memang greenday yang kita kenal sekarang bukan sebuah fenomena massive lagi, sekedar band biasa memproduksi musik secara komersial dan mainstream, tapi taukah kita bahwa sebelumnya bahwa greenday merupakan sebuah fenomena di mana kita yang pernah remaja di masa 90-2000an merasa bangga bahwa identitas itu tidaklah di representasikan hanya dengan lagu lagunya slank, boomerang atau gun n roses yang menurut saya  monoton – monoton saja,

Mungkin saya masih ingat ketika track “basket case” meraung raung di radio – radio, bersimbiosis dengan mendtrendsetternya sepatu kets converse, greenday muncul dengan varians baru ruang dengar kami, di mana billie joe tidak menggambarkan punk rock secara harfiah dan empiris, tetapi membawa lifestyle yang gak kalah absurdnya dengan skema punk itu sendiri, dan punk di translasikan dengan identitas berbeda dan dinamis, dengan bentuk perlawanan yang berbeda, bukan dengan wujud antara mereka yang termajinalkan melawan standarisasi hidup, tetapi lebih nyata terhadap fashion, dan mainstream. Ah…andai bisa kembali ke masa itu mungkin saya bakalan mengenang bagaimana saya menghiasi gitar dan papan skate saya penuh dengan stiker – stiker gak jelas gara gara terinspirasi fender-nya Billie Joe

Satu yang tidak bisa lekat, greenday akrab dengan kami yang saat itu berasal dari kalangan pelajar yang masih dalam tuntunan kehidupan yang sedikit nakal tapi tanpa hal negatif, of course, kami suka dengan greenday karena musik dan fashion yang mereka bawa, so kami gak mengadopsi budaya, Blood sex and booze mereka, karena sampai sekarang pun bagi saya minuman keras bukan hal yang baik bagi saya, sehingga menikmati sensasi musik itu sendiri sudah menjadi drugs paling berbahaya bagi saya, lalu apakah hal absurd yang saya lakukan, tentunya dengan iringan track seperti she atau nice guys finish last dan berkaleng kaleng minuman soda sisa lebaran di kamar dengan teman – teman merupakan hal keren bagi saya, yeaahh, greenday, and coke is a good friend when were in skateboard, band studio until classroom, so I think I use to have wonderfull life become great lifestyle

Dookie sendiri rilis pada Februari 1994, menuai lebih sukses ketimbang album sebelumnya kerplunk 1992, melalui Reprise record dan di produseri oleh Rob Carvallo dan Greenday itu sendiri, dan hampir semua track di album ini bernuansa modern punk rock, yang sangat dinamis, minimalis dan easy listening, saya hampir suka dengan semua tracknya, seperti Basket Case, Sassafras Roots, She, Having A Blast, Pulling Teeth sampai when I come around,. Yeaah, bukanya sekarang saya gak suka sama Greenday, Cuma mungkin apa yang saya rasa dari apa yang saya dengar dari karya – karya mereka di atas tahun 2004 sangatlah berbeda dengan apa yang saya rasakan di album – album terdahulu mereka. Dan saya rasa jika music suatu band itu berubah sebenarnya wajar – wajar saja, karena tingkat kedewasaan dan pola pikir manusia yang berubah seiring perkembangan jaman dan usianya, so kalau begitu ada dua Greenday dong, yang dulu dengan yang sekarang..? yup bagi saya memang seperti itu saya hanya suka Greenday yang dulu, hingga tempo album mereka warning, setelah itu mungkin saya tidak begitu mengenal mereka, dan saya terlalu malas untuk berkenalan lagi, akan tetapi soal perbedaan karakteristik saya memakluminya, karena mungkin saya juga mengalami hal – hal serupa, dan mungkin saya juga bisa menjadi sosok yang berbeda di tempo yang berbeda pula, dan teman – teman saya sudah sangat sering menyadari hal ini.

=========================================================

punk rock terdomestikasi..? hahahahahaa……its fun! Hei ho lets go…!

