saya (mungkin juga kamu) dan benda bernama “radio”

ria scene (25)

“dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita”

 Terkadang sebuah memorabilia bisa saja memiliki nilai historisnya tersendiri, sebagian teenlite masa 60an di masa senjanya mungkin mengharta karunkan piringan hitam “Please Please Me” nya the beatles saat masih menggunakan label Parlophone, walau bahkan mereka mesti bertahun-tahun untuk mendapatkan rilisan terawal dari band asal Liverpool tersebut, sama halnya dengan saya, walau terlahir jauh dari dekade nenek dan kakek saya masih memakai cutbray dan rok polkadot tersebut, bukan berarti tidak pula saya tidak bisa menemukan sebuah memorabilia yang bisa membangkitkan romatisme kisah tersendiri

Kalau boleh mentinta hitamkan sebuah memorabilia tentu saja saya akan mensejarahkan radio-radio dan mini kompo saya yang merupakan benda keren yang di punyai anak laki-laki remaja pada tahun90-2000an, dulu sebagian dari kita merasa keren dengan compo dan radio itu jika mereka terpajang dengan manisnya di kamar-kamar kita, sama seperti saya yang meletakkan radio saya di bawah posternya limp bizkit dan Michael  Jordan di atas lemari pakaian saya yang mini.

Seolah di kekang dengan keterbatasan dan menjadi pendengar dengan kacamata kuda, entah berapa banyak waktu dalam sehari yang kita habiskan dengan sia-sia hanya untuk menunggu sebuah lagu dari band yang kita suka, dan dalam penantiannya berjam-jam kita membayangkan rupa asli dari seksinya suara penyiar radio yang bertahun kemudian kita menemukan sosoknya dari facebook, dan sambil bergumam, “ooh begini rupanya muka mbak itu…”

Mahalnya harga compact disc dan keterbatasan player yang saya punya tak lekas membuat saya untuk langsung memilih membeli album band favourit saya, kalaupun ingin sekali saya lebih memilih mengkoleksi kaset –  kaset mereka,  dengan rata-rata harga kaset luar negeri 20 ribu rupiah, yang ujung-ujungnya belum tentu kita menyukai semua track dalam album tersebut, atau mungkin kita hanya mendengarkan satu atau dua track, sisanya bahkan terlupakan.

Entah sia-sia atau tidak gara-gara tertarik dengan “shinning light” nya ash yang berkali-kali di putar di radio, saya merelakan uang 20ribu yang di masa itu sangat mahal untuk membeli free all angels milik mereka, dan sudah di prediksi ya saya membeli album mereka hanya untuk mendengarkan album yang itu. Bukanya saya berpendapat track yang lain tidak bagus, tetapi ya memang saya hanya menyukai track yang itu saja, tidak hanya itu tentunya, ada pula sugar-ray dengan when its overnya, yang saya hanya dengar ya hanya “when its over” dan “answer the phone”,atau Eminem dengan “without me” nya dan sebagainya.

Merupakan hal yang wajar ketika kita tidak menyukai hampir semua track dalam sebuah album band, karena kita hanya mendengarkan sebuah hits yang selalu menjadi primadona di radio, yang juga merupakan salah satu marketing strategicnya sebuah label besar agar album band-band yang mereka jual itu laku di pasaran, apa yang di putar di radio yang saya tunggu berjam-jam sehari itu yang namanya hits atau lagu jagoan, jadi apa yang melekat di benak kita ya memang hanya lagu itu,

Kalau membajak itu merupakan kriminal, entah berapa orang yang merekam track yang mereka suka yang di putar di radio pada kaset kosong, hal ini mungkin di rasa lebih menghemat pengeluaran untuk tidak dipaksa membeli album yang mungkin lagu yang di sukai hanya sebiji atau dua biji, akan tetapI dengan kualitas suara lebih buruk, memanglah kita tidak merasa puas,

Hadirnya invasi internet agaknya menepikan peran radio sebagai standart nilai selera musikalitas pendengarnya, internet menawarkan pra-dengar playlist dalam sebuah album, album apa saja, siapa saja dan dari belahan dunia manapun, ratusan referensi playlist-playlist menarik yang luput dari publikasi rolling stone atau Mtv era sekarang,

Tidaklah buruk ketika kita berkata jika sebuah invasi dari domestikasi teknologi membuahkan simbiosis mutualis sehingga kita bisa memutuskan track mana yang bisa membuat kita jatuh cinta dalam sebuah album, dan agaknya radio juga harus merubah strategi agar tidak di tinggalkan pendengarnya, karena seolah dapat mukjizat ketika kita bisa bebas mengunduh track yang kita suka, tanpa harus keluar biaya, selain biaya internet, dan kita tak perlu takut lagi harus mendengarkan track yang kita tidak suka dalam suatu album.