——————————————————————–
Well the kids are all hopped up and ready to go/ They’re ready to go now/ They’ve got their surfboards/ And they’re going to the discotheque a go go/ But she just couldn’t stay / She had to break away /Well New York City really has it all / Oh yeah, oh yeah  (Sheena is a punk rocker the – ramones)
“ I don’t need to advertise my punkness, A real punk doesn’t need to show off,….it`s like a karate man, the karate man bleed on the inside, Areal punk is on the inside”  (mark hoppus)
——————————————————————–

manusiawi jika istilah “Punk hari ini”, ternyata enggak bisa di terima berbagai kalangan, termasuk mereka yang berkecimpung di dunia bawah tanah, yang membiasakan diri dengan aktivitas – aktivitas full anarchy ,anti otoritarian dan sebagainya, entah dalam wujud apa seolah ada sekat antara penikmat punk di dunia yang di buat seolah engak sama, walau pun kita tetap meng-amini bahwa tidaklah ada individu yang punya karakter sama, itu namanya “mutlak”

sebenarnya memang sudah dari dulu juga memanglah tidak sama antara karakter punk (ideology) dengan musik punk, mereka ibarat 2 sisi mata uang logam, berbeda, tetapi bukanlah hal yang bisa di pisahkan. Bagi kita yang mengenal punk dari jamannya mxpx, greenday, blink 182, no use for a name atau the offspring mungkin kita adalah generasi ke 3 (atau saya pernah dengar istilah the third world of punk) setelah dekade 70 dan 80an, di mana musik punk telah bukannya memisahkan diri, tetapi membawa unsur –unsur yang tidak sama dengan di mana punk itu sendiri muncul, akan tetapi sudah barang pasti band-band yang saya sebut di atas dalam sepak terjangnya banyak terinspirasi dari band era 80an seperti dead kennedy`s, dan yang lainya.

hey, this is blink (now we know it blink 182) ini gigs pertama mereka di tahun 1993, saat itu mereka banyak membawakan lagu lagunya nofx dan band band punk 80an

Sebagian besar band – band punk rock dekade 90an amerika merupakan alumni dari Epitaph label, sebut saja ya itu tadi Nofx, Pennywise, Social Distortion atau the offspring dsb, di mana epitaph mulanya menampung band – band dengan karakter politis, walau ada perubahan haluan di mana band – band ini banyak di gandrungi remaja di amerika saat itu, nofx misalnya, akhirnya Fat Mike dengan label Fat Wreck chords nya, hellcat records, geffen dan sebagainya, yang menaungi banyak band dengan musik punk rocknya

hey, ini nofx di gigs tahun pertama mereka di era 80an

Saya berbicara tentang bagaimana musik punk – rock dekade 90an mengintegrasikan subkultur yang berbeda, dan mereka juga mempropagandai subkultur itu ke penjuru dunia, band punk rock 90an, membawa subkultur sendiri melalui musiknya secara tidak sengaja, tanpa ada kesan dipaksakan, seperti fashion, brand, skateboard bahkan lifestyle, ini lekat hubunganya dengan bagaimana punk era 70an juga mempunyai budaya tersendiri ketika mereka lahir dari kondisi yang berbeda, tentunya ini berpengaruh terhadap apa yang mereka sampaikan secara tidak langsung, mereka sama sama lahir di sebuah kondisi dan jaman yang memaksakan mereka untuk melahirkan sesuatu yang memang seperti itu

Salah satu kultur yang mereka bawa antara lain adalah skateboard , banyak band punk rock yang muncul di dekade 90an lekat sekali dengan brand – brand skate, mulai dari outfit hingga sneakers, sebut saja vans of the wall, entah kenapa, sneaker skate itu melekat di kaki mereka, vans sendiri yang kemudian mengendorsement band – band yang rata – rata beraliran post punk ataupun punk rock itu sendiri dalam sebuah parade yang kita kenal sebagai vans – warped tour di amerika sana, warped tour sendiri  pertama kali di gelar pada 1993 dan di buat oleh Kevin Lyman, tidak hanya punk rock yang di paparkan pada warped tour tetapi juga ska, atau metalcore, dan konon band – band seperti blink182, nofx, the mighty-mighty bosstones atau the vandals  lebih di kenal karena mereka pernah manggung di sini, dari komunitas2 ini pula munculnya scene yang kita sebut emo (musik).