Akan tetapi dengan munculnya internet tak lekas membuat radio itu tenggelam, atau mungkin saya saja yang tidak terlalu menyimak mereka, mereka tetap menyuguhkan track-track fresh dan top 40`s sebagai referensi pendengar, sebagian radio juga sangat membantu mempromosikan dan mendistribusikan beberapa label rekaman independen dan kolektifan yang bisa menjadi referensi untuk pangsa marketnya tersendiri, walau dengan seribu kali sayang mini kompo dan beberapa radio saya yang dulu membuat kami merasa keren kini sudah rusak, lenyap tanpa tersisa secuil bangkai pun,

Bagi saya sendiri mendengarkan radio dengan gadget yang lebih modern tak semenarik dulu, tak semenarik radio saya dengan fisiknya yang unik yang selalu saya anggap teman baik di kamar, sebuah benda bersuara yang di lengkapi lampu berwarna, dengan sticker parental advisory di satu sisi dan logo anti-flag di sisi lainya, radio yang dulunya mengenalkan saya dengan sepultura, mushroomhead, crazytown greenday atau blink 182, yang membuat saya rela menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk menunggu di putarnya lagu band kesukaan saya dan memutarkan sms yang saya kirim, sampai membayangkan seperti apa wujud penyiar yang kita dengar suaranya, Yah, setidaknya setiap generasi menemukan romantisme tersendiri dengan gadget mereka yang semakin modern,  seperti saya dan radio-radio saya dulu. (mcft)

========================================================

Iklan

suara media massa bukan suara rakyat

uprock83 – doc

Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa   ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu”

******

Saya termasuk salah satu yang cukup update dengan tulisan-tulisanya Herry Sutresna,  baik berupa blog maupun media lain, mengingat saya juga penggemar hip hop 90an dan beliau mengetahui banyak skena hip hop era 80an di mana di era itu saya masih balita. Walau tidak semua referensi beliau cocok dengan kuping dan passion saya tentunya, well, kesempatan baik membaca sebuah tajuk dari newsletternya mas Herry – Uprock83, “suara rakyat bukan suara tuhan”, sebuah opini yang membuat saya juga ingin berpendapat, yeah saya mengamini tulisan mas Herry sendiri, saya kasih point 100 untuk artikel ini, setidaknya ini menghapus dosa – dosa beliau dengan beberapa artikelnya yang menyebalkan,

Mengutip pendapatnya Christipher R Weingarter yang berpendapat twitter merupakan perwakilan mayoritas yang bukanlah parameter musik yang layak dengar dan mengesampingkan siapa itu Jay Z dan Kanye west dalam artikel beliau yang notabene saya kurang mengenal musik mereka selain dari tajuk billboard dan media seperti Yahoo dan MTV, maka tidaklah salah ketika saya berpendapat jika media massa (tv, radio, majalah- majalah trendsetter dan musik dan lainya) merupakan salah satu biang kerok lahirnya mainstream yang di sebut industri musik, dengan menggenalisir selera musik secara umum dan mempromosikan trending fashion-fashionnya secara berlebih-lebihan, bertubi – tubi sehingga secara tidak langsung mendoktrinasi audiens untuk menjadi bagian dalam kesatuan trend yang tumpang tindih dan kurang jelas, bahkan sangat buruk.

Memang ada baiknya ketika media di jadikan sebagai objek ajaib yang menyuguhkan berbagai macam hal – hal edukatif sampai informasi terkini dan pengetahuan, tetapi peran komersialisasi media di dunia showbiz dan entertaintment justru menjadikan bom nuklir yang mengkontaminasi, seribu kali lebih parah dari reaktor nuklir di chernolbyl, yang tak hanya melahirkan mutant – mutant hidup dalam fisik yang normal, dan kita masih saja sampai di cekoki oleh hal – hal mainstream tersier seperti acara gossip, pencarian talent bakat, reality show sampai acara musik lipsync yang membuat dahi berkerut dan tak henti – hentinya saya terkadang mengumpat, “apa sih mutunya acara kaya gini,…tontonan apa ini..?”