Sebenarnya musik punk – rock (n roll) juga bukan hakiki di miliki sang generasi ke 3 era 90an, boleh jadi saat kita mendengan nama the ramones atau G.B.H, ,mereka adalah band punk rock era 70-80 yang tak selalu menyuguhkan lirik – lirik politis buat telinga kita, bahkan skateboard sudah lekat pada punk n roll jaoh sebelum era 90an, seperti lirik the ramones yang di atas “They’re ready to go now, They’ve got their surfboards
And they’re going to the discotheque a go go”
mereka menyebut istilah skateboard yang kita kenal sekarang, saat itu di kenal dengan istilah “surfboard” yang mungkin orang banyak mengenalnya di jaman mereka. Dan, jelas lagi munculnya the ramones banyak menginspirasi band – band punk rock dekade 90an akrab dengan kultur tersendiri, yang memisahkan mana musik punk dan budayanya, dan mana ideologi punk dengan musiknya ,

Punk rock mengusung musik dengan irama yang dinamis, mengedepankan beat dan distorsi gitar yang meraung raung, lirik lirik yang bertema kehidupan sehari-hari, protes, punk rock berintegrasi lagi dengan subkultur dimanapun tergantung tempat mereka tumbuh, dropkick murphy`s misalnya dengan irish punknya,

Tetapi tidaklah mudah membaurkan punk rock dengan mainstream, karena punk rock selalu mempunyai karakter sendiri, apapun jenisnya walaupun tidak selamanya menganut pergerakan anti-otoritarian, sama dengan scene musik indie lainya, transformasi punk dengan pop tidak dapat di elakkan, walau sebatas musik akan tetapi percampuran ini membuahkan hasil beberapa scene seperti melodik punk, atau punk pop, tapi ketika mereka masih bisa bermusik seperti musik yang mereka perjuangkan sebelum mereka banyak di kenal luas, di mana musik ini mulai di minati sebagian besar manusia di muka bumi, punk rock pun mulai keluar dalam konsep industrialisasi musik tidaklah menjadi sebuah hal buruk, punk rock bukanlah identitas, tapi punk rock itu mutlak kepemilikan, kepemilikan apa? Kepemilikan kita sebagai pendengarnya, kita yang menggemarinya, kita yang hobby headbangers di sebuah gigs, kita yang berjuang mati matian bekerja keras untuk menabung uang yang kemudian di belikan tiket konser band punk rock idola kita,

Punk rock itu kepemilikan bagi siapa saja yang tergila gila dengannya, yang jatuh hati denganya, yang terbiasa bersuka ria dengannya, yang menjadikan punk-rock sebagai soundtrack hidupnya, yang menangis bersamanya, berjuang bersamanya, yang menemani hari hari kebersamaan dengan teman teman. bukan identitas bagi sekelompok orang yang mengklaim punk rock di nilai dari sudut pandang egoisitas mereka, punk rock tau caranya bersenang senang di tengah langkah hidup yang semakin berat, jangan salahkan ketika punk rock bertransformasi, karakter siapa saja tidaklah sama, tidak ada standarisasi yang mutlak berkata its not-punk that’s real punk, its fake punk, that the roots, karena punk rock tau caranya untuk bersenang senang, menyatukan berbagai individu dan golongan dalam satu eforia dan sama sama berdansa menuju sebuah titik nol kesenangan kita semua, bukan di nilai dari sekat – sekat yang justru di rasa tidaklah perlu

So, bagi saya musik punk dan budayanya, dan ideologi punk dengan musiknya merupakan 2 hal yang berbeda, tetapi janganlah di bedakan, karena musik adalah obat bius kita semua yang mengantarkan kita semua mencari sebuah kesenangan dan punk rock tau caranya bersenang senang…so yang namanya musik itu di mana – mana di belahan dunia mana sekalipun tetap saja bertransformasi, kita semua bukan individu yang tak selalu apatis bukan, so cuma masalahnya kitanya saja yang mungkin suka atau tidak suka….

hey ho  lets go!

(note : all picture is find by googling and blogzines / i dont have any claim or copyright to use this picture, so with this articles i submite a permission to use this, except nofx by nofxofficialwebsite.com, thank you)