Tidak habis berpikir saya, Justru ketika kita di hadapkan dengan fakta bahwa ekonomi sekarang sedang sulit – sulitnya di tambah masyarakat yang semakin tidak menentu, kemiskinan, ketidakadilan hukum,  anak- anak kita justru di di doktrinasi oleh kehidupan hedonisme yang menggambarkan kehidupan dunia ke 2, penuh selebrasi selebritas, trending korporasional budaya konsumerisme dan panggung hiburan semu yang di penuhi oleh artis – artis berpengetahuan pas – pasan yang tak lelah – lelahnya berdendang lagu cinta – cintaan, dan bersinergi dengan mainstream yang memfatwakan bahwa masa bercinta itu adalah masanya anak muda lalu puas – puaslah bercinta, ouw, whats on earth cunt shit folks!

Keping – keping domino pun terus berjatuhan hingga akhirnya saya bakal kebosanan sendiri ketika mendengar radio, lagu yang sama, jenis yang sama dan entah bagaimana rasanya menikmati lagu yang mendayu – dayu yang konon di gemari oleh ABG itu, dan saya cukup merasa bersyukur bukan lagu seperti inilah yang di dendangkan pejuang – pejuang kemerdekaan dulu, apa jadinya jika band – band semodel d,massive, sm*sh atau kangen band apalah itu sudah ngetop di jaman penjajahan, dan saya tidak cukup yakin Negara kita bisa menjadi merdeka.

Lalu kepingan domino berlanjut menghantam mentalitas pemuda, pemuda itu seharusnya menjadi pioneer pergerakan dan indikator tonggak pembangunan, bukan manusia yang dijadikan apatis dengan konsumsi yang menjadi formula pemikiran serba praktis, gak mau hidup susah tapi gak mau susah – susah, cukup berharap jadi selebritis hanya dengan ikutan talent show,atau upload video di youtube dan casting selebritis berisi pepesan kosong mimpi selebrita yang mendisplaykan kepopuleran dan uang yang jatuh dari langit dalam waktu satu malam, tak sedikit kisah yang berakhir dengan gilanya sang selebritis gak jadi itu dengan amblasnya uang puluhan juta, dan saya hanya bisa geleng – geleng dan berkata, yah memang mimpi, tapi itu mimpi buruk…selamat..hahaha!

Apa yang di beritakan media bukan presentasi kondisional dari seluruh audiens yang ada, bahkan mungkin tidak setengahnya bahkan seperempatnya, mungkin pendengar radio tidak seluruhnya menyukai band-band melayu jaman sekarang, karena ya hanya radio itu yang punya statement kalau lagu seperti itu merupakan lagunya anak muda jaman sekarang,…wow! Seolah tidak punya pilihan media – media seperti ini yang mensetting pola pikir audiens, mungkin separuh pendengar radio sangat menanti track – track dari metallica, the beatles, the cure atau bahkan John Denver, yang justru track seperti itu sangat jarang di era semua volume mendendangkan, “baby-baby”,” you know me so well” atau tracknya tetangga saya sekarang yang dengan pedenya memutar keras – keras “Seringkali kau merendahkan ku. Melihat dengan sebelah matamu. Aku bukan siapa-siapa. Selalu saja kau” dan sekarang saya harus men-turn up kan amazing gracenya dropkick murphys yang jadi penawar kontaminasi polusi suara akibat musik tetangga saya itu

Dan akhirnya blok-blok domino yang berjatuhan pun menuju reruntuhan paling akhir, yaitu filter diri sendiri, karena kita merupakan end user dari sasaran komersialisasi tersebut, kita tahu itu buruk dan kita juga bukan mutant hasil dari reaksi kimia berlebihan efek ledakan nuklir – nuklir dari selongsong senjata atomik yang saya sebut “media”, siapapun boleh mengkritisi dan siapapun boleh tidak sepakat, asal kita juga lebih tahu efek yang di hasilkan, dan harusnya kita juga yang faham betul bahwa media hanya media saja, sebuah objek bisnis yang berpegang pada prinsip ekonomi umum, mereka mencari untung sebanyak banyaknya dengan menjual hal – hal murahan yang kemudian memetamorfosekannya trend dan mempropagandakan bahwa itulah yang sedang jadi standart di kehidupan kita, lalu sampailah kepada kita yang akan ikut dengan arus tersebut atau tidak, cukup katakan “tidak suka” kalau memang tidak suka, karena suara mereka bukan merupakan mutlak suara kita. so…? To be infected or be filtered..?

========================================